Sabtu, 27 Mei 2006
Beraktifitas Dengan Prinsip Cinta Kasih Universal
Melihat Dari Dekat Hasil Karya Nyata Tzu Chi (bagian 3)


Jakarta,-  Yayasan Budha Tzu Chi di Indonesia merupakan salah satu kantor cabang dari 39 kantor cabang yang ada. Yayasan Budha Tzu Chi didirikan oleh master Cheng Yen pada tahun 1966. Di Indonesia, Yayasan Budha Tzu Chi berdiri pada 28 September 1994. Yayasan ini berpusat di Hualien, Taiwan.

Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras dan negara yang mendasarkan aktivitasnya pada prinsip cinta kasih universal. Dalam beraktivitas, Tzu Chi membaginya menjadi empat misi utama. Misi utama itulah yang kemudian dilaksanakan oleh para relawan dalam berkarya nyata tanpa pamrih.

Empat misi utama Yayasan Budha Tzu Chi Internasional itu adalah misi kemanusiaan. Misi ini membantu masyarakat yang tidak mampu maupun yang tertimpa bencana alam atau musibah. Misalnya saja misi kemanusiaan yang dilakukan di Aceh usai bencana Tsunami. Penyebaran cinta kasih di Aceh itu menjadi salah satu dari sekian banyak kegiatan kemanusiaan yang dilakukan. Tak hanya ditempat bencana alam atau musibah. Misi kemanusiaan juga dilaksanakan di tempat-tempat yang memerlukan uluran cinta kasih dari sesama. Seperti misalnya yang sedang dilaksanakan di kota Singkawang yakni pembagian beras cinta kasih. Dikatakan Wijaya Kurniawan, selaku ketua panitia pelaksana pembagian beras cinta kasih di Singkawang, pembagian beras cinta kasih itu merupakan salah satu langkah bagi warga yang kurang mampu untuk "membuka pintu" sehingga dapat pula diketahui permasalahan lainnya yang dapat diberikan bantuan. Misalnya saja di bidang kesehatan yang sesuai dengan misi Yayasan Budha Tzu Chi pula.

Misi Tzu Chi lainnya adalah misi kesehatan. Dalam misi ini Yayasan Tzu Chi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, mendirikan rumah sakit, sekolah kedokteran, dan poliklinik. Kegiatan bakti sosial di perumahan Cinta Kasih Cengkareng merupakan salah satu contoh nyata dari misi kesehatan Tzu Chi. Menurut Agus Rijanto Suryasim, salah seorang relawan Tzu Chi, bakti sosial berupa pengobatan gratis kepada warga kurang mampu itu digelar dalam rangkaian kegiatan 40 tahun Yayasan Budha Tzu Chi Internasional dan peringatan Hari Waisak.

"Misi kesehatan inilah yang kita harapkan dapat juga dilaksanakan di Singkawang usai kegiatan sosial dan kemanusiaan pembagian beras Cinta Kasih Tzu Chi," timpal Maya Satrini, salah seorang relawan dari Singkawang yang hadir dan menyaksikan dari dekat karya nyata Yayasan Budha Tzu Chi dalam kegiatan bakti sosial di Jakarta. Maya mengatakan pula, jika ada keinginan dari Yayasan Tzu Chi hendak melakukan misi kesehatan di Singkawang, maka sebagai salah satu relawan dari Singkawang, dirinya menyatakan kesiapannya. "Relawan jelas harus siap dimana pun berada dan tugas apapun yang diberikan," tegas Maya sembari berinteraksi dengan para pasien yang sedang mendapatkan pelayanan dari misi kesehatan di Poliklinik Cinta Kasih Tzu Chi.

Kemudian misi pendidikan dinilai juga berkaitan erat dengan misi lainnya. Didalam misi ini mengusahakan agar pendidikan dapat dinikmati seluas-luasnya, antara lain melalui program anak asuh, bantuan renovasi gedung sekolah dan mendirikan sekolah. Floren, yang juga baru hitungan bulan bergabung sebagai salah seorang relawan mengatakan pendidikan merupakan salah satu kunci untuk menapaki masa depan. Pendidikan yang baik akan menyadarkan seseorang untuk memahami betapa pentingnya kesehatan. Sedangkan kesehatan yang baik sangat menunjang seseorang untuk menikmati pendidikan dengan lancar. "Dua misi ini bersama dengan misi lainnya jelas tidak dapat dipisahkan. Saling terkait," kata Floren memberikan gambaran.

Selanjutnya misi kebudayaan, dimana misi ini menyebarluaskan budaya cinta kasih yang universal. Cinta kasih universal itulah yang merupakan prinsip dari Yayasan Budha Tzu Chi sebagai lembaga sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras dan negara. "Dalam melakukan misi ini, setiap anggota Tzu Chi dibekali dengan suatu falsafah bahwa dalam memberikan bantuan mereka tidak membedakan agama, ras, kebudayaan dan bahkan batas-batas negera serta tidak mempunyai kepentingan politik dalam berbagai kegiatan sosialnya," kata Rudy Rusli salah seorang relawan Tzu Chi, Sabtu (20/5) siang.

Matahari semakin merangkak di ketinggian Sabtu itu. Namun sinarnya tak mampu menyurutkan aktifitas sosial yang dilaksanakan. Beberapa relawan silih berganti menuju belakang Poliklinik Cinta Kasih Tzu Chi. Ya, waktunya makan siang namun bukan berarti para pasien pun tak dilayani. Ratusan relawan tetap bekerja bergantian sesuai tugas masing-masing. Para pasien yang masih menunggu giliran pun mendapatkan menu makan siang. Ada pemandangan unik saat para relawan usai makan siang. Terlihat beberapa antrian di salah satu pojok bangsal di belakang Poliklinik. Ternyata sehabis makan atau minum, semua relawan mencuci peralatan makan dan minumnya sendiri. Praktis, tak ada pemandangan peralatan makan dan minuman yang telah digunakan menumpuk. Yang ada hanya tumpukan peralatan makan dan minum yang teronggok bersih di beberapa keranjang yang siap digunakan lagi.

Cinta kasih Tzu Chi terus mengalir. Tidak hanya pada saat bakti sosial di hari kedua di komplek rumah susun Cinta Kasih, tetapi akan terus mengalir karena misi kemanusiaan tidak akan pernah berhenti. (habis)




=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke