Saya juga ingin bicara

Pada dasarnya semua yang anda katakan benar adanya, tapi tidak ada salahnya
kalau saya menambahkan informasi.

Saya tinggal di Yogya, bekerja di lingkungan kampus. Disinilah saya dengan mata
kepala bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, banyak dari mahasiswa
keturunan Tionghoa yang hanya mau berteman dan bergerombol dengan sesama
etnisnya, hanya sedikit sekali mhs Tionghoa yang mau bergaul dengan mahasiswa
dari etnis lain, itupun terbatas pada orang Tionghoa dari golongan ekonomi
lemah atau orang pinggiran.

Tempat kos mereka pun seperti perkampungan cina, kalau gak percaya, silahkan
datang ke Yogya lihat di kampung Papringan.

Di lorong kampus atau di pinggir taman, mereka sering bicara dengan bahasa
mereka, yang saya tidak paham sama sekali, tapi bagi saya sih itu tidak jadi
masalah karena mereka kan tidak bicara sama saya dan mereka tidak sedang rapat
umum atau seminar, malahan saya senang karena serasa sedang berada di Taiwan
atau Hongkong atau Syanghai.

Di kampung tempat aku tinggal, ada beberapa warga etnis Tionghoa, memang benar
cara mereka bermasyarakat jauh berbeda dengan warga asli, mereka tidak pernah
mau tugas siskamling, atao kegiatan sosial lainnya, mereka sangat setia pada
karirnya.

Saya tidak menyalahkan mereka, karena mereka sudah terbentuk oleh sistem yang
berlaku puluhan tahun di Indonesia, lain halnya dengan di Malaysia, yang tidak
pernah ada pembedaan antara etnis yang satu dengan etnis yang alainnya, antara
agama yang satu dengan agama yang lainnya.

Sekarang marilah kita sama-sama merobah sistem yang sudah ada ini ke arah yang
lebih baik lagi. Ada banyak hal yang saya kagumi dari orang Tionghoa,
diantaranya, semangat hidupnya tinggi, tidak mudah menyerah, menejemennya
bagus, orangnya cakep/tampan/cantik, kulitnya putih/kuning langsat, dan masih
ada banyak lagi hal yang saya kagumi.

Jabat erat dari Yogya.

Quoting Darman Hariadi <[EMAIL PROTECTED]>:

>
>
>
> Hi! Saya 'teragitasi' juga untuk memberikan tanggapan ke atas
> artikel di bawah ini.
>
> Untuk gamblangnya saja, saya angkat saja kejadian dalam
> kehidupan NYATA sehari-hari berkenaan dg SKBRI yang masih saja
> terjadi hingga hari ini:
> ambil contoh saya, lahir di Indonesia, dari kedua orang tua yang
> juga sudah WNI --> jadi sudah generasi kedua menjadi WNI
> (entahlah dg kakek-nenekku), masih kerap diminta untuk
> melampirkan SKBRI di dalam berbagai keperluan seperti
> pembuatan/perpanjangan paspor, pembuatan berbagai akta
> jual-beli, dsb.
>
> Walau saya punya dokumen SKBRI yang 100% persen beres, tapi pada
> banyak kejadian, saya marah (baca: protes!) dan tidak meladeni
> permintaan SKBRI tsb semenjak runtuhnya rezim Suharto berhubung
> semenjak pemerintah Gus Dur, sudah jelas-jelas diyatakan secara
> terbuka di mass media bahwa SKBRI hanya perlu dilampirkan pada
> kondisi-kondisi tertentu (saya tidak punya referensi detil untuk
> acuan tentang 'kapan SKBRI diperlukan', barangkali ada pembaca
> yang lain bisa melengkapi acuannya). Dan saya yakin bahwa secara
> hukum, dokumen SKBRI itu tidak dibutuhkan oleh mereka-mereka
> yang paling tidak terlahir di Indonesia dari orang tua yang
> sudah WNI (WNI generasi kedua).
> Pertanyaan saya yg lain, apakah WNI keturunan lainnya
> (non-Tionghoa seperti keturunan India, Timur Tengah, dll) juga
> mendapatkan perlakuan SKBRI ini?
>
> Walaupun saya cukup awam untuk benar-benar memahami detil aturan
> hukumnya, namun saya kira Sdr. Maya Satrini, Ketua Forum
> Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FKPSM) Kota Singkawang
> tentunya lebih paham mengapa diskriminasi tsb bukanlah sekedar
> persepsi yang keliru dari kalangan Tionghoa, tapi nyata masih
> eksis dalam kehidupan sehari-hari, dan karena itu perlu dikikis!
>
> Saya "takjub" karena bukannya mengoreksi penyimpangan SKBRI,
> alih-alih mengaburkan inti permasalahan dengan mengaitkannya
> dengan permasalahan lainnya.
> Jelas lebih mudah dan lebih singkat waktunya bagi pemerintah
> untuk mengeluarkan aturan (keputusan politik) mengoreksi
> penyimpangan daripada mengubah cara hidup sekelompok (besar)
> masyarakat!
>
> Saya ingat pernah baca di Jawa Pos kalau di Surabaya ada aksi
> advokasi masyarakat keturunan Tionghoa untuk menempatkan
> persyaratan dokumen SKBRI pada relnya dan bukannya
> disalahgunakan oleh aparat atau oknum birokrasi untuk melakukan
> pungutan liar!
>
> Tapi mungkin pemerintah memiliki terlalu banyak permasalahan
> yang harus ditangani secara lebih mendesak, sehingga hal-hal
> seperti ini terabaikan. Memang bangsa dan negara Indonesia sudah
> amat terpuruk sehingga permasalahan yang dihadapi juga luar
> biasa!
>
> -----------------------
> > Sabtu, 26 Februari 2005
> > Tak Ada Diskriminasi Warga Tionghoa
>
> > Singkawang,-  Satu diantara sekian banyak masalah sosial masyarakat kota
> Singkawang yang sampai kini masih muncul adalah anggapan dari masyarakat
> Tiongghoa, bahwa mereka didiskriminasikan. Masalah itu
> > perlu diperhatikan elemen Tionghoa, karena selama ini baik pemerintah
> maupun masyarakat lainnya tidak pernah bersikap diskriminasi.
> >
> > "Justru masyarakat Tionghoa diberikan hak dan perlakuan yang sama di kota
> ini. Tidak ada perbedaan karena semuanya sama-sama berstatuskan masyarakat
> kota Singkawang," kata Ketua Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat
> (FKPSM) Kota Singkawang, Maya Satrini.
> >
> > FKPSM menyorot masalah sosial ini, karena pihaknya kerap mendapatkan
> laporan dari masyarakat Tionghoa, bahwa mereka telah didiskriminasikan. Tidak
> saja dari masyarakat awam yang menganggap demikian, dari masyarakat yang
> berpendidikan juga tak jauh beda.
> >
> > "Sehingga kami dari FKPSM merasa perlu untuk mengangkatnya agar dapat
> diperhatikan oleh organisasi Tionghoa," kata Maya.
> >
> > Menurut Maya, laporan diskriminasi yang kerap diterimanya itu seputar
> SBKRI. Menurut mereka, masyarakat Tionghoa masih diberlakukan SBKRI
> sementara keberadaan mereka di tanah air ini sudah menyatu dengan negara
> kesatuan republik Indonesia. Akhirnya muncul anggapan dari diri mereka, bahwa
> mereka diperlakukan tidak adil.
> >
> > Anggapan tersebut sangat keliru, karena pemerintah dalam hal ini berupaya
> mempertegas dan memperjelas status kewarganegaraan Indonesia dalam bingkai
> NKRI. Menurut hemat Maya, bisa saja pemerintah menghapuskan SBKRI secara
> utuh, kalau saja dari masyarakat
> > Tionghoanya sendiri sudah menunjukkan sikap yang mencerminkan warga
> Indonesia.
> >
> > Seperti bahasa, kemudian partisipasi masyarakat Tionghoa terhadap
> program-program pemerintah. Baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah
> daereah seperti di Singkawang ini.
> >
> > Di Singkawang misalnya untuk kegiatan 17 Agustus, program KB Kesehatan dari
> Pemerintah Kota Singkawang dan lain sebagainya.
> >
> > "Selama ini kita lihat partisipasi dari masyarakat Tionghoa untuk kegiatan
> seperti ini masih sangat kurang. Padahal sepengatahuan kami, dari pemerintah
> maupun pihak pelaksana kegiatan sudah berupaya semaksimal mungkin untuk
> mengajak mereka,"kata dia.
> >
> > Nah lanjutnya, andai saja masyarakat Tionghoa bisa menunjukkan pelbagai
> partisipasi yang dapat mempersatukan kita, ada kemungkinan SBKRI itu
> dihapuskan sama sekali. Jadi sekali lagi ditegaskannya,  mohon kepada
> masyarakat Tionghoa untuk tidak lagi menganggap keberadaan mereka
> didiskriminasikan. (vie)
>
>
> ===============================================================
> Homepage  : [www.singkawang.go.id] [www.singkawang-tourism.com]
> Berita    :
> [http://www.pontianakpost.com/berita/default.asp?Berita=Singkawang&id=83]
> Friendster: [http://www.friendster.com/user.php?uid=15839394]
> ===============================================================
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>





==========================
Sanata Dharma University
http://www.usd.ac.id
--------------------------
ICT Supported by BAPSI USD
http://www.bapsi.usd.ac.id
========================== 



===============================================================
Homepage  : [www.singkawang.go.id] [www.singkawang-tourism.com]
Berita    : 
[http://www.pontianakpost.com/berita/default.asp?Berita=Singkawang&id=83]
Friendster: [http://www.friendster.com/user.php?uid=15839394]
=============================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke