Saya setuju dg Pak Hidayat (Prima Production). Ini juga jadi keprihatinan saya. Pada malam Pawai Lampion, saya menemani salah satu cameraman Pak Hidayat untuk mengambil gambar dari lantai 2 Minimarket Valentine (?) yg terletak di seberang Hotel Kalbar. Dari atas saya lihat semrawutnya massa, jalan Diponegoro yg sempit masih dipenuhi parkir mobil. Polisi yang menjaga juga tidak memegang speaker jika diperlukan untuk memberikan peringatan, saya malah berpikir kenapa tidak diberikan garis pembatas. Saya sangat kuatir jika terjadi insiden, karena jika terjadi kepanikan, maka pasti fatal jadinya. Banyak ibu2 dan anak2 kecil yg mungkin saja jadi korban. Biasanya bangsa kita baru bicara dan menuding sana-sini serta mencari kambing hitam jika musibah sudah terjadi. Mudah2an ke depan kelemahan2 demikian dapat diantisipasi dan dilakukan upaya preventif.
Kelemahan lain adalah Singkawang sama sekali tidak memiliki souvernirs yg bisa dibawa pulang sebagai buah tangan, baik berbentuk kaos bertulisan Singkawang, Capgomeh atau lainnya. Inisiatif kawan2 jurnalis Pontianak Post yg membuat 1.000 PIN yg dibagikan gratis kepada para pengunjung sangat kita hargai. Ide ini sebenarnya pernah saya lontarkan 1 bulan setelah Capgomeh tahun lalu dalam tulisan saya di Pontianak Post (Quo Vadis, Capgomeh Singkawang?), ternyata Pemkot Singkawang adem-ayem saja. Ok, siapa saja yang peduli, lebih-lebih yang ingin melihat Singkawang menjadi lebih baik, mari memperjuangkannya dengan cara2 yang lebih riil. Jadikan Singkawang sebagai asset bangsa yang layak ditampilkan.... HK > ----- Original Message ----- > From: Hidayat Boesran > To: [email protected] > Sent: Friday, March 09, 2007 4:27 PM > Subject: [Singkawang] liputan lampion, Cap Go Meh Singkawang > > > Terimakasih atas perhatian Bapak Hasan Karman > ya, kami berdesakan sehingga lens cap salah satu video camera kami terlepas > jatuh dan hilang. itulah salah satu resiko meliput di kerumbunan masa. > > saya khawatir jika penanganan panitia cap go meh tidak berubah pada event2 > di tahun mendatang, maka hampir dapat dipastikan liputan dari stasiun tv > akan > berkurang atau malah tidak ada. (lihat kenyataan yang ada di skw yg hampir > tdk ada crew tv yg meliput cap go meh pada tgl 4 maret 07 lalu) > crew tv memilih meliput pelepasan tatung di halaman kantor walikota liputan > ini > disimpan sebagai file yg jika diperlukan akan disisipkan pada tayangan acara > lain. > contohnya pada acara jejak demokrasi di gunung emas (Metro TV) yang > sebenarnya adalah liputan cap go meh beberapa tahun lalu. > adakah usaha pemkot singkawang utk membuat suatu tayangan khusus ttg > singkawang di stasiun TV ? > liputan crew tv hanya sekedarnya saja utk berita dgn durasi 2 menit atau > hanya > sampai 1 hari menjelang cag go meh, kmd meninggalkan kota singkawang untuk > meliput kegiatan yg sama di kota lain, krn resiko kerusakan video camera > yang > harganya puluhan sampai ratusan juta rupiah) lebih diutamakan. > > saran saya jika Hasan Karman walikota singkawang, mohon benahi penanganan > perayaan cap go meh ini secara profesional. jangan melihat event ini hanya > pada > lingkup kota singkawang saja, banyak mata yg melihat event ini sebagai event > yg > unik, khas, layak dijual ke luar. mereka datang ke singkawang secara khusus. > NASIONAL GEOGRAFI, DISCOVERY, TRAVEL & LIVING, > PHONIX DOCUMENTER mungkin saja berminat akan event budaya ini. > yang tentunya liputan harus secara lengkap. (suasana kota, kehidupan sehari > hari > para tatung & keluarganya, persiapan tatung menjelang cag go meh, dan banyak > lagi) > > > terimakasih > Prima Production >
