Suatu Kajian untuk Kemaslahatan Masyarakat Luas Singkawang (Bagian 2)
Oleh: Hasan Karman

 

Ketiga, tetap membuka usaha atau menyediakan tempat belanja atau restoran dan tempat makan-minum lainnya 

          Sudah menjadi tradisi hampir semua suku bangsa pada saat perayaan hari besar, mereka tidak membuka usaha, demikian juga pada hari besar atau perayaan tertentu, kebanyakan toko dan tempat makan di Singkawang tutup. Pendatang akan kesulitan untuk belanja dan mencari makanan. Khusus untuk restoran, meski tetap memasak untuk makan keluarga, bahkan berpesta, namun umumnya mereka tidak membuka usahanya. Agar para turis mendapat kemudahan dan kenyamanan, perlu diupayakan koordinasi agar ada tempat usaha yang tetap buka, demikian juga restoran dan tempat makan-minum lainnya. Salah satu unsur penting yang melengkapi keberhasilan pariwisata adalah wisata kuliner (berkenaan dengan makanan). Boleh dikatakan setiap tempat wisata yang banyak dikunjungi, pasti tersedia restoran-restoran yang menyajikan hidangan khas lokal atau internasional. Untuk Singkawang, kita memiliki pelbagai hidangan khas, warung-warung yang menyajikan kopi dan teh serta macam-macam panganan dan sebagainya. Kekurangan unsur kuliner ini akan membuat suatu daerah wisata menjadi hambar. Tentu bagi pengusahanya sendiri, urusan buka atau tidak buka adalah hak mereka, namun instansi-instansi terkait yang bertanggungjawab atas pariwisata dan unsur-unsur pendukungnya harus sanggup menjamin agar para turis tidak kesulitan memenuhi kebutuhan mereka. Hal yang sama juga sering terjadi di tempat pembuatan keramik khas Singkawang di Sedau, dimana pada saat hari raya tidak ada aktivitas, padahal tempat tersebut merupakan salah satu daya tarik pariwisata.       


 

                   


 

Penutup dan Renungan


 

          Rasanya tidak terlalu dibesar-besarkan jika perayaan Capgomeh Singkawang di masa mendatang dapat disejajarkan dengan peristiwa budaya seperti Ngaben (upacara pembakaran jenazah umat Hindu di Bali), atau semacam Carnaval Rio de Janeiro di Brazil yang sudah dikenal secara internasional. Masalahnya terletak pada seberapa profesional segenap insan Singkawang menggarap potensi peristiwa budaya yang pernah diberangus pada masa Orde Baru itu. Capgomeh ini merupakan salah satu primadona yang dapat dijual dan diangkat nilai tambahnya, dan dapat menjadi pilot project atau proyek perintis yang akan menjadi lokomotif yang menghela potensi-pontensi lainnya. Masih banyak event yang bisa diangkat, misalnya musim sembahyang kubur masyarakat Tionghoa atau Chin Min (Qing Ming). Pada saat berlangsungnya musim ini, bukan hanya masyarakat Tionghoa kelahiran Kalimantan Barat saja yang mudik menyembahyangi leluhurnya, namun kerapkali mudiknya mereka disertai oleh anak-cucu yang bukan kelahiran setempat, mereka bahkan kadang membawa serta relasi atau handai-taulan yang berasal dari daerah lain. Kesempatan yang senantiasa terulang setiap tahun ini sebenarnya tidak boleh disia-siakan begitu saja. Janganlah panen rezeki ini hanya dipetik oleh agen tiket dan pengusaha penerbangan, namun hendaknya juga mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat luas. Tiga butir strategi di atas tetap relevan untuk dijalankan. Belum lagi bicara soal perayaan Imlek, atau mudik yang terjadi pada saat Lebaran, atau perayaan Naik Dango dan sebagainya. Semua daya tarik dan potensi wisata yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota jangan hanya sebatas wacana, namun harus digarap secara serius dan profesional. 


          Kota Banjarmasin memiliki Pasar Wadai yang dibuka sore hari selama bulan Ramadhan menjelang buka puasa. Pasar dadakan yang menjaja kue-kue ini seperti semacam festival yang selalu dipadati oleh masyarakat Banjarmasin maupun turis dari luar. Selama sebulan penuh, pengunjung dapat menikmati keramaian dan membeli pelbagai jenis jajanan dan kue khas Banjar untuk buka puasa. Penulis sendiri sangat terkesan dengan pasar kue yang diselenggarakan setiap tahun ini. Kenapa Singkawang tidak memprogramkan potensi semacam ini? Untuk mendapat masukan penyelenggaraannya tinggal dilakukan studi banding ke Kota Banjarmasin pada saat Ramadhan. Hal serupa juga dapat diterapkan dalam musim-musim perayaan tertentu, jika ingin sungguh-sungguh mewujudkan Kota Singkawang sebagai Kota Pariwisata. 

          Sebenarnya setiap orang kelahiran Singkawang atau orang luar yang pernah berkunjung bisa menjadi agen atau duta yang dapat mempromosikan Singkawang. Hanya saja Singkawang kekurangan alat untuk melakukan promosi itu. Souvenirs kaos dan lain-lainnya yang penulis maksudkan dalam strategi pertama dalam tulisan ini sebenarnya dapat menjadi alat promosi. Jika kita sering melihat orang memakai kaos bertulisan Hawaii, Hardrock Cafe, Bali, dan sebagainya, lalu kenapa Singkawang tidak menyediakan kaos seperti itu?


 

          Setiap orang yang memakainya di luar Singkawang akan turut mempromosikan Singkawang, disamping itu tentu harus disertai dengan pelbagai promosi lainnya. Tahun lalu penulis pergi ke Vietnam dan membeli beberapa kaos bertulisan Saigon, yaitu nama lama untuk kota Hochiminh City. Memang tidak luar biasa, namun kesan bahwa kita pernah mengunjungi tempat tersebut akan tertanam dalam sanubari kita, lebih-lebih lagi jika tempat yang pernah dikunjungi itu menarik dan memberikan kesan yang menyenangkan, maka kita akan menjadi agen atau duta yang menceritakan eksotika tempat tersebut. Tentu tulisan ini akan tetap menjadi sekedar wacana jika tidak ada upaya untuk menerapkan. Jika peluang ini dilewatkan, quo vadis Capgomeh Singkawang?


 


Ó Hasan Karman 

http://www.singkawang.us/modules.php?name=News&file=article&sid=65&mode=flat&order=0&thold=0

 



=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke