SEJARAH SINGKAT GEREJA
KATOLIK DI KALIMANTAN
Menurut data-data arsip Ordo Fransiskan
mencatat bahwa pada tahun 1313 Kalimantan didatangi oleh seorang pastor
Fransiskan. (Berita selanjutnya tidak diketahui).
Selama abad 16 banyak misionaris
mengunjungi Indonesia, tetapi tidak seorangpun yang ke Kalimantan. Ini
berlangsung sampai tahun 1688, ketika akhirnya datang lagi beberapa imam dari
Kongregasi Theatin ke Kalimantan.
Tahun 1847 Mgr. Vrancken mengadakan
kontak pertama dengan Ordo Yesuit untuk membicarakan tentang Kalimantan. Dalam
tahun yang sama Vikaris berunding dengan G.G. Rochussen, lantas dengan Residen
Willer dari Sambas dan Pontianak dengan hasil keputusan bahwa: G.G. tidak ada
keberatan misi mulai bekerja di Kalimantan Barat, asal di daerah di mana belum
ada pendeta.
Dalam tahun 1851-1853 pastor Sanders
beberapa kali mengadakan perjalanan yang jauh di Kalimantan Barat dan Timur,
untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pembukaan misi.
Tahun 1862 Pastor van Grinten
berkeliling di pelbagai daerah orang Daya di Kalimantan Barat. Laporan mereka
optimis, tetapi bertahun-tahun lamanya tidak ada berita lagi. Hal ini
disebabkan karena kekurangan tenaga dan waktu itu di Kalimantan Barat cukup
lama kurang aman, dan sering kali terjadi pertentangan yang kadang-kadang
berdarah antara pemerintah dengan kongsi-kongsi yang berkuasa di
sana.
Umat Katolik Kalimantan Barat
dikunjungi oleh para misionaris dari Jakarta. Pater de Vries dalam tahun 1865
bertemu di Singkawang dengan seorang Tionghoa yang sudah dipermandikan di
Singapura atau Penang, dan yang sudah mendapat lima orang katekumen. Dalam
tahun-tahun berikutnya tidak ada berita lagi.
Dalam tahun 1872 pastor Timmermans
mengunjungi Kal-Bar disertai oleh Petrus Chang, seorang katekis yang datang
dari Tionghoa dan akan bekerja di Bangka.
Antara 7 Mei dan 12 Juli 1874 pater
de Vries mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Singkawang dan
Montrado. Di Singkawang ada umat Katolik Cina dengan 51 orang yang sudah
dipermandikan, ada yang menjadi Katolik di Singkawang sendiri, ada yang datang
dari Bangka atau Malaya.
Di Pontianak masih terdapat enam
orang Tionghoa yang Katolik, dan sekian juga di Montrado. Di tiga kota ini
Pater de Vries telah mengangkat seorang sensang atau katekis; sensang di
Pontianak ternyata mencandu, lalu dipecat. Di Singkawang seorang putri
Tionghoa menyumbangkan sebidang tanah dengan 700 pohon kelapa. Sebuah gereja
dibangun di sana, dengan sebuah kamar untuk pastor. Koster penjaga mendapat
hasil dari pohon-pohon kelapa itu sebagai gajinya.
Karena umat Katolik sedikit demi
sedikit bertambah, Pater de Vries dan Pater Staal SJ yakin bahwa harus
ditempatkan seorang pastor tetap. Dalam tahun 1880 sudah ada umat Katolik 110
orang, yang hampir semuanya diam di Singkawang. Tahun 1884 beberapa pastor
Mill Hill dari Borneo Inggris menawarkan diri untuk bekerja di Kalimantan
Barat, tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.
Tahun 1885 G.G. van Rees mengizinkan
didirikan stasi Singkawang yang meliputi Kalimantan Barat dengan 150, dan
pulau Belitung 100 orang Tionghoa Katolik. Di samping itu masih terdapat 100
dan 200 orang Belanda sipil, dan sejumlah tentara yang tidak tetap. Pater
Staal SJ sebagai pastor Paroki yang pertama. Maksud utama misi Singkawang
ialah mendirikan basis bagi karya misi di antara orang-orang Daya. Beberapa
kali pastor Staal mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi. Nasihatnya
adalah supaya misi dimulai di antara orang-orang Daya yang diam di sekitar
Bengkayang, khususnya di Kampung Sebalau, daerah itu tidak terlalu jauh dari
Singkawang sehingga antara pastor Sebalau dan pastor Singkawang bisa selalu
mengadakan kontak. Residen Gijsbers dari Pontianak menganjurkan agar Pater
Staal juga mengunjungi daerah alin:lima hari berlayar memudiki sungai Kapuas
sampai Semitau, pusat orang-orang Daya dari suku Rambai, Sebruang, dan
Kantuk.
Walaupun orang-orang Daya di sana
baik, namun karena jumlah mereka sekitar 1500 jiwa saja, dan perjalanan sulit
sekali maka Pater Staal tetap pada nasehatnya di Sebalau.
Karena belum ada misionaris, misi
Daya diundur-undurkan saja, sampai tahun 1888-1889 ketika ada kabar bahwa
salah satu Zending Protestan mungkin akan bekerja di sana, setelah itu tentu
daerah itu tertutup bagi Misi Katolik. Karena sudah dijanjikan tambahan tenaga
dari Negeri Belanda, Mgr. Claessens mohon izin untuk membuka dua pos baru,
yaitu di Bengkayang dan di Nanga Badan, dekat perbatasan Sarawak Inggris,
tempat menjabat seorang Kontrolir.
G.G. Pijnacker Hordijk tidak
keberatan, namun menganjurkan supaya Semitau dipilih karena lebih gampang
dicapai, apalagi pos Kontrolir Nanga Badan juga dipindahkan ke sana. Akhirnya
Bengkayang tidak dipilih, karena terletak di daerah kuasa Sultan Sambas di
mana para pejabatnya semua beragama Islam dan tidak ada garansi bahwa mereka
tidak akan menghalang karya misi di antara orang-orang Daya yang masih
kafir.
Yang dipilih untuk misi baru itu
ialah Pater H. Looymans, pastor di Padang (Sumatera Barat). Tanggal 29 Juli
1890 tiba di Kalimantan. Belum lama ia di Semitau, tapi jelas baginya bahwa
Semitau bukan tempat yang ideal; daerah ini merupakan pusat perdagangan bagi
daerah di sekitarnya, tetapi penduduknya hanya terdiri dari orang-orang
Tionghoa dan Melayu, dan kontak lebih mendalam dengan orang-orang Daya hampir
tidak mungkin. Karena itu ia pindah ke Sejiram , di tepi sungai Sebruang.
Daerah ini cukup banyak penduduknya dan menerima Pastor dengan ramah tamah.
Pada puncak bukit dibangun rumah sederhana. Dengan itu mulailah stasi kedua di
Sejiram.
Sementara itu perkembangan Gereja
Katolik di luar Kalimantan semakin meningkat, khususnya di Jawa dan Flores,
sehingga sangat memerlukan tenaga. Karena tidak ada tenaga baru, maka dua
pastor yang berada di Sejiram dan Singkawang di tarik kembali. Ini terjadi
pada tahun 1897. Tahun-tahun selanjutnya Singkawang masih dapat dikunjungi
oleh seorang pastor dari Bangka dua kali setahun, sedangkan Sejiram tidak
mendapat kunjungan sama sekali.