Kesabaran - Oleh Bhante Pannavaro 

  Semoga kita bisa mempraktekkan kesabaran
dalam keseharian kita. Artikel ini cukup panjang,
semoga kita bersabar membacanya sampai akhir, sama
seperti judul artikel ini sendiri yaitu “Kesabaran”,
karena artikelnya sangat bagus.

KESABARAN

Oleh Bhante Sri Pannavaro Mahanayaka Thera

Latihan untuk membina diri kita sesungguhnya adalah
latihan dalam keseharian. Membina diri bukan sesuatu
yang dimengerti bahwa harus dilakukan ditempat-tempat
ibadah atau hanya pada saat-saat tertentu. Justru
dalam keseharian kita bisa meningkatkan, membina diri
kita masing-masing. Salah satu pesan yang sangat
penting yang pernah diungkapkan oleh Buddha Gotama
dihadapan 1250 orang-orang suci adalah kesabaran
sesungguhnya latihan untuk membina diri yang
tertinggi. Kalau kita berhadapan atau mengalami
keadaan yang menyenangkan disekitar kita, semua
bersikap baik, berkata-kata ramah kepada kita, maka
kita bisa bersikap sabar. Tetapi menurut Buddha
Gotama, menghadapi hal-hal yang menyenangkan bukanlah
sikap bersabar. Justru kesabaran adalah sikap yang
tetap tenang, dilandasi dengan pengertian yang benar,
pada saat kita menghadapi atau mengalami
kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Orang-orang
lain atau teman-teman yang berperilaku tidak baik
kepada kita, pada saat itulah sesungguhnya kesempatan
yang sangat baik bagi kita untuk melatih kesabaran.
Kalau menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan,
orang-orang yang mengganggu kita, mungkin juga ingin
menghancurkan kita, kalau pada saat itu timbul
kemarahan, kejengkelan atau bahkan dendam, pada saat
itulah tampak betapa rapuhnya mental kita, menanggapi
keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, menghadapi
orang-orang yang menyulitkan kita, kalau timbul emosi,
sikap yang serampangan, yang didorong oleh kebencian
atau kemarahan sesungguhnya sikap seperti itu sangat
merugikan kita sendiri. Tampak dengan jelas, tidak ada
ketahanan mental, tidak ada kekuatan batin dalam diri
kita untuk menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.

Ilmu pengetahuan moderen menyadari bahwa kecerdasan
yang dimiliki oleh seseorang. Kalau seseorang suka
belajar suka mendengar, dan kemudian timbullah ide-ide
yang cemerlang, kreatifitas- kreatifitas yang baru.
Sering dikatakan seseorang itu adalah orang yang
cerdas, tetapi itu sangat tidak cukup, kecerdasan
dalam hubungan berinteraksi dengan masyarakat,
sekarang disadari bahwa selain kecerdasan, sangat
diperlukan kedewasaan emosi, kecerdasan intelektual
amatlah tidak membantu tanpa dilandasi dengan
kecerdasan/kedewasa an emosi. Ada 2 macam kesabaran
menurut Dhamma dan demikian juga terdapat 2 macam
latihan untuk meningkatkan kesabaran/daya tahan mental
kita.

Yang pertama disebut dengan bersabar dengan hal-hal
yang sederhana, dengan kondisi-kondisi yang kecil,
seperti bersabar dengan udara yang panas, bersabar
dengan makanan-makanan yang mungkin tidak sesuai,
tetap bersabar karena harus menunggu agak lama,
bersabar kalau fisik ini sedang sakit, bersabar untuk
tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam
menghadapi kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan
itu, melatih kesabaran dengan hal hal yang kecil-kecil
ini akan memungkinkan kita, memberikan jalan kepada
kita untuk melatih kesabaran yang lebih tinggi. Apakah
kesabaran yang lebih tinggi itu? Sabar kalau kita
dicela, sabar kalau kita dihina, tetap sabar kalau ada
orang-orang yang memfitnah kita atau mungkin ingin
menghancurkan kita, kesabaran yang lebih tinggi ini
memang amat sulit tetapi justru itulah yang Buddha
Gotama sebutkan sebagai latihan untuk membina diri
kita yang tertinggi. Para Bhikkhu / para pengkhotbah
sesungguhnya bukanlah guru kesabaran yang sejati. Para
bhikkhu / para penceramah hanya bisa menunjukkan
betapa berharganya kesabaran itu, betapa pentingnya
memiliki kesabaran sebagai daya tahan mental tetapi
bukan guru kesabaran yang sebenarnya, siapakah guru
kesabaran yang sebenarnya? Kalau dirumah suatu saat
sang suami atau sang istri menimbulkan masalah,
menimbulkan persoalan, kalau anak anak suatu ketika
tidak mau mendengar nasehat, kalau teman-teman atau
kolega kita menyulitkan kita, kalau mereka-mereka
yang dahulu sangat akrab kemudian ingin menghancurkan
kita, mereka itu sesungguhnya guru - guru kesabaran
yang sejati karena pada saat itulah kita dituntut
untuk mempunyai kesabaran. Kalau kita menghadapi
mereka dengan geram, dengan emosi yang meluap-luap,
dengan kemarahan dan mungkin dengan kebencian. Sikap
itu tidak menyelesaikan masalah bahkan membuat masalah
lebih berlarut-larut, kegeraman yang ditunjukkan oleh
seseorang sesungguhnya bukan menunjukkan kekuatan dan
keperkasaan tetapi sebaliknya kelemahan jiwa,
seseorang yang jiwanya kuat, mempunyai daya tahan
mental yang tangguh, tidak akan mudah terpancing,
tidak akan menunjukkan kegeraman, kegarangan, karena
sadar bahwa kegeraman, kegarangan, kemarahan,
kebencian sama sekali bukan cara menyelesaikan
persoalan, tetapi bagaimanakah cara untuk melatih
kesabaran..? ada 2 macam cara untuk melatih
kesabaran. Sikap tenang yang dilandasi dengan
pengertian yang benar itulah sesungguhnya kesabaran.
Pengertian apakah yang harus kita punyai untuk
menumbuhkan kesabaran? Untuk meningkatkan daya tahan
mental kita menghadapi seribu satu macam kondisi dan
persoalan-persoalan kehidupan yang tidak akan
berhenti?

1 Menyadari bahwa segala sesuatu dialam semesta ini
tidak kekal, tidak ada yang abadi, berubah setiap
saat, kesulitan apapun yang kita hadapi, perlakuan
apapun yang tidak menyenangkan kita juga tidak kekal,
tidak selamanya akan mengcengkeram kita, tidak ada
yang abadi dialam semesta ini, masalah yang
menyulitkan itu datang sebentar kemudian dia akan
berlalu, sabbe sankhara anicca - semua perpaduan tidak
kekal, berubah setiap saat dan berubah terus menerus,
menyadari perubahan terhadap segala sesuatu termasuk
kesulitan – kesulitan yang sedang menghimpit, yang
sedang kita alami itulah menyadari ketidak kekalan itu
akan membuat kita bertahan, tidak ada alasan untuk
berpatah semangat.

2. Pengertian yang kedua yang harus kita punyai
sebagai landasan untuk membangun kesabaran dan daya
tahan mental adalah kesulitan dan penderitaan yang
kita alami yang kita hadapi, janganlah kita berpikir
biasa, apakah yang di sebut berpikir biasa? Berpikir
biasa adalah kita selalu atau sering berpikir bahwa ia
menghina saya, si itu mengganggu saya, si dia tidak
simpati kepada saya, yang itu ingin menghancurkan
saya, yang itu membenci saya dsb. Pikiran kita seolah
olah seperti buku telepon yang hanya berisi
daftar-daftar nama mereka-mereka yang tidak kita
senangi, kemudian timbul kebencian, timbul keinginan
membalas kepada mereka-mereka itu dan itulah yang
membuat kehidupan kita tidak tentram.

Tetapi berpikir Dhamma sangat beda, berpikir Dhamma
amat bebeda dengan berpikir biasa, Mengapa? Kesulitan
yang kita hadapi, penderitaan yang kita alami
sesungguhnya adalah akibat buah dari perbuatan kita
sendiri, kesulitan dan segala macam penderitaan itu
bukan pemberian Tuhan, juga bukan dibuat oleh
dewa-dewa untuk menghukum kita, tapi akibat perbuatan
kita sendiri, perbuatan yang tidak benar, perbuatan
yang tidak sehat, kalau bukan akibat dari perbuatan
kita, tidak mungkin peristiwa itu akan datang menimpa
kita. Kalau kita berpikir seperti ini, maka tidak ada
tempat untuk membenci kepada yang lain, tidak ada
alasan untuk membalas kebencian itu dengan dendam
kepada siapapun, justru melihat mereka yang melakukan
hal-hal yang merugikan kita bukan kebencian yang
timbul melainkan kasih saying, timbul rasa kasihan
yang mendalam, melihat teman-teman/ orang-orang lain
berperilaku buruk kepada kita, karena perilaku yang
buruk juga akan membuahkan penderitaan bagi pembuatnya
sendiri.

Dengan 2 landasan pengertian inilah, kita
meningkatkan/ membangun kesabaran kita, kita
meningkatkan daya tahan mental kita menghadapi hal hal
yang buruk, hal-hal yang menyakitkan, hal-hal yang
terasa sulit dalam kehidupan ini, pengertian tentang
semua tidak kekal, berubah setiap saat termasuk
kesulitan dan hal-hal yang buruk itu, dan seandainya
kesulitan dan hal-hal buruk itu datang, maka itupun
akibat perbuatan dari karma kita sendiri. Dengan cara
inilah dengan dasar pengertian yang benar yang jernih
kita berusaha untuk tetap tenang, tegar, batin tidak
tergoyahkan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dalam
kehidupan yang datang silih berganti, silahkan
kesulitan/persoalan itu datang, namun
persoalan/kesulitan itu tidak lagi menjadi kesulitan,
tetapi justru menjadi kesempatan bagi kita untuk
melatih kesabaran, dengan kesadaran yang penuh
memperkuat daya tahan mental kita, marilah kita
menghadapi dengan tenang marilah kita mengubah
kesulitan/persoalan itu menjadi kesempatan yang amat
berharga untuk meningkatkan kualitas diri kita, karena
didalam kenyamanan, didalam segala sesuatu yang
menyenangkan yang kita hadapi, perlakuan-perlakuan
manis yang kita terima, sesungguhnya amat sulit
mencari kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.
Kenyamanan dan perlakuan-perlakuan yang sangat baik
kepada kita bukanlah guru kesabaran yang sebenarnya.
Menurut pengertian Dhamma kadar kesabaran, kadar daya
tahan mental kita merupakan hasil dari latihan kita,
latihan dalam keseharian yang dilandasi dengan
pengertian yang benar, karena menurut Dhamma kesabaran
bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan meminta
kepada siapapun.

Di Jawa Tengah sering kita mendengar, kalau seseorang
tiba di dalam kesulitan, dia mengeluh. “Oh Gusti
berikan kepadaku kesabaran”. Memang boleh-boleh saja
seseorang mengeluh seperti itu, karena mungkin betapa
beratnya kesulitan/beban yang dia hadapi tetapi
kesabaran tidak bisa diminta, dan kesabaran tidak bisa
diberikan siapapun kepada kita. Kita harus
berpandai-pandai menggunakan setiap kesempatan dalam
keseharian untuk meningkatkan kesabaran kita karena
kesabaran merupakan latihan yang amat berharga. Sangat
dibutuhkan setiap saat dimanapun kita berada,
dimanapun kita tinggal, dalam keadaan yang
bagaimanapun kita mengalami. Seseorang yang tidak
cukup mempunyai kesabaran, ketahanan mental, dia akan
terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang buruk,
mungkin kejahatan karena akan memberikan keuntungan
materi yang lebih besar dan lebih cepat, namun
seseorang yang memiliki kesabaran/ketahanan mental
tidak akan tertarik dengan perbuatan yang tidak sehat,
dengan perilaku yang tidak bermoral, sekali hal itu
memberikan keuntungan yang besar dan spontan. Ia bisa
bertahan, mengendalikan diri karena ia punya
kesabaran, daya tahan mental yang cukup baik, tidak
terpengaruh/ tergiur dengan perbuatan buruk sekalipun
memberikan keuntungan yang besar dan spontan.
Kesabaran, keuletan adalah kunci untuk menjaga
moralitas, mempunyai perilaku yang baik, sehat karena
setiap perbuatan menurut Dhamma memberikan akibat
ganda, kejahatan akan merugikan orang lain/makhluk
lain, dan juga sudah pasti merugikan si pembuatnya
sendiri. Demikian juga kebajikan, perbuatan bajik akan
memberikan manfaat ganda pula, bermanfaat bagi yang
lain dan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri,
kalau tanpa kesabaran, karena tidak mampu
mengendalikan dirinya seseorang tergiur melakukan
kejahatan, maka dia berjalan untuk melakukan perbuatan
menghancurkan kedua belah pihak, kehancuran ganda,
menghancurkan orang lain merugikan orang lain dan
menghancurkan dirinya sendiri, perbuatan yang tidak
terpuji, yang buruk mudah sekali menggiurkan kita,
menarik bagi banyak orang, karena memberi manfaat yang
sekonyong-konyong, memberi kesenangan yang tiba-tiba,
tidak perlu menunggu / bersabar kemudian banyak orang
terpikat melakukan kejahatan, disinilah letak arti
penting memiliki kesabaran, dengan kesabaran/ketahanan
mental kita juga akan bersabar, tidak terpikat untuk
melakukan kejahatan, memilih perbuatan yang bajik.
Dengan kesabaran dan kesadaran, dengan ketahanan
mental sekuat tenaga, kita menghindari
perbuatan-perbuatan buruk, yang tidak sehat dan dengan
kesabaran serta kesadaran pula, dengan keuletan dan
dengan sekuat tenaga kita melakukan hal-hal yang
baik, yang bajik, yang berguna, bagi masyarakat, bagi
keluarga kita, dan sudah tentu berguna bagi kita
sendiri. Memang perbuatan buruk memberikan kenikmatan
spontan, kesenangan yang lebih cepat, tetapi kalau
perbuatan itu suatu ketika sudah masak, kejahatan itu
akan berakibat penderitaan yang kadang-kadang amat
sulit diatasi, berlarut-larut dan sangat lama, namun
sebaliknya perbuatan bajik yang kalau dilakukan akan
berguna bagi orang lain, bagi yang melakukan, tidak
akan menimbulkan penyesalan didalam hati, kehidupan
ini akan menjadi kehidupan yang amat berguna kalau
kita bisa menggunakan sebanyak mungkin untuk hal-hal
yang berguna/bermanfaat bagi semua pihak.

Namun, saya ingin memasuki pengertian yang lebih
mendalam dan mungkin lebih sulit untuk dimengerti
tetapi merupakan kewajiban saya untuk mengajak kalian
untuk meningkat kedalam pengertian yang lebih dalam,
memang kita tidak berpihak kepada perbuatan jahat /
keburukan, kita ingin mengisi kehidupan ini dengan
kebajikan, dengan hal-hal yang berguna tetapi sekali
lagi tetapi janganlah merasa lebih unggul, merasa
lebih tinggi karena telah melakukan kebajikan,
kemudian memandang rendah kepada mereka yang melakukan
kejahatan. Melakukan kebajikan adalah pilihan, tetapi
kebanggaan akan kebajikan yang kita lakukan akan
merugikan perkembangan mental kita, bangga dengan
kebajikan yang dilakukan dan kemudian memandang rendah
serta membenci kepada mereka yang melakukan kejahatan
adalah kekotoran batin yang menghalangi kemajuan
mental spiritual kita, kita senang berbuat bajik,
tetapi kita tidak benci, tidak merendahkan sekalipun
kepada mereka-mereka yang melakukan perbuatan
merugikan orang lain. Kita tidak senang, tidak setuju
terhadap kejahatan yang mereka perbuat, tetapi sama
sekali tidak ada alasan untuk membenci dan merasa diri
kita lebih baik, lebih mulia, lebih tinggi dari
mereka, perasaan ini sesungguhnya adalah keangkuhan,
kesombongan bahkan kecongkakkan, itu adalah kekotoran
bathin yang amat merugikan bagi perkembangan bathin
kita sendiri. Kita memihak pada kebajikan, jelas, kita
tidak ingin melakukan kejahatan tetapi kita tidak
perlu merasa lebih dengan membandingkan kepada mereka
yang masih senang melakukan kejahatan. Aku bukan
mereka, aku lebih baik, lebih bersih, lebih sempurna,
lebih tinggi dari mereka. Inilah beban-beban mental
yang mengotori pikiran kita dengan kekotoran batin
yang lebih halus tetapi tetap merugikan kita. Marilah
kita memihak pada perbuatan yang baik/kebajikan dengan
tulus termasuk juga mempunyai pikiran yang bajik,
pikiran kasih sayang kepada mereka-mereka yang
melakukan kejahatan sekalipun, inilah yang didalam
Dhamma disebut sebagai berusaha membersihkan pikiran
kita sendiri dari kekotoran – kekotoran batin yang
halus, keangkuhan, keakuan, kesombongan dan itu
adalah beban mental yang juga membuat penderitaan bagi
diri kita. Secara ringkas, marilah kita meningkatkan
kualitas diri kita, dengan menggunakan segala keadaan,
segala hal yang kita alami apapun, sebagai kesempatan
untuk meningkatkan kualitas diri, meningkatkan
kesabaran, daya tahan mental, dengan kesabaran/ daya
tahan mental, kita tidak akan memihak, memilih
kejahatan dan berusaha keras untuk menambah hal-hal
yang baik, mengisi kehidupan ini dengan kebajikan
tanpa dilandasi, tanpa disusupi oleh kesombongan,
keangkuhan, kecongkakan. Marilah kita mengisi
kehidupan kita dengan hal-hal yang berguna dan juga
mencintai, mengasihi mereka, untuk bersama-sama maju
kearah yang lebih baik, tidak ada alasan merendahkan
siapapun , apalagi membenci kepada mereka-mereka
sekalipun mereka melakukan kejahatan, tidak hanya
menghindari kejahatan dan menambah kebajikan tetapi
lebih dari itu, marilah kita memeriksa batin kita,
pikiran kita supaya juga bersih dari kekotoran batin,
dan itulah kebahagiaan di.dalam diri kita, disitu kita
akan menemukan kebahagiaan, kondisi apapun yang kita
hadapi, yang datang menyongsong kita, marilah kita
hadapi dengan tenang, dengan pengertian benar, dengan
ketahanan mental, dengan ketulusan hati. Janganlah
berpikir untuk mencari kebahagiaan dari luar diri
kita, sumber kebahagiaan itu berada dari dalam diri
kita sendiri, tidak mungkin bisa ditemukan dari luar
diri kita, dengan mengubah diri kita, meningkatkan
kualitas diri kita, sumber kebahagiaan akan muncul di
dalam diri kita, mencari kebahagiaan dari luar diri
kita, sibuk mencari dan mengubah apa yang diluar diri
kita, memang baik, tetapi bukanlah jaminan yang mampu
membuat kita bahagia tanpa ada perubahan didalam diri
kita masing-masing. Saya akan menutup uraian ini
dengan sebuah cerita yang sederhana tapi amat menarik.

Dijaman dahulu di Mesir ada seorang raja yang sakit
mata, dokter istana setelah mengobati kemudian
menasehatkan, raja harus sering melihat warna hijau
karena warna itu akan mempercepat kesembuhan
penglihatan mata baginda raja, di Timur Tengah,
demikian juga di Mesir, tidak sebanyak
tumbuhan-tumbuhan hijau seperti yang kita lihat di
tanah air kita, amat kurang, kadang-kadang amat
jarang, karena raja harus sering melihat warna hijau,
maka kemudian raja memerintahkan segala sesuatu yang
dia lihat dia ubah dengan warna hijau, alat-alat
makan, pakaian yang dia kenakan, dinding, tempat
tinggal, lantai, semua diubah dengan warna hijau
supaya penglihatan sang raja bisa cepat kembali
seperti semula, tetapi penasehat raja mendekati sang
raja dan berkata, kalau baginda menginginkan melihat
yang serba hijau supaya penglihatan baginda cepat
sembuh seperti sedia kala, mengapa baginda harus
mengubah semuanya dengan warna hijau, apakah tidak
lebih baik baginda memakai kacamata hijau, dengan
memakai kacamata hijau, semuanya akan kelihatan hijau,
tidak perlu harus mengubah warna semuanya dengan
menjadi hijau. Dari cerita kecil ini kita mendapatkan
pencerahan kecil, mengubah diri kita, mengubah sikap
mental kita adalah jauh lebih berharga dan lebih mudah
daripada mengubah segala sesuatu diluar diri kita.
Justru mengubah dan meningkatkan mental kita, didalam
diri inilah, diri kita sendiri, kita menemukan sumber
kebahagiaan. Marilah kita menggunakan kesempatan yang
berharga dalam kehidupan ini, setiap saat untuk
mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang bermanfaat,
berguna, berfaedah, bagi siapapun juga, bagi
masyarakat, bagi orang banyak, bagi keluarga kita, dan
sudah tentu bagi kita sendiri, dengan membangun diri
kita disitulah kita menjumpai kebahagiaan, dan
kebahagiaan itu akan bermanfaat pula bagi
mereka-mereka yang lain, marilah kita berjuang, maju,
tidak ada waktu untuk terlambat, tidak menyiakan
kehidupan ini, semoga kita mampu, untuk menjadikan
kehidupan ini berguna, bermanfaat bagi siapapun.
Semoga semua makhluk berbahagia.


       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 

Kirim email ke