|
Rabu, 18 Oktober 2006 Bandara Supadio Lumpuh
Pontianak,- Kabut asap
mencapai klimaknya kemarin. Jarak pandang yang hanya 150-300 meter di Bandara
Supadio Pontianak memaksa PT Angkasa Pura II menghentikan sementara aktivitas
bandara hingga besok. Keputusan ini diambil setelah dilakukan pertemuan dengan
maskapai penerbangan dan Badan Meteorologi dan Geofisika.
General
Manager PT Angkasa Pura II, Syamsul Bachri kepada Pontianak Post usai pertemuan
menjelaskan kabut asap yang cukup tebal menyebabkan mereka mengambil keputusan
untuk menghentikan aktivitas bandara. BMG menyatakan kondisi kabut asap saat
ini belum bisa pulih dalam waktu cepat. Sehingga maskapai memutuskan tidak
melayani penerbangan dari dan menuju Kota Pontianak, ungkap Syamsul.
Dia mengatakan kabut asap menyebabkan jarak pandang sangat terbatas.
Pada pukul 08.00 WIB jarak pandang sekitar 150 hingga 300 meter. Kondisi ini
sangat tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan atau lepas landas dengan
aman. Keselamatan penumpang lebih diutamakan sehingga maskapai tidak mau
mengambil risiko dengan menembus kabut asap ini.
Syamsul mengatakan
Batavia Air tidak melayani penerbangan dari dan menuju Pontianak hingga tanggal
19 Oktober. Sedangkan Sriwijaya Air menjadwalkan tidak terbang hingga tanggal 18
Oktober. Demikian juga dengan Adam Air, yang tidak beroperasi hingga 18 Oktober.
Dengan demikian, rute yang melayani penerbangan Malaysia-Pontianak dan
Pontianak-Malaysia juga tidak akan terbang hingga 18 Oktober, jelasnya. Begitu
juga dengan penerbangan perintis, Pontianak-Ketapang dan Pontianak-Putussibau,
juga ditiadakan.
Kerugian Miliaran Rupiah
Penghentian
aktivitas ini tentu saja membuat PT Angkasa Pura II mengalami kerugian. Kerugian
berasal dari landing fee serta take off fee pesawat, airport tax serta rute
charge maskapai penerbangan. Dalam keadaan normal dan aktivitas berjalan dengan
lancar, sehari sedikitnya sekitar 1.500 penumpang pesawat yang datang maupun
meninggalkan bandara.
Lumpuhnya penerbangan tak hanya menyebabkan
kerugian terhadap PT Angkasa Pura II saja, melainkan banyak pihak yang juga
mengalami kerugian. Sebab di bandara juga banyak pekerja-pekerja lainnya, ujar
Samsul. Misalnya Pertamina, perusahaan kargo, taksi dan lainnya. Pendapatan
mereka praktis juga berkurang.
Kepala Batavia Perwakilan Pontianak, HM
Yunan Ismail menjelaskan kerugian besar mereka alami akibat terhentinya
aktivitas ini. Batavia tidak beroperasi mulai 17 Oktober hingga 19 Oktober.
Dalam keadaan normal, Batavia bisa melakukan penerbangan sebanyak lima kali ke
Jakarta dengan jumlah penumpang berkisar antara 800 hingga 900 penumpang.
Dengan jumlah penumpang sebanyak itu, maka Batavia akan mengalami
kerugian sebesar Rp400 juta hingga Rp500 juta per harinya. Berarti jika kami
tidak beroperasi selama 3 hari, maka kerugian bisa mencapai Rp1,2 miliar, kata
Yunan.
Apalagi menjelang hari raya Idul Fitri, lanjutnya, penumpang
sangat ramai. Dengan tidak beroperasinya Batavia, kata Yunan, karyawannya
menjadi sibuk mengembalikan tiket para penumpang. Namun, untuk penumpang yang
masih ingin tetap berangkat, keberangkatannya akan ditunda dan masuk ke dalam
waiting list. Mereka akan diberangkatkan sampai keadaan normal kembali.
Yunan mengungkapkan jika kabut asap mulai menghilang, Batavia akan
segera beroperasi. Jika tanggal 19 Oktober kabut asap mulai menghilang dan
jarak pandang normal kembali, kami akan segera beroperasi. Jika jarak pandang
tetap sekitar 300 meter, maka kami tidak berani melakukan penerbangan. Dengan
jarak pandang segitu dapat membahayakan penumpang pesawat, kata Yunan. Selain
Batavia, maskapai lain yang melayani Rute Pontianak-Jakarta yakni Adam Air dan
Sriwijaya Air.
Berdasarkan pantauan Pontianak Post, pada pukul 09.00
WIB, Bandara Supadio masih dipenuhi para penumpang yang akan berangkat ke luar
Kalbar. Begitu pula dengan terminal kedatangan, banyak dipenuhi para penjemput.
Sebagian besar penumpang belum mengetahui tidak adanya aktivitas penerbangan
baik ke Kalbar maupun ke luar Kalbar.
Mungkin tidak jadi berangkat ya?
Katanya pesawat tidak berani turun karena kabut tebal. Padahal ingin cepat
pulang ke Jakarta. Mau lebaran sama orangtua di sana, ujar Rino, seorang
mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Kalbar yang berasal dari Jakarta.
Sekitar pukul 16.00 WIB, Bandara Supadio sudah tampak lengang. Tidak ada
satu pun penumpang yang berada di sana karena mereka sudah mengetahui mengenai
lumpuhnya penerbangan. Hanya terdapat beberapa kotak-kotak di dalam troli yang
berada di terminal keberangkatan.
Perburuk Citra Kalbar
Pada kesempatan terpisah, Pengamat Ekonomi dari Untan, Dian Patria
mengatakan lumpuhnya penerbangan jelas merusak perekonomian, terutama intensitas
perekonomian. Selain itu juga mengganggu kegiatan distribusi.
Tentu
saja hal ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi Kalbar, kata Dian.
Terganggunya aktivitas barang menyebabkan harga barang menjadi mahal
sehingga akan memberatkan masyarakat. Selain itu juga dapat mengganggu
kesempatan kerja. Dian menyebutkan tentu saja hal tersebut dapat merusak citra
Kalbar. Kedepannya para investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modal
dan membuka usaha di Indonesia. Bahkan bisa-bisa investor tidak mau berinvestasi
di Kalbar ini, katanya.
Dian mengatakan sebaiknya pemerintah segera
mengatasi masalah asap yang melanda Kalbar sekarang ini. Dia meminta pemerintah
jangan berbicara yang muluk-muluk.
Sekarang ini tidak usah banyak
bicara. Selesaikan dulu masalah yang ringan saja. Seperti di sepanjang Jalan A
Yani. Masih banyak titik api. Namun pemerintah belum dapat mengatasinya. Jika
perlu seperti Gubernur Kalteng. Siap mundur jika tidak bisa mengatasi masalah
asap, tutur Dian.
Saat ini, lanjutnya, masalah asap sudah merupakan
kejadian yang luar biasa. Selain terganggunya perekonomian, asap juga
menyebabkan kerugian di sektor lainnya. Seperti masalah kesehatan. Dia
menyebutkan banyak masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat asap tersebut.
Dian mengharapkan kepada pemerintah jangan sibuk studi banding saja
untuk mengatasi masalah asap tersebut. Jika perlu undang narasumbernya ke
Kalbar. Jadi jangan banyak bicara. Yang penting tindakan untuk mengatasi masalah
asap ini, tegas Dian.
Periksa Dua Perusahaan
Masih
mengenai kabut asap, Kepala Badan Pengendalian dan Dampak Lingkungan Kalbar, Tri
Budiarto kepada Pontianak Post mengatakan pihaknya Senin kemarin telah
merampungkan pemeriksaan terhadap dua perusahaan yang diduga melakukan
pembakaran lahan dengan sengaja untuk land clearing.
Dua perusahaan
tersebut merupakan tahapan kedua dan ketiga dari pemeriksaan sampel terhadap
empat perusahaan yang telah menjadi tersangka dalam kasus pembakaran lahan dan
kasusnya tengah ditangani Polda Kalbar, kata dia.
Dua perusahaan yang
diambil sampel tanah dan tanamannya adalah PT AI dan PT CS, yang masing-masing
diduga menyebabkan sekitar 500 hektar lahan terbakar.
Tri mengatakan hal
ini merupakan salah satu jawaban dari keinginan masyarakat terhadap kinerja
pemerintah daerah dalam mengatasi masalah kebakaran lahan. Bapedalda Kalbar
dengan keterbatasan anggaran yang ada berupaya untuk menjalankan kewajiban dalam
pengawasan lingkungan, lanjutnya.
Anggaran dalam APBD untuk mengatasi
hal ini dirasakan belum mencukupi untuk operasional dalam menangani kasus
kebakaran lahan. Bapedalda Kalbar sendiri mendatangkan saksi ahli dari
Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian
Bogor.
Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi Bapedalda untuk tetap
menjalankan tugasnya. Tri mengatakan, dia akan berupaya untuk menjolok dana dari
APBN dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan penyidikan terhadap kasus
kebakaran lahan ini.Kita tunjukkan dulu kinerja, sehingga pemerintah pusat
dapat melihat keseriusan kita dalam menangani masalah ini, katanya.(lev/uni)
__._,_.___
=====================================================
~~~~~~~~~~ Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ~~~~~~~~~~
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================
SPONSORED LINKS
__,_._,___
|