----- Original Message ----- 
From: Hendy Lie 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, December 21, 2006 5:47 PM
Subject: [alumni_smpb_skw] Sejarah Hari Ibu - 22 Desember




Ibu


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah. penuh nanah

Seperti udara. kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas.ibu.ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil duluLalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas.ibu.ibu..

oleh : Iwan Fals



http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/22/sejarah-hari-ibu/

Sejarah Hari Ibu

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai 
perayaan nasional. Berbeda dengan di Amerika dan Kanada yang merayakan Hari Ibu 
atau Mother's Day pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei.

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan 
Kongres Perempuan di tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda. Organisasi perempuan 
sendiri sudah bermula sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita 
abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. 
Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna 
Said dan lain-lain. 

Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan mengadakan 
kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini 
dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani), kongres berikutnya diadakan 
di Jakarta dan Bandung.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa 
tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional, hingga kini.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi 
menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan 
ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu 
sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women 
(ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap 
Perserikatan Bangsa-bangsa.

Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen, setahun 
berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) 
untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 
1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan 
kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, 
Yogyakarta. 


  

Kirim email ke