Download video-nya di sini: http://www.singkawang.us/modules.php?name=Downloads&d_op=viewdownload&cid=10
Kota Singkawang di Kalimantan Barat dikenal memiliki arsitektur khas oriental. Sejumlah rumah bergambar naga dan bangunan kelenteng, rumah ibadah warga keturunan Tionghoa, menunjuk tegas siapa pemiliknya. Ini tak heran karena sekitar 42 persen penduduknya adalah warga etnis Cina. Selebihnya adalah warga Dayak, Melayu, dan etnis Indonesia lainnya. Sejarah kedatangan warga Tionghoa ke kota ini cukup panjang. Dulunya Singkawang merupakan bagian dari Kerajaan Sambas. Saat itu, daerah-daerah di Kerajaan Sambas memiliki banyak sumber emas. Pada abad ke-18 warga Tionghoa kemudian mulai berdatangan untuk bekerja di sejumlah tambang emas setempat. Sejak itu mulailah imigrasi resmi warga Cina ke daerah ini. Singkawang lalu dipilih sebagai tempat berdomisili. Walau telah meninggalkan tanah leluhur, namun warga Tionghoa ini masih mempertahankan tradisi nenek moyang mereka. Hal ini terlihat menjelang datangnya Hari Raya Imlek. Menyambut Tahun Baru Cina ini, mereka menghiasi rumah dan kelenteng dengan pernak-pernik warna merah. Bahkan saking banyaknya kelenteng di Singkawang, membuat daerah ini juga dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng. Kelenteng atau pekong--demikian warga setempat menyebut--memiliki nilai khusus. Selain buat tempat beribadah, pekong juga dipercaya sebagai tempat perlindungan. Mereka juga dapat meramal nasib dengan memilih ciamsi yaitu sejumlah bilah bambu yang telah ditulis dengan nomor tertentu dan dimasukkan ke dalam tabung bambu. Salah satu dari deretan pekong yang terletak di tengah kota ini adalah Vihara Tridarma Bumi Raya. Umur kelenteng ini diperkirakan cukup tua yakni sekitar 200 tahun. Selain itu, ada pula pekong Surga Neraka yang terletak sekitar 12 kilometer dari Singkawang. Pekong ini terletak di sebuah bukit yang membuat pengunjung bisa menikmati pemandangan kota yang dikelilingi laut dan hutan. Kelenteng Surga Neraka mempunyai beberapa ruang. Ada ruangan yang dindingnya ditempeli rangkaian gambar yang memperlihatkan tahapan hidup hingga meninggal yang harus ditempuh manusia. Sejumlah gambar dewa maupun dewi tampak terpacak di dinding. Selain itu ada pula ruang yang memperlihatkan perbuatan apa apa saja yang dilakukan manusia saat masih hidup di dunia. Ada juga bilik yang berfungsi untuk memberikan falsafah hidup. Masyarakat keturunan Tionghoa juga mengembangkan industri keramik khas oriental di Singkawang Selatan. Kerajinan ini telah puluhan tahun dirintis lewat kepandaian membuat yang didapat turun temurun. Para peminat biasanya langsung mengenali keramik Singkawang lewat desain khas orientalnya. Salah satu tempat kerajinan ini adalah Keramik Sinar Terang. Keramik di tempat ini masih diolah manual dengan menggunakan perapian yang disebut tungku naga. Tungku ini juga masih mengandalkan kayu bakar. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kerajinan ini. Keramik Sinar Terang menyediakan show room bagi peminat yang berniat membeli. Harga keramik dijual berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 750 ribu. Harga keramik makin mahal bila motifnya makin sulit dibuat. Tempat ini juga menyediakan layanan pengiriman lewat pos bagi pembeli di luar provinsi. Ingin menyejukkan hati? Wisatawan mungkin bisa mengunjungi Taman Bukit Bougenville yang berada sekitar enam kilometer sebelah selatan pusat Kota Singkawang. Di kawasan ini tersedia 48 varietas bunga bougenville. Taman ini masih dilengkapi dengan berbagai bunga anggrek khas Kalimantan. Di samping itu, tempat ini memiliki Kawasan Super Sejuk. Dinamakan begitu karena hutannya memang masih asli dan asri alami. Kesejukan akan menyergap pengunjung kala memasuki tempat ini.
<<attachment: 280106ajalan.jpg>>
