Pencak Silat: Jurus yang Mendunia

Jakarta, 27 November 2000 02:28
LANGKAH Abas Akbar yang berirama tersendat di sudut biru. Dadanya yang 
terbungkus body protector dibiarkan dalam posisi terbuka, seolah mengundang 
lawan menyerang. Dari sudut lain, Le Van Long, 26 tahun, mengirimkan tendangan 
lurus. Hup! Dengan cerdik Abas berkelit, memutar tubuh seraya melibas kaki Van 
Long, sambil menjatuhkan diri.

Gerakan mirip gasing berpusing itu membuat Van Long, pesilat Vietnam, 
terjerembap. Dan partai final kelas D (60-65 kg) Kejuaraan Dunia Pencak Silat 
X, Ahad pekan lalu, itu pun dimenangkan Abas, 27 tahun, dengan skor telak: 5-0. 
Disaksikan 4.000 pasang mata, kemenangan Abas menutup kejuaraan yang 
berlangsung sejak 14 November lalu di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia 
Indah, Jakarta, itu.

Perhelatan yang diikuti 237 pesilat dan 91 official dari 22 negara ini memang 
kembali mengukuhkan Indonesia sebagai ''jawara'' dunia persilatan. Kontingen 
tuan rumah pun berhak atas Piala Hang Tuah, lambang supremasi silat dunia. 
Indonesia berhasil meraih 14 medali emas. Di urutan kedua tampil Vietnam, 
dengan perolehan lima medali emas.

Tapi, di atas matras pertandingan, tak ada pertarungan yang mudah bagi para 
pesilat Indonesia. Para pesilat asing tumbuh makin kuat. ''Pada kelas-kelas 
besar dan sedang, mereka mulai menguasai,'' kata Rustandi Efendi, Ketua Harian 
Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Menurut Rustandi, bukan mustahil pada 
kejuaraan dunia berikutnya pesilat asing akan menggeliat di semua kelas.

''Ramalan'' Rusdi layak disimak. Lihatlah, misalnya, kontingen Vietnam. Negara 
yang baru mengenal pencak silat pada 1995 ini sudah menjadi juara umum cabang 
pencak silat pada SEA Games XX/1999 di Brunei Darussalam. Pada kejuaraan dunia 
kali ini, pesilat Vietnam mendominasi perolehan medali di bagian putri, dengan 
menyabet empat dari enam medali emas yang diperebutkan.

Tak cuma dari negara serumpun, supremasi silat Indonesia juga dibayangi barisan 
pesilat dari belahan utara. ''Pencak silat kini bukan cuma milik Indonesia,'' 
kata Eddy M. Nalapraya. Ucapan Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa 
itu bukan tanpa bukti. Di Amerika Serikat, misalnya, pencak silat sudah membuka 
jurus sejak 1980.


Tragedi Herman-Suzane

SATU di antara perintis silat di Amerika adalah Perguruan Mande Muda, yang 
berpusat di San Francisco. Perguruan beraliran Cimande, Jawa Barat, itu kini 
memiliki lebih dari 700 murid, dan tersebar di 20 kota besar di Amerika 
Serikat. Adalah Herman Suwanda yang berperan penting mengusung ilmu Cimande ala 
Mande Muda ke Amerika.

Herman adalah putra sulung Uyuh Suwanda, perintis padepokan Cimande di Banten. 
Semua berawal pada 1980, ketika Herman, yang bekerja di Dinas Kebudayaan 
Pemerintah Daerah Jawa Barat, bertemu dengan Suzane, mahasiswi University of 
California. Ketika itu Suzane, yang berasal dari Santa Cruise, tengah melakukan 
penelitian tentang budaya Sunda.

Suzane kemudian tertarik pada pencak silat, dan memutuskan mendalaminya di 
perguruan Herman Suwanda di Lembang. Dari silat, ternyata, tumbuhlah cinta. 
Suzane menikah dengan Herman, memboyong suaminya ke Amerika, dan di sana mulai 
merintis pendirian padepokan. Promosinya dilakukan lewat atraksi mereka di 
beberapa festival bela diri lokal.

Tak lama kemudian, beberapa kerabat dan rekan Suzane bergabung, dan berdirilah 
Perguruan Mande Muda di San Francisco, dengan Herman sebagai ketua perguruan. 
''Saya tertarik, karena silat bukan sekadar bela diri,'' kata David Taylor, 48 
tahun, kini pelatih Mande Muda di Hawaii. ''Ada unsur spiritual yang bisa 
digunakan untuk pengobatan,'' ia menambahkan.

David Taylor, yang sudah sembilan tahun belajar silat, kini melatih sekitar 20 
murid tiga kali seminggu di sebuah gimnasium sewaan. Pada kejuaraan dunia tahun 
ini, David membawa tiga muridnya. Tragisnya, perjuangan pasangan Herman-Suzane 
menyebarkan silat di negeri asing harus menyerah pada garis takdir. Sebuah 
peristiwa mengenaskan menimpa pasangan ini pada 1999.

Herman dan Suzane mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Jerman ke Belanda. 
Ketika itu, mereka baru selesai melakukan atraksi pencak silat. Kendaraan yang 
ditumpangi Herman-Suzane, bersama tiga muridnya, bertabrakan dengan sebuah truk 
trailer. Semua penumpang mobil tewas seketika.


Pencak Silat Bond Nasional

SEBELUM peristiwa itu terjadi, Herman seolah telah memperoleh ''isyarat''. Ia 
membuat wasiat yang meminta adik seperguruannya, yang juga adik iparnya, Dadang 
Gunawan, melanjutkan penyebaran Perguruan Mande Muda di seluruh dunia. Dadang, 
yang berada di Bandung, menyanggupi. Bersama istrinya, Rita Suwanda, Dadang 
melanjutkan perjuangan Herman.

''Saya menjalankan amanat Herman, tapi secara resmi jabatan ketua perguruan 
dipegang Rita,'' kata Dadang Suwanda, 49 tahun. Dadang dan Rita kini kerap 
pergi ke Amerika untuk mengurus perguruan dan melatih murid Mande Muda. Mande 
Muda dan perguruan silat lain pun terus berkembang. Namun, David Taylor menilai 
perkembangan silat di Amerika masih tersendat.

''Seharusnya, silat di Amerika bisa berkembang lebih pesat,'' kata David. 
Menurut dia, kendala utama perkembangan silat adalah kurangnya publikasi. 
Terbukti, banyak pesilat mengawali perkenalan dengan silat bukan dari atraksi 
yang digelar. Boleh jadi, pengalaman Cody Anderson, 15 tahun, bisa dijadikan 
contoh.

Angggota kontingen Amerika ke Kejuaraan Silat Dunia X ini mengenal pencak silat 
tidak di tanah kelahirannya. Cody, siswa Kieeyu High School di Hawaii, mengenal 
silat ketika berlibur ke Bali bersama ibunya, pada 1998. Waktu itu, Cody 
menyaksikan kejuaraan silat antarperguruan tinggi. Ia tertarik. ''Seperti orang 
menari, sangat menyenangkan,'' katanya.

Pulang ke Amerika, Cody sibuk mencari perguruan silat. Seorang kawan membawanya 
ke Perguruan Mande Muda. Ia pun belajar di situ. Setahun kemudian, Cody ke 
Indonesia lagi untuk memperdalam jurus-jurus silatnya. Selama lima bulan, Cody 
nyantrik di Padepokan Mande Muda di Desa Cibadak, Lembang, Jawa Barat.

Dibandingkan dengan di Amerika Serikat, perkembangan pencak silat di Belanda 
lebih pesat. Di ''negeri kincir angin'' itu terdapat Nederlandse Pencak Silat 
Bond, yang membawahkan sedikitnya 10 perguruan silat, di antaranya Tapak Suci, 
Perisai Diri, Bangau Putih, Padjadjaran Nasional, Setia Hati, dan Panca Indra 
Suci. Kejuaraan lokal atau se-Eropa juga sering diadakan di Belanda.


Terhambat Tugas PBB

PRESTASI pesilat Belanda juga tak main-main. Sejak diselenggarakannya Kejuaraan 
Dunia Pencak Silat I (dulu masih bernama Invitasi Pencak Silat Internasional) 
pada 1982 di Jakarta, pesilat Belanda sudah lima kali meraih gelar juara di 
kelas unggulan kategori tanding. Salah satunya adalah Roy Jozefzoon, 31 tahun, 
pesilat Belanda kelahiran Suriname.

Jozefzoon, juara dunia silat 1994, sebelumnya belajar taekwondo. Toh, ia 
kepincut pada pencak silat karena gerakannya yang lembut, namun praktis. ''Bela 
diri bukan hanya persoalan kerasnya pukulan atau tendangan,'' katanya. Meskipun 
harus membayar 50 gulden setiap bulan untuk latihan, Roy beralih ke pencak 
silat sejak 12 tahun silam.

Sayang, pada kejuaraan dunia tahun ini, Jozefzoon gagal di babak kedua. Ia 
kalah saat melawan Abas Akbar. Pelatih tim silat Belanda, Riemer de Maan, 
mengakui tingginya animo masyarakat Belanda terhadap pencak silat. ''Apalagi 
banyak lembaga kebudayaan Belanda meneliti perkembangan kebudayaan Indonesia, 
termasuk pencak silat,'' katanya.

Di Belanda, ada kebiasaan menggelar festival antarseni bela diri setahun 
sekali. Pertemuan antarpetarung itu sering menjadi pintu ketertarikan pada 
pencak silat. Contohnya pengalaman Eric Bovelander. Pada festival bela diri 
1979 di Eindhoven, Bovelander, penyandang dan II karate dan menguasai kempo, 
bertarung dengan seorang pesilat lokal.

Ketika melihat pesilat itu, ia yakin menang karena gerakan lawannya terkesan 
gemulai. ''Ternyata tidak satu pun serangan saya bisa masuk. Malah saya 
terbanting dua kali,'' Bovelander mengenang. Maka pria kelahiran Eindhoven, 8 
Oktober 1960, itu pun penasaran. Bergabunglah dia dengan satu perguruan silat 
di Belanda.

''Ternyata, silat lebih komplet dari bela diri lain,'' katanya. Tapi, karena 
tugasnya sebagai tentara Belanda, Bovelander tak bisa melanjutkan pelajaran 
silatnya. Selama lima tahun ia harus bertugas di Timur Tengah untuk misi 
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pulang dari tugas, Bovelander kembali 
menekuni silat.

Berawal dari Mimpi

BOVELANDER kerap menjuarai pertandingan silat lokal dan Eropa. Toh, 
keinginannya mencari akar pencak silat terus menggelora. Pada 1990, setelah 
memutuskan keluar dari dinas militer, ia datang ke Indonesia. Berbekal 
referensi yang diperolehnya di Belanda, sampailah Bovelander di Perguruan 
Padjadjaran Nasional di Bogor, Jawa Barat.

Ia memutuskan belajar di situ. ''Saya ingin memperdalam filosofi pencak silat, 
yang tidak ada di Belanda,'' katanya. Setelah dua tahun menjalani latihan, Eric 
Bovelander mengutarakan keinginannya memeluk agama Islam kepada gurunya, 
Tubagus Muhammad Sidiq Sakabrata. ''Niat itu sebenarnya sudah muncul sewaktu 
saya bertugas di Timur Tengah,'' tuturnya.

Di Bogor pula Bovelander bersua dengan Tati Noor Hayati, yang kemudian menjadi 
istrinya. Kisah pertemuan mereka terbilang unik. ''Semua berawal dari mimpi,'' 
katanya, sambil tersenyum. Sebelum mengenal Tati, Bovelander mengaku bermimpi 
didatangi seorang gadis yang turun dari sebuah kapal. Gadis itu menghampiri 
dirinya yang sedang termenung.

Selang sepekan, Bovelander datang ke sebuah salon di Jalan Dadali, Bogor, 
hendak memotong rambutnya. Di sana ia kaget. ''Ternyata gadis dalam mimpi saya 
berada di sana,'' katanya. Tati adalah manajer salon itu. Mereka pun 
berkenalan. Pada 10 Oktober 1992, mereka menikah dengan adat Sunda. ''Allah 
yang menunjukkan jalan itu,'' ujar Bovelander, yang mahir tujuh bahasa, 
termasuk Sunda.

Kini, pasangan yang belum dikaruniai anak itu bermukim di Eindhoven. Bovelander 
sudah membuka dua cabang perguruan Padjadjaran di Belanda. ''Setahun sekali 
saya selalu berkunjung ke Bogor,'' kata insinyur lulusan Hogeschool Eindhoven 
yang bekerja di perusahaan importir elektronik di Belanda itu. Pada kejuaraan 
dunia tahun ini, ia anggota dewan wasit spesialis olahraga.

Seolah tak mau kalah, masyarakat Jerman pun ikut mengembangkan pencak silat. Di 
negara itu terdapat beberapa perguruan pencak silat yang bernaung di bawah 
Pencak Silat Union Deutschland (PSUD). Yang terkenal punya banyak murid adalah 
Perguruan Panca Indra Suci, Perisai Diri, Silat Gerak Pilihan, Bangau Putih, 
Tapak Suci, dan Silek Tuo.


Belajar Gayong Fatani

PERKEMBANGAN perguruan silat Bangau Putih tak lepas dari peran Holger Bormann, 
48 tahun, anggota Dewan Guru PSUD. Ia ikut mengembangkan pencak silat setelah 
mempelajarinya selama 25 tahun. ''Saya belajar silat hanya untuk seni,'' 
katanya. Bormann tertarik pada pencak silat setelah menyaksikan atraksi Bangau 
Putih di Damstat, pada 1975.

''Keinginan belajar makin kuat setelah tahu pencak silat juga bisa digunakan 
untuk pengobatan,'' katanya. Pada 1986, ia datang ke Indonesia untuk 
memperdalam ilmunya di Perguruan Bangau Putih selama dua tahun. Kini, pria 
pemilik Holger Marketing Consultant, yang menetap di Damstat, itu setiap tahun 
berkunjung ke Bogor, pusat Perguruan Bangau Putih.

Bersama beberapa pesilat Indonesia, ia membuka cabang Bangau Putih di 10 kota 
di Jerman. ''Tapi, saya tidak pernah menggunakan kemampuan silat untuk 
berkelahi,'' ujarnya. Di dunia persilatan, Jerman merupakan ''kuda hitam'' dari 
Eropa. Pesilat negeri itu, Andre Mewis, pernah menyabet gelar juara dunia 1992 
di Jakarta untuk kategori tanding kelas H (80-85 kg).

Persentuhan antara silat dan seni, khususnya tari dan gamelan, kadang menjadi 
alasan seseorang mempelajari silat. Contohnya Alexandra Shana Kraatz, pesilat 
putri Jerman yang turun di kategori seni tunggal. Pada Februari 1998, 
Alexandra, yang sejak kecil menyukai hal-hal supranatural, berkunjung ke 
Malaysia.

Mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia dan Studi Asia Tenggara, Universitas Bonn, 
ini berniat menyelami budaya Asia. Di Malaysia, Ia belajar silat aliran Gayong 
Fatani. Di situlah ia mulai mengenal pencak silat dan belajar filosofinya. Tiga 
minggu kemudian ia kembali ke Jerman, dan bergabung dengan Perguruan Tapak Suci.

''Karate hanya mengajarkan olahraga dan gerakan statis. Sedangkan silat 
memiliki unsur seni. Itu yang membuatnya berbeda,'' kata Alexandra. Maka, 
selain memperdalam silat, Alexandra juga mempelajari tarian tradisional. Kini, 
gadis kelahiran Leverkusen, 22 April 1977, itu telah mahir menari dan memainkan 
gamelan Jawa.


Tak Hanya Menjatuhkan Lawan

KISAH cinta pesilat antarbangsa juga terjadi dalam sejarah pengembangan silat 
di Jerman. Misalnya kisah Nikola Lerch, mahasiswi Universitas Bonn yang besar 
andilnya membesarkan Tapak Suci di Jerman. Pada 1990, Nikola Lerch datang ke 
Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Di sela studinya, ia berniat belajar silat. Karena pernah mendengar nama Tapak 
Suci, ia datang ke perguruan tersebut di Kauman. Perguruan Tapak Suci pun 
meminta Joko Suseno, pesilat Yogya yang wasit terbaik IPSI, untuk melatih 
Nikola Lerch. Dua tahun kemudian, Nikola Lerch pulang ke Jerman, dan kemudian 
terpilih mewakili Jerman untuk Kejuaraan Dunia 1992 di Jakarta.

Pada kejuaraan itulah ia bertemu kembali dengan Joko, yang diminta melatih 
murid-murid Tapak Suci Jerman untuk Kejuaraan Dunia 1994 di Thailand. Pada 
Desember 1998, Perguruan Tapak Suci mengutus Joko untuk melatih permanen di 
Jerman. Joko pun membantu Nikola melatih pencak silat di Universitas Bonn. Eh, 
buntut-buntutnya, Joko dan Nikola menikah pada 12 Maret 1999.

Tak hanya di negeri-negeri tanpa tradisi seni bela diri saja pencak silat 
merebut hati. Di Jepang pun begitu. Padahal, dari negeri inilah tumbuh seni 
bela diri populer, seperti karate, judo, dan kempo. Mamiko Hirota, 23 tahun, 
pesilat peraih perunggu pada kategori tanding kelas B (50-55 kg) kejuaraan 
dunia tahun ini, punya alasan sendiri mengapa tertarik pada silat.

Sarjana hubungan internasional dari Universitas Daito Bunka ini, sebelum 
mengenal silat, sudah belajar judo. Awal tahun lalu, ia mulai belajar silat di 
Perguruan Perisai Diri Jepang, karena diajak rekannya. ''Ternyata pencak silat 
itu sangat religius,'' katanya. ''Tidak seperti judo, yang hanya berpikir 
bagaimana cara menjatuhkan lawan.''

Melihat makin tumbuhnya pencak silat di mancanegara, pesilat Indonesia memang 
harus waspada, agar kelak tak gigit jari melihat medali-medali pada kejuaraan 
penting digondol pesilat asing. ''Jalan satu-satunya, ya kita harus terus 
memperdalam teknik,'' kata Abas Akbar, pesilat andalan Indonesia.

Sigit Indra
http://www.gatra.com/2000-11-26/artikel.php?id=1640



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke