Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 43/II/28 Nopember-4 Desember 99
------------------------------

MUKTAMAR

(LUGAS): Meskipun kurang menarik, Muktamar NU di Lirboyo, Kediri begitu
ramai dibicarakan orang. Media massa, cetak maupun elektronik, setiap hari
melaporkan secara detil perkembangan yang terjadi dalam muktamar. Berbagai
organisasi masyarakat maupun LSM pun jauh-jauh hari telah mengajukan diri
sebagai peninjau kegiatan tersebut.

Dari sudut pandang pemberitaan, sebetulnya tak ada yang benar-benar istimewa
di sana. Tak ada kejadian-kejadian heboh, tak ada pula money politics
besar-besaran seperti terjadi dalam pertarungan menjelang pemilihan presiden
Oktober lalu. Lalu, calon Ketua PBNU pun tak menjamin bisa memuluskan jalan
menuju kursi presiden. Dibandingkan dengan yang lalu, Muktamar 1994 di
Cipasung, jauh lebih 'heboh'. Ketika itu, nyata-nyata ada upaya pemerintah
untuk menggusur kepemimpinan Gus Dur dan menampilkan Abu Hasan, kendati
kemudian gagal.

Kalaupun ada yang menarik, paling-paling adanya ide untuk mendorong
pesantren lebih memikirkan basis material -supaya ulama-ulama NU tak mudah
dimanfaatkan oleh kekuatan politik tertentu yang menawarkan dana besar.
Namun, ini pun tak layak jadi berita besar.

Lalu, apa yang membuat hajatan NU ini penting? Karena saat ini presiden RI
berasal dari NU -sehingga, sebagaimana Golkar yang jadi alat pengumpul suara
terbanyak rezim Orba, NU pun akan diproyeksikan ke sana? Atau, sekedar
karena  organisasi Islam terbesar di tanah air? Barangkali ya, barangkali tidak.

Dengan menggunakan paradima berpikir seperti tadi, sesungguhnya memang tak
ada yang luar biasa. Ini sekedar seremonial belaka. 

Muktamar NU akan jadi penting, bila mampu merumuskan peran organisasi besar
ini sebagai motor modernisasi Islam dalam milenium mendatang. Di penghujung
abad ini, ketika Indonesia dihadapkan pada berbagai pertikaian berlatar
belakang fanatisme agama, NU sungguh diharapkan mampu menampilkan sosok
"Islam substansial" -bila menggunakan bahasa Romo Mangun: agama yang mampu
menelurkan 'religiositas', bukannya memapankan formalisme. Bila ini
dilakukan -dan mungkin saja, mengingat begitu banyak bermunculan cendekiawan
brilyan NU pasca Gus Dur-, akar persoalan pertikaian agama di Indonesia,
bisa tercerabut perlahan-lahan. Reputasi NU sebagai 'legitimator' kebijakan
pemerintah pun dapat ditanggalkan.

Barulah dalam posisi demikian, NU akan mampu mengkritik Gus Dur. Tanpa ada
'kesejajaran' ini, Gus Dur terlalu 'tinggi' bagi orang NU untuk dikritik.
Nah, selamat bermuktamar. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke