Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 43/II/28 Nopember-4 Desember 99
------------------------------

MENAGIH UANG LELAH

(POLITIK): Hati-hati dengan pembagian duit. Sebab gara-gara pembagian tak
rata, sebuah jaringan aksi seperti FPI bisa terbongkar.

Pasca Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Oktober-November
lalu, bukan hanya meninggalkan kedongkolan bagi para pendukung mantan
Presiden BJ Habibie yang terpaksa menelan pil pahit kekalahannya akibat
ditolaknya pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie dan mundurnya secara
terpaksa BJ Habibie sebagai calon presiden berikutnya.

Tapi, juga kedongkolan akibat pembagian duit yang harusnya diterima para
cecunguk BJ Habibie itu, sampai sekarang belum diterima  secara utuh, juga
jumlahnya tidak sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan para operator
lapangan Tim Sukses BJ Habibie menjelang Sidang  Umum tersebut. 

Sebab itu, bukan hanya para pendukung BJ Habibie saja yang -tidak tahu malu-
saling berkelahi memperebutkan fulus meskipun BJ  Habibie gagal merebut
mahkota kekuasaan, tapi juga menimpa para cecunguknya di lapangan yang
kadung dimobilisir ke jalanan. Karena memang, para cecunguk inilah yang
secara fisik sudah dimanfaatkan tenaga dan waktunya untuk menahan laju
ribuan mahasiswa dan rakyat serta para pendukung calon presiden lainnya dari
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri. Yang
baru mereka terima adalah nasi bungkus dan uang saku yang berkisar antara
Rp5.000-Rp20.000 per hari. 

Sebetulnya, keributan dan perebutan fulus itu tidak terdengar ke permukaan,
apalagi sampai tercium oleh pers. Kalaupun terdengar hanyalah sebatas di
basis-basis mobilisasi massa di kawasan Tanjung Priok dan pinggiran Jakarta
lainnya. 

Namun, karena perebutan fulus ini tidak selesai di tingkat internal, mau
tidak mau persoalan ini muncul ke media massa. Berita ini berawal dari
pengaduan aktifis Front Pemuda Islam (FPI) Syarif, warga Tanjung Priok, ke
Polres Metro Jakarta Pusat di jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu,
(10/11) lalu. 

Syarif, mengaku menjadi penghubung atau "public relation (PR)" ke berbagai
pejabat Pemerintah Daerah (Pemda) DKI, seperti Sekretariat Wilayah Daerah
(Setwilda) DKI, untuk menyetor dana bagi penggalangan massa FPI menjelang
Sidang Umum MPR, lalu. Setelah mendapat setoran dana sebesar Rp200 milyar,
uang yang harusnya dibagi-bagikan untuk biaya lapangan dan biaya para
operator lapangan, ternyata digelapkan oleh salah seorang aktifis FPI
lainnya yang bernama Hasyim. Maka, Hasyim-lah yang menjadi obyek pengaduan.

Kepada polisi, Syarif (29) yang tinggal di Delta Serdang, Kemayoran, Jakarta
Pusat, itu menyatakan, penggelapan terjadi pada 2 November lalu setelah
Hasyim mencairkan uang tersebut dari Bendaharawan Setwilda DKI Jakarta.      

Sebagian atau sekitar Rp70 juta dana, yang dalihnya untuk Pendidikan dan
Pelatihan (Diklat) Pengamanan Sidang Umum MPR 1999 bantuan Pemda DKI Jakarta
digelapkan oleh Hasyim (35). Awalnya, menurut Syarif, Polda Metro Jaya
meminta cabang FPI yang bermarkas di Tanjung Priok untuk merekrut 5.000
tenaga pengamanan SU MPR 1999. Dari 5.000 massa, pengurus organisasi itu
hanya mampu merekrut 3.000 orang dari lima wilayah DKI. Pada 10 September
1999 Panitia Bersama Diklat yang menggunakan alamat Polda Metro Jaya itu
telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di Sekolah Polisi Negara
(SPN) Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Dari 15 angkatan yang direncanakan,
akhirnya hanya diselenggarakan delapan angkatan. 

Syarif mengaku ditunjuk menjadi PR oleh salah satu pengurus FPI dengan tugas
mendistribusikan proposal pencarian dana kepada calon-calon donatur. Untuk
itu, ia melobi Kepala Direktorat Sosial dan Politik Pemda DKI Dodi Sudarno,
Asisten Setwilda Tursandi, dan staf-staf Pemda DKI. Usahanya membuahkan
hasil karena Pemda DKI bersedia memberikan bantuan Rp200 juta. 

Dalam pertemuan di suatu tempat di daerah Tanjung Priok pada bulan Oktober,
yang tanggalnya tidak bisa diingat lagi, kata Syarif dicapai kesepakatan
lisan bahwa fee sebesar 35 persen (Rp70 juta) itu harus dibagi dua antara
Gatot dan Hasyim. Namun, pada saat bersamaan, dengan disaksikan ketua
organisasi tersebut, Gatot langsung menyerahkan haknya kepada Syarif,
sehingga fee tersebut seharusnya diterima Syarif dan Hasyim masing-masing
Rp35 juta. 

Lalu, awal November, Syarif menarik dana Rp200 juta dari Bendaharawan
Setwilda DKI Lily Yuliasih. Oleh Hasyim uang itu kemudian dibagikan kepada
sejumlah nama setelah ia sendiri mengambil fee sebesar Rp70 juta. 

Sejak itulah Hasyim sulit ditemui oleh Syarif maupun Gatot. Bahkan ketika
dihubungi lewat telepon di rumahnya Hasyim, seseorang menjawab bahwa uang
itu tidak ada. "Yang ada badik," kata suara di ujung telepon seperti dikutip
Syarif. Berdasarkan hal itulah Syarif kemudian mengadukan Hasyim kepada
polisi. Ia merasa diancam lewat perkataan tersebut. "Padahal itu hak saya,"
ujarnya.

Begitulah drama perebutan duit pasca ditolaknya BJ Habibie. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke