-----------------------------------------------------------------
Foto:
http://www.pontianakpost.com/images/NagaUler-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/tatungtusuk-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/LauyaKun-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/lePoala-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/CIikTatung-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/bekerr-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/TanduMErh-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/WalkOtUng-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/Belangan-f.jpg
http://www.pontianakpost.com/images/nageGotong-f.jpg
------------------------------------------------------------------

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=81518
Kamis, 24 Februari 2005
Puncak Cap Go Meh Pontianak Macet Total

MELINTAS: Naga saat melintasi jalan-jalan utama di Kota Pontianak
mendapat sambutan meriah dari warga pada perayaan Cap Go Meh, kemarin.
FOTO BEARING

Pontianak,- Pontianak macet total sekitar empat jam di ruas jalan
pusat kota, Rabu (23/2). Soalnya, 14 naga "keluar kandang" setelah
sebelumnya habis-habisan "bertempur" di Padang Bal Keboen Sajoek guna
memperebutkan piala bergilir Walikota Pontianak.

Aksi pawai keliling naga sebagai acara ritual tolak bala, menjauhkan
Kota Khatulistiwa ini dari marabahaya dimulai pukul 14.00 siang. Empat
belas naga ini dilepas oleh Walikota Pontianak Buchary A Rachman di
stadion tempat digelarnya pertunjukkan.

Sebelumnya, masyarakat sudah terlihat menyemut di pinggir jalan-jalan
yang akan dilewati arakan naga tersebut. Tua-muda dari segala etnis
beergabung guna melihat atraksi khas budaya Tionghua dalam rangka
menyambut Imlek-Cap Go Meh 2556 ini. Pembauran dari segal etnis,
tercipta di sini. Warga dari etnis Tionghua juga terlihat ramai
mengunjungi vihara-vihara yang menyebar di seluruh penjuru kota untuk
melakukan sembahyang.

Pagelaran ritual tolak bala keliling jalan protokol dimulai dari
lapangan Keboen Sajoek, Jalan Pattimura, Gajah Mada, Pahlawan,
Tanjungpura dan berakhir di Jalan Agus Salim (Diponegoro) tepat di
depan Klenteng Kwan Ya Keng. Macet total tak terhindarkan. Pihak
keamanan begitu kewalahan mengatur arus lalu lintas. Akan tetapi,
secara keseluruhan aksi pawai keliling ini berlangsung tertib.

Sesuai dengan tema acara yakni ritual tolak bala sekaligus amal
ibadah, di depan arak-arakan naga tepatnya di atas mobil pick up,
panitia sengaja menyediakan kotak sumbangan guna aksi sosial. Hal
tersebut juga serupa seperti pada aksi pagelaran naga di Keboen
Sajoek, di mana panitia menyediakan empat kotak sumbangan di pintu
masuk stadion. Masyarakat tak segan-segan merogeh kocek untuk
memberikan sumbangan seikhlasnya.

Seperti mempunyai energi tambahan, para pemain tetap menampilkan
permainan naga yang sangat atraktif di hadapan ribuan masyarakat yang
tumpah ruah di pinggir jalan. Tak terlihat raut wajah keletihan
sedikitpun usai habis-habisan "bertempur" guna merengkuh gelar naga
terbaik di stadion Keboen Sajoek, yang baru selesai direhab itu.

Aksi tatung yang ikut dalam pawai keliling itu menjadi pemikat
masyarakat untuk betah berlama-lama menonton pertunjukkan. Selain
naga, tatung dan ikan yang selalu setia berada di depan naga, ayam
jago yang biasanya jarang kelihatan dalam arak-arakan sebelumnya, juga
turut hadir pada aksi turun ke jalan ini. Ayam jago bewarna merah itu
merupakan perlambang dari shio ayam kayu pada tahun Cina 2556 ini.

Pawai keliling kota ini berlangsung hingga malam hari. Sorotan tajam
mata naga, tetap menerangi tarian binatang suci dari khayangan dalam
mitologi China ini. "Kita mohon kepada Tuhan supaya negara kita
dibebaskan dari malapetaka dan bencana. Khususnya Kota Pontianak
tercinta ini," harap Ketua Panitia Bersama Pagelaran Naga Tahun Baru
Imlek-Cap Goh Meh 2556, Simon Budianto. (zan)

------------------------------------------------------------------
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=81598
Jumat, 25 Februari 2005
Akhirnya Naga Kembali ke Kayangan
Abu Diambil Berharap Peroleh Berkah

AKHIR: Puncak perayaan Cap Go Meh, Kamis (24/2) kemarin ditandai
dengan pembakaran naga yang mensimbolkan naga kembali ke kayangan.
Ritual ini mendapat perhatian dari masyarakat yang memenuhi lapangan
pemakaman YBS Sungai Raya. FOTO BEARING

Pontianak,- Iring-iringan naga yang memeriahkan Imlek dan Cap Go Meh
2556 berakhir, Kamis (24/2) kemarin. Naga-naga yang turun telah
melakukan ritual tutup mata dan pembakaran sebagai simbol dikirim ke
kayangan. Aksi bakar naga ini dilakukan sekitar pukul 15.30 WIB di
kawasan permakaman Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Pontianak.

Sekitar lima naga besar yang dibakar, sebagai tanda berakhirnya ritual
Cap Go Meh tersebut. Masyarakat pun tumpah ruah ke lokasi pembakaran
untuk melihat langsung prosesi pembakaran. Bukan itu saja, masyarakat
yang percaya dengan ritual itu mengambil abu sisa pembakaran, sebagai
wujud naga yang akan memberi berkah sepanjang tahun ini.

Namun sebelum dilakukan pembakaran, belasan naga yang terdaftar di
panitia penyelenggara perarakan naga Yayasan melakukan upacara tutup
mata di Klenteng Kwan Ya Keng kawasan Jalan Diponegoro, sekitar pukul
14.00 WIB.

Sebelum aksi tutup mata, beberapa kelompok permainan naga ini
melakukan pertunjukan di halaman klenteng tersebut. Sekitar pukul
15.30 WIB, beberapa naga besar beranjak ke tempat pembakaran. Dalam
perjalanan menuju lokasi pembakaran, kelompok naga ini masih
menyempatkan diri melakukan pertunjukan di beberapa tempat sponsor.

Warga yang ingin melihat langsung prosesi "mengantar" naga ke langit
itu, sudah berjubel memenuhi lokasi pembakaran. Naga yang dibakar itu
dibawa oleh belasan pria diiringi dengan tetabuhan musik-musik
tradisional. Namun sebelumnya, mereka memberi penghormatan pada
klenteng yang ada di lokasi pembakaran. Kerumunan warga semakin padat
ketika naga-naga itu mulai dimakan api. Mereka mendekat dan
berteriak-teriak seolah-olah menyampaikan doa-doa, dan berharap
kepulan asap naga akan membawa doa-doa itu kepada dewa-dewa yang ada
di langit.

Animo masyarakat Tionghoa sangat besar pada penutupan Imlek di hari
ke-16 dengan puncak acara pembakaran Naga (Sau Liong). Mereka datang
dari berbagai sudut kota. Bahkan ada yang datang dari daerah-daerah
pedalaman, hanya sekedar untuk melihat prosesi pembakaran naga.
"Ritual ini jarang sekali terjadi. Makanya, kami rela datang hanya
untuk melihat bagaimana orang membakar naga," kata seorang penontong
yang mengaku berasal dari Rasau Jaya.

Orang Tionghoa percaya pembakaran naga agar kehidupan umat manusia di
bumi mendapat berkah, juga keselamatan dan kedamaian. Ini dilakukan
sesuai kepercayaan etnis Tionghoa diawali dengan turunnya hujan
gerimis. "Kita bersyukur pelaksanaan pembakaran ini dapat berjalan
lancar," kata Koordinator Lapangan Perarakan Naga Lim Liang Kia.

Beberapa naga yang dibakar antara lain naga milik Yayasan Panca
Bhakti, Budi Pekerti, Surya Makmur, dan naga-naga dari perkumpulan
lainnya. Satu persatu secara bergantian naga itu ditaruh pada tanah
yang lapang dalam dengan posisi melingkar lalu dibakar beramai ramai,
ketika api mulai menyala membakar naga tak pelak warga disekitar pun
bersorak kegirangan dan sambil menyembah. Ada juga warga
berlomba-lomba untuk mengambil abu kayu api untuk membakar naga, yang
konon kata mereka bisa membawa keberuntungan. (mnk)

------------------------------------------------------------------
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=81559
Kamis, 24 Februari 2005
Atraksi Maut, Altar Pelelangan Padat Pengunjung
Prosesi Ritual Tatung Cap Go Meh Dimulai

Singkawang,- Hari masih pagi. Tetapi, 384 tatung sudah memulai ritual
sucinya. Mereka berjalan mengelilingi Kota Singkawang memberikan
suguhan menarik, sekaligus menggiriskan dalam balutan nuansa Tiongkot
masa silam. Disamping atraksi, juga ada pelalangan yang dilaksanakan
di vihara di Jalan Sejahtera. Ratusan barang (beberapa diantaranya
buah) yang sudah diberkati dilelang. Ket Sam Thoi dilaksanakan tengah
malam sebelumnya.

Ribuan pasang mata tampak memadati sudut jalan penjuru Kota Singkawang
yang terkenal akan keindahan Kota 1001 Viharanya. Mereka sengaja
datang ke Singkawang untuk menyaksikan pesta Cap Go Meh atau hari
kelimabelas Imlek. Keinginan mereka juga ingin menjenguk atraksi para
tatung, serta melihat lelang barang-barang yang menurut mereka punya
keunikan tersendiri.

"Kota Singkawang terkenal karena keunikannya karena dapat menghadirkan
ratusan manusia yang mempertontonkan pertunjukan maut. Seperti tubuh
yang ditusuk-tusuk benda tajam," ujar Andreas Chao, seorang wisatawan
asal Jiran, Malaysia saat menyaksikan pertunjukan tatung di lapangan.

Dia mengatakan perayaan Cap Go Meh 2556 di Kota Singkawang sangat
meriah dan kental dengan berbau ritual yang masih menyimpan misteri
kuno dalam perwujudan para dewa-dewa yang dibalut dalam ciri khas para
Tatung/Lauya. Bahkan karena saking senangnya, dimana budaya kaumnya
masih dihormati berbagai suku termasuk Kota Singkawang dia berjanji
tahun depan akan datang lagi ke Singkawang.

"Pada perayaan Cap Go Meh 2556 nantinya saya akan membawa seluruh
teman-teman saya ke Kota Singkawang buat melihat atraksi besar yang
hanya ada di sini," tuturnya seraya berlalu.

Apa yang disampaikan Andreas cukup beralasan. Pasalnya berbagai
atraksi menarik dan unik dari pergelaran maut mulai menusuk benda
tajam ke seluruh bagian tubuh hingga memotong tubuh binatang berupa
ayam dan anjing bakalan terasa ngeri buat disaksikan.

Namun dari acara pergelaran para tatung yang hadir disana, ada juga
sisi menarik dari sudut Jl Sejahtera Singkawang dimana ratusan pembeli
berkumpul hanya ingin membeli barang-barang ritual yang sudah
diberkati dewa-dewa pada acara Ket Sam Thoi. Yang menariknya lagi pada
acara pelelangan kemarin seperti yang pernah ditulis mengenai Tebu
(Thian Thoi,red) yang walaupun dari fisik tak seberapa mahal harganya
ketika masuk pelelangan karena sudah diberkati merupakan barang yang
diminati.

Boleh percaya atau tidak tebu yang mempunyai ruas cukup tinggi
tersebut dan hanya terdiri dua batang sahaja begitu diminati para
pembeli. Bayangkan saja tarik menarik harga mulai dari yang termurah
hingga tertinggi diperolehlah penawaran tertinggi sekitar Rp 5 Juta,
maka harga Thian Thoi merupakan produk unggulan karena lebih mahal
dibandingkan dengan harga Keramik, Patung dewa maupun benda-benda
lainnya. (***)

------------------------------------------------------------------
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=81558

Kamis, 24 Februari 2005
Ritual Tolak Bala untuk Mengusir Roh Jahat
Memaknai Peringatan Cap Go Meh

Singkawang,- Perayaan Cap Go Meh dalam kacamata awam, sebatas
keramaian dan suka cita warga Tionghoa seperti pemahaman anak-anak
mudanya. Namun sesungguhnya, Cap Go Meh itu mengandung makna mendalam.
Seperti apa makna Cap Go Meh menurut sesepuh masyarakat Tionghoa Kota
Singkawang itu ?

Cap Go Meh artinya hari ke 15 setelah tahun baru Imlek, merupakan
sebuah ritual penutup tahun bagi warga Tionghoa. "Ritual penutup tahun
baru China ini diwujudkan dengan melakukan sembahyang tolak bala.
Dimana sembahyang tolak bala itu sendiri bertujuan untuk mengusir
roh-roh jahat, tutur Andrew yang dikenal dengan nama Pak Acan. Ia
menjelaskan, ritual ini merupakan ritual suci yang harus dihargai dan
dihormati oleh seluruh masyarakat Tionghoa. Kegiatannya, selain
sembahyang juga ada lelang, dan aksi Tatung yang dipercayai dimasuki
dewa serta penyembelihan babi.

Lelang akan membawa dampak positif bagi masyasarakat dan dari peserta
lelang sendiri. Salah satu manfaatnya dari sudut sosial. Warga
Tionghoa yang memiliki rezeki lebih dan membeli barang-barang yang
dilelang akan menjadi dermawan dan memiliki sifat sosial terhadap
masyarakat Tionghoa lainnya yang kurang mampu. Karena pada prinsipnya
hasil lelang tersebut dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial.

Sedangkan Tatung yang dipersembahkan oleh lauya-lauya untuk
meningkatkan dan mempertebal keimanan. Sekaligus mengajak masyarakat
Tionghoa untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya
karena aksi tatung di altar memiliki ilmu ghaib, cerminan leluhur dan
para dewa.

Semuanya dilakukan pada perayaan Cap Go Meh, sejak ratusan tahun silam
dan secara turun temurun. Untuk di wilayah pantai Utara ini, Cap Go
Meh (CGM) menjadi ritual berawal dari peristiwa di Monterado Kabupaten
Bengkayang dan berbeda dengan pelaksanaan Cap Go Meh di China,
walaupun aslinya dari Tiongkok sana.

"Sekitar 300 tahun silam, di Monterado menjadi kawasan pertambangan
emas. Namun seluruh penduduknya banyak yang sakit. Kemudian, hadir
seorang panglima perang Ng Kang Sen di wilayah itu yang melarikan diri
dari China karena memberontak Dinasty Chin. Beliau inilah yang
melaksanakan upacara mengusir roh jahat yang dianggap mengganggu
manusia lantaran banyak yang sakit tadi,"terang Pak Acan.

Cara yang dilakukan panglima itu dengan melaksanakan itual CGM lewat
berbagai kegiatan yang disebutkan tadi disertai dengn penyembelihan
seekor babi yang dikorbankan lalu dagingnya dibagi-bagikan. "Saat babi
disembelih itulah roh jahat dipercaya masuk ke tubuh babi. Sampailah
akhirnya ritual itu dilaksanakan secara turun temurun hingga
kini,"kata dia sembari mengataka pada CGM ini pula biasanya saatnya
keluarga berkumpul dan makan bersama.

Pak Acan berharap, pemahaman tentang makna Cap Go Meh seperti
dituturkan ini hendaknya dapat disosialisasikan lagi ke masyarakat
secara umum. Khususnya kepada kalangan anak mudanya, karena diakuinya
anak-anak muda masih banyak belum mengetahui ini. "Dinas Pariwisata
Kota Singkawang pun kita harapkan untuk dapat turut mensosialisasikan
ini, karena ini merupakan kalender pariwisata,"harapnya. (**)

------------------------------------------------------------------





===============================================================
Homepage  : [www.singkawang.go.id] [www.singkawang-tourism.com]
Berita    : 
[http://www.pontianakpost.com/berita/default.asp?Berita=Singkawang&id=83]
Friendster: [http://www.friendster.com/user.php?uid=15839394]
=============================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke