http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=13907\ 0
Rabu, 20 Juni 2007 Bukan Sekadar Peringatan Biasa Peringatan Peh Chun Singkawang,- Ada satu peringatan yang senantiasa dilakoni masyarakat Tionghoa setiap tanggal 5 bulan Imlek atau 19 Juni tahun masehi. Adalah "Peh Cun" atau biasa disebut "Paw Cung Cie". Peringatan yang jatuh pada Selasa (19/6) kemarin, ternyata bukan sekadar peringatan biasa. Aktivis masyarakat Tionghoa, Jaunardi Hasyim SH menjelaskan, ada cerita yang melatarbelakangi peringatan hari Peh Cun itu. Sehingga hari itu selalu diperingati setiap tahunnya oleh masyarakat Tionghoa dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari makan kue bacang sampai kegiatan mandi-mandi di sungai yang mengalir. Menurut Jau, konon di sebuah negeri Tiongkok yang damai dan tentram, datang segerombolan musuh yang sengaja ingin merebut kekuasaan (Kaisar Qu Yuan). Musuh yang datang itu dikenal bengis serta tidak berprikemanusiaan. Terjadilah peperangan yang tak dapat terhindarkan. Alhasil, kemenangan tidak berpihak pada negeri yang dipimpin Qu Yuan. Perkampungan tempat tinggalnya juga punah dengan tumpahan darah, cucuran air mata dan mayat tua, muda, laki mapun perempuan yang bergelimpangan dimana-mana. Hari itu, bangsa pimpinan Qu Yuan mengalami kekalahan perang yang cukup besar terhadap musuh yang dikenal tidak berprikemanusiaan itu. Qu Yuan lantas bermuram durja akan kehancuran negerinya. "Tak kuasa melihat semua itu, Qu Yuan lantas meninggalkan kampung halaman dan berlayar menggunakan kapal menelusuri Sungai Miklo," cerita Jau yang juga pemerhati budaya tersebut. Mendengar kepergian Qu Yuan, para pengikut dan para nelayan serta penduduk setempat berusaha melakukan pencarian. Namun pencarian tersebut, nihil. Tetap saja Qu Yuan tidak ditemukan walaupun sudah dilakukan berbagai macam cara. Mereka pun menduga Qu Yuan sudah tidak ada di dunia ini. Mereka pun kembali turun mencoba mencari jenazah Qu Yuan dengan berlayar menelusuri sungai, bahkan meceburkan diri menyelam ke dalam air. Tetapi, tetap saja upaya itu tidak membuahkan hasil, jenazah Qu Yuan tetap tidak ditemukan. Karena khawatir keutuhan jenazah Qu Yuan dimakan ikan atau binatang binatang buas sungai lainnya, maka sepanjang jalan aliran Sungai Miklo, ditaburi beras kuning, kue bacang dan telur ke dalam sungai dengan dibungkus dan memakai daun pisang. "Hal itu dilakukan agar binatang buas air mengalihkan perhatian untuk memakan makanan yang mereka buang, bukan memakan jenazah Qu Yuan," tuturnya. Mulai saat itulah kata Jau, hari itu diperingati warga Tionghoa dan menjadi tradisi masyarakat Tionghoa untuk menyemelamatkan jenazah Qu Yuan sekaligus mengenang perjuangannya lewat berbagai kegiatan. Seperti membuat kue bacang dan mandi-mandi di sungai. Warga Tionghoa juga berduyun-duyun menuju Kelenteng atau Vihara terdekat untuk melaksanakan sembahyang pada hari itu. Bersama keluarga, mereka menyantap hidangan kue ba'cang yang telah dibuat sendiri dengan bahan dasar ketan pulut dan kacang merah. Mereka bersuka ria mengenang kembali perjuangan para leluhur yang telah gugur berperang. Khusus untuk ritual mandi-mandi di sungai ini, biasanya dilaksanakan siang sekitar pukul 11.30 sampai 13.00 dengan cara mandi bersama di sungai (Ng Sie Sui). Acara mandi wajib itu dilakukan oleh seluruh keluarga yang konon tujuannya sebagai salah satu sarana untuk "membuang sial" dalam setahun berjalan. "Makna yang bisa kita ambil dari peringatan itu adalah, kepemimpinan Qu Yuan sebagai pejabat yang jujur di zaman Tiongkok Kuno. Serta pejabat yang patuh dan setia kepada raja dan sangat peduli akan penderitaan rakyat kecil dan melekat dengan kemiskinan sekaligus kesusahan," kata Jau seraya mengungkapkan, pejabat Qu Yuan juga telah mengabadikan masa hidupnya untuk membangun negeri demi mencapai kesejahteraan rakyat. Warga Tionghoa yang memperingati hari Peh Chun itu berarti menghormati kejujuran, kesetian dan cinta tanah air di masa Qu Yuan berada. "Semoga semua warga Tionghoa yang ada di sini menjalankan dengan baik peringatan hari Peh Cun tersebut," harapnya.(vie)
