07 November 2008
Blind Martial Art
Tuna netra dapat memiliki kemampuan beladiri yang lebih hebat, tuna netra mampu
mengaktifkan beberapa indra, seperti pendengaran, penciuman dan rasa. Tuna
netra bisa lebih mengerti dibandingkan dengan manusia biasa. Kalimat di atas
kurang lebih diucapkan oleh Riki, master Kompo (tongkat) yang merupakan salah
satu guru dari Chinmi si Kungfu Boy. Bahkan dalam cerita si Buta dari Gua
Hantu, Badra mampu mengalahkan Si Mata Malaikat setelah matanya menjadi buta
juga.
Riki sang Master Kompo yang tuna netra justru menjadi guru bagi murid-murid
Dairin yang ingin mempelajari senjata tongkat, termasuk Chinmi. Riki dengan
mudah mengalahkan Chinmi yang sudah cukup lama melanglang buana dan mengalahkan
beberapa jagoan beladiri yang salah jalan. Konsep dari Riki adalah melatih
pendengaran, penciuman dan rasa.
Pelajaran lain ketika bertemu dengan Rama, Blind Power. Dia mengatakan bahwa
hal yang paling efektif dilatih oleh tuna netra adalah rasa. Yaitu merasakan
energi lawan. Mengapa dengan pendengaran? Menurut pengalaman Rama, pendengaran
sering menipu dan terganggu oleh suara lain. Hal ini dibuktikan oleh Rama
ketika melakukan pertarungan dalam hujan. Rama mengalami kesulitan mendengarkan
langkah dan serangan lawan karena terhalang suara hujan.
Merasakan energi lawan ? Bagaimana caranya ? Jadi teringat ketika latihan di
Persaudaraan Thifan Po Khan Indonesia, pembimbing selalu menegur tamid yang
tidak konsentrasi dalam berlatih, sehigga energinya terasa berbeda. Kok bisa?
Sepertinya tidak masuk akal !!!
Kungfu Boy edisi 9 memberikan sedikit gambaran. Ketika Chinmi di suruh oleh
gurunya untuk belajar pada Master Yosen di Torin. Master Yosen menjajal Chinmi
ketika sedang berjalan dalam kegelapan. Hasilnya, Chinmi babak belur, dia
kebingungan, bagaimana cara seseorang menyerang dalam gelap dengan sangat jitu,
setiap serangan mengenai sasaran dengan tepat.
Pelajaran Master Yosen dilanjutkan ketika dia mampu menerka berapa banya musuh
yang berada dalam balik tembok. Master Yosen juga mampu mengetahui berapa
banyak burung yang berada di bawah pohon.
Master Yosen mengatakan bahwa tiap manusia dan makhluq lain mempunyai medan
energi berupa panas. Medan energi setiap orang berbeda, tergantung kondisi
fisik dan latihan. Medan energi ini dapat dirasakan oleh orang yang sudah
melatih diri untuk dapat merasakan medan energi orang atau makhluq lain. Ketika
seseorang bergerak maka medan energi yang ditimbulkan juga bergerak. Sebagai
ilustrasi maka kita dapat melihat gerakan serangga di air, walaupun serangga
dapat mengabang tetapi menimbulkan riak air walau kecil. Riak air inilah yang
dapat dirasakan oleh binatang lain, menandai bahwa ada hewan yang hinggap di
atas air.
Pelajaran lain dari Chinmi adalah ketika Chinmi ingin mengalahkan kungfu
Pusaran Angin. Chinmi dilatih merasakan dan mengetahui gerakan nafas lawan.
Penyerangan biasa dilakukan ketika nafas masuk ataupun nafas keluar. Untuk
memahami masalah ini diperlukan latihan sangat serius sehingga dapat mengetahui
kapan lawan mengambil nafas dan kapan melepasnya. Kemampuan mengenal nafas ini
juga menjadi keahlian khusus para tuna netra, sehingga mereka akan mudah
mendengar dan merasakan gerakan nafas orang lain.
Blind Martial Art, istilah ini mungkin kurang tepat. Tetapi dapat digunakan
untuk memberikan kajian khusus bagaimana tuna netra mempelajari beladiri.
Mereka dapat menjadi hebat dengan memanfaatkan serta melatih keahlian lain yang
sulit dilatih oleh orang yang tidak tuna netra. Dibeberapa beladiri, teknik
seperti ini juga dilatih, walau mungkin untuk tingkatan tertentu, sama halnya
dengan Thifan Po Khan yang mengajarkan teknik ini pada tingkatan tertentu juga,
walaupun mungkin ada teknik khusus yang hanya untuk kalangan intern.
Pengalaman nyata mas Rama dalam berlatih beladiri dapat kita gabungkan dengan
pengalaman Chinmi ketika belajar kepada Master Yosen, Riki maupun kungfu mata
angin. Sehingga tidak hanya menjadi buku cerita tetapi dapat menjadi inspiring
story untuk terus meningkatkan semangat latihan.(akr)
source : thifanpokhan.blogspot.com