Cross-posting dari milist sebelah
 
Salam,
Hendy Lie
 
 
 
----- Original Message -----
From: SM Hutagalung 
Sent: Wednesday, September 06, 2006 1:23 PM
Subject: Re: [alumni_smpb_skw] Sejarah Katolik di Singkawang [2]

Dear Hendy Lie,
 
Pada alinea ke 12 Sejarah Katolik di Singkawang (2), terdapat info perihal adanya berita akan adanya Zending Protestan yang akan ke Borneo, dapat saya tambahkan bahwa memang selanjutnya terwujud juga pengiriman zending tsb.  Yang saya tahu bahwa pengiriman zending tsb ada 3 (tiga) gelombang, hanya tidak ada data tahun dan orangnya karena memang ini cerita dari mulut ke mulut saja.  Zending yang dikirim adalah dari gereja yang ada di Tapanuli Utara (Tarutung) karena pada waktu itu pusat zending yang kuat dengan basis negara Jerman adalah disana (ingat Nomensens yang wafat di Tapanuli thn 1918 ?).
Yang saya tahu adalah salah seorang dan only one untuk gelombang ketiga adalah kakek saya sendiri yaitu GR HERMANUS HUTAGALUNG.
Beliau tiba di Singkawang dari Tapanuli (Tarutung) pada bulan Desember 1917 dan selanjutnya bertugas di Singkawang dan Monterado/Samalantan hingga ditawan dan dibunuh oleh Jepang pada tahun 1942 di Mandor dalam usia menjelang 60 an.
Makanya jangan heran kalo saya mereknya Tapanuli tapi kelakuannya "Singkawang" dan bahasanya "Khek" ha 3x.
Mudah-2an bermanfaat.
 
Saur M Hutagalung / 1971 - 1973


Hendy Lie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
SEJARAH SINGKAT GEREJA KATOLIK DI KALIMANTAN

Menurut data-data arsip Ordo Fransiskan mencatat bahwa pada tahun 1313 Kalimantan didatangi oleh seorang pastor Fransiskan. (Berita selanjutnya tidak diketahui).

Selama abad 16 banyak misionaris mengunjungi Indonesia, tetapi tidak seorangpun yang ke Kalimantan. Ini berlangsung sampai tahun 1688, ketika akhirnya datang lagi beberapa imam dari Kongregasi Theatin ke Kalimantan.
Tahun 1847 Mgr. Vrancken mengadakan kontak pertama dengan Ordo Yesuit untuk membicarakan tentang Kalimantan. Dalam tahun yang sama Vikaris berunding dengan G.G. Rochussen, lantas dengan Residen Willer dari Sambas dan Pontianak dengan hasil keputusan bahwa: G.G. tidak ada keberatan misi mulai bekerja di Kalimantan Barat, asal di daerah di mana belum ada pendeta.

Dalam tahun 1851-1853 pastor Sanders beberapa kali mengadakan perjalanan yang jauh di Kalimantan Barat dan Timur, untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pembukaan misi.

Tahun 1862 Pastor van Grinten berkeliling di pelbagai daerah orang Daya di Kalimantan Barat. Laporan mereka optimis, tetapi bertahun-tahun lamanya tidak ada berita lagi. Hal ini disebabkan karena kekurangan tenaga dan waktu itu di Kalimantan Barat cukup lama kurang aman, dan sering kali terjadi pertentangan yang kadang-kadang berdarah antara pemerintah dengan kongsi-kongsi yang berkuasa di sana.

Umat Katolik Kalimantan Barat dikunjungi oleh para misionaris dari Jakarta. Pater de Vries dalam tahun 1865 bertemu di Singkawang dengan seorang Tionghoa yang sudah dipermandikan di Singapura atau Penang, dan yang sudah mendapat lima orang katekumen. Dalam tahun-tahun berikutnya tidak ada berita lagi.

Dalam tahun 1872 pastor Timmermans mengunjungi Kal-Bar disertai oleh Petrus Chang, seorang katekis yang datang dari Tionghoa dan akan bekerja di Bangka.

Antara 7 Mei dan 12 Juli 1874 pater de Vries mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Singkawang dan Montrado. Di Singkawang ada umat Katolik Cina dengan 51 orang yang sudah dipermandikan, ada yang menjadi Katolik di Singkawang sendiri, ada yang datang dari Bangka atau Malaya.

Di Pontianak masih terdapat enam orang Tionghoa yang Katolik, dan sekian juga di Montrado. Di tiga kota ini Pater de Vries telah mengangkat seorang “sensang” atau katekis; sensang di Pontianak ternyata mencandu, lalu dipecat. Di Singkawang seorang putri Tionghoa menyumbangkan sebidang tanah dengan 700 pohon kelapa. Sebuah gereja dibangun di sana, dengan sebuah kamar untuk pastor. Koster penjaga mendapat hasil dari pohon-pohon kelapa itu sebagai gajinya.

Karena umat Katolik sedikit demi sedikit bertambah, Pater de Vries dan Pater Staal SJ yakin bahwa harus ditempatkan seorang pastor tetap. Dalam tahun 1880 sudah ada umat Katolik 110 orang, yang hampir semuanya diam di Singkawang. Tahun 1884 beberapa pastor Mill Hill dari Borneo Inggris menawarkan diri untuk bekerja di Kalimantan Barat, tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1885 G.G. van Rees mengizinkan didirikan stasi Singkawang yang meliputi Kalimantan Barat dengan 150, dan pulau Belitung 100 orang Tionghoa Katolik. Di samping itu masih terdapat 100 dan 200 orang Belanda sipil, dan sejumlah tentara yang tidak tetap. Pater Staal SJ sebagai pastor Paroki yang pertama. Maksud utama misi Singkawang ialah mendirikan basis bagi karya misi di antara orang-orang Daya. Beberapa kali pastor Staal mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi. Nasihatnya adalah supaya misi dimulai di antara orang-orang Daya yang diam di sekitar Bengkayang, khususnya di Kampung Sebalau, daerah itu tidak terlalu jauh dari Singkawang sehingga antara pastor Sebalau dan pastor Singkawang bisa selalu mengadakan kontak. Residen Gijsbers dari Pontianak menganjurkan agar Pater Staal juga mengunjungi daerah alin:lima hari berlayar memudiki sungai Kapuas sampai Semitau, pusat orang-orang Daya dari suku Rambai, Sebruang, dan Kantuk.

Walaupun orang-orang Daya di sana baik, namun karena jumlah mereka sekitar 1500 jiwa saja, dan perjalanan sulit sekali maka Pater Staal tetap pada nasehatnya di Sebalau.

Karena belum ada misionaris, misi Daya diundur-undurkan saja, sampai tahun 1888-1889 ketika ada kabar bahwa salah satu Zending Protestan mungkin akan bekerja di sana, setelah itu tentu daerah itu tertutup bagi Misi Katolik. Karena sudah dijanjikan tambahan tenaga dari Negeri Belanda, Mgr. Claessens mohon izin untuk membuka dua pos baru, yaitu di Bengkayang dan di Nanga Badan, dekat perbatasan Sarawak Inggris, tempat menjabat seorang Kontrolir.

G.G. Pijnacker Hordijk tidak keberatan, namun menganjurkan supaya Semitau dipilih karena lebih gampang dicapai, apalagi pos Kontrolir Nanga Badan juga dipindahkan ke sana. Akhirnya Bengkayang tidak dipilih, karena terletak di daerah kuasa Sultan Sambas di mana para pejabatnya semua beragama Islam dan tidak ada garansi bahwa mereka tidak akan menghalang karya misi di antara orang-orang Daya yang masih kafir.

Yang dipilih untuk misi baru itu ialah Pater H. Looymans, pastor di Padang (Sumatera Barat). Tanggal 29 Juli 1890 tiba di Kalimantan. Belum lama ia di Semitau, tapi jelas baginya bahwa Semitau bukan tempat yang ideal; daerah ini merupakan pusat perdagangan bagi daerah di sekitarnya, tetapi penduduknya hanya terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Melayu, dan kontak lebih mendalam dengan orang-orang Daya hampir tidak mungkin. Karena itu ia pindah ke Sejiram , di tepi sungai Sebruang. Daerah ini cukup banyak penduduknya dan menerima Pastor dengan ramah tamah. Pada puncak bukit dibangun rumah sederhana. Dengan itu mulailah stasi kedua di Sejiram.

Sementara itu perkembangan Gereja Katolik di luar Kalimantan semakin meningkat, khususnya di Jawa dan Flores, sehingga sangat memerlukan tenaga. Karena tidak ada tenaga baru, maka dua pastor yang berada di Sejiram dan Singkawang di tarik kembali. Ini terjadi pada tahun 1897. Tahun-tahun selanjutnya Singkawang masih dapat dikunjungi oleh seorang pastor dari Bangka dua kali setahun, sedangkan Sejiram tidak mendapat kunjungan sama sekali.
 
 
__._,_.___

=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================





SPONSORED LINKS
Pontianak hotel indonesia Pontianak indonesia hotel

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke