Note: forwarded message attached.


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___

=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================





SPONSORED LINKS
Pontianak hotel indonesia Pontianak indonesia hotel

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
--- Begin Message ---

Note: forwarded message attached.


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
--- Begin Message ---
 
 

 

 

 KISAH POHON APEL


             Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak
lelaki yang senang
             bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.


             Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya,
tidur-tiduran di
             keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu.
             Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.


             Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh
besar
dan tidak lagi
             bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu
hari
ia mendatangi pohon
             apel. Wajahnya tampak sedih.


             "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel
itu.

             "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon
lagi."
jawab anak lelaki itu.

             "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang
untuk membelinya."

             Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya
uang...
tetapi kau boleh
             mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli
             mainan kegemaranmu."


             Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah
apel
yang ada di pohon dan
             pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak
lelaki
tak pernah datang lagi.
             Pohon apel itu kembali sedih.


             Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat
senang melihatnya datang.

             "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.


             "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.


             "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan
rumah
untuk tempat tinggal.
             Maukah kau menolongku?"


             "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang
semua dahan rantingku
             untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.


             Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting
pohon apel itu dan pergi
             dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang,
             tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
itu
merasa kesepian dan
             sedih.


             Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel merasa sangat
             bersuka cita menyambutnya.


             "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.


             "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan
ingin
hidup tenang. Aku ingin
             pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?"

             "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong
batang
tubuhku dan
             menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.


             Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak
lelaki itu memotong batang
             pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia
lalu
pergi berlayar dan tak
             pernah lagi datang menemui pohon apel itu.


             Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah
bertahun-tahun
kemudian.

             "Maaf anakku," kata pohon apel itu.


             "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."


             "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit
buah
apelmu."

             Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan
dahan
yang bisa kau
             panjat." Kata pohon apel.


             "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak
lelaki
itu.

             "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku
berikan padamu.

             Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat
ini." Kata pohon apel
             itu sambil menitikkan air mata.


             "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak
lelaki.


             "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku
sangat
lelah setelah sekian
             lama meninggalkanmu."


             "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua
adalah
tempat terbaik untuk
             berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di
pelukan
akar-akarku dan
             beristirahatlah dengan tenang."


             Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.


             Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil
meneteskan
air matanya.

             Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu
adalah
orang tua kita. Ketika
             kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu
kita.


             Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan
hanya
datang ketika kita
             memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa
pun,
orang tua kita akan
             selalu ada di
sana untuk memberikan apa yang bisa mereka
berikan untuk membuat kita
             bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar
             pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan
orang
tua kita.

             Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.
Dan,
yang terpenting:
             cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita
sekarang, betapa kita
             mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang
telah dan akan
             diberikannya pada kita.

 

 

 

 

 

 


--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke