Segitiga
Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”


Januari 16th, 2007 — Rovicky 
 

Dua kecelakaan lalulintas pada awal
tahun ini sangat memperihatinkan. Yang pertamana kecelakaan lalulintas laut
yang menimpa kapal laut Senopati Nusantara, yang kedua kecelakaan Pesawat Adam
Air. Keduanya diduga terjadi pada waktu yang berdekatan di kawasan yang sama
berdekatan juga di laut Utara Jawa, dan yang satu di seputar Masalembo.
 

Duapuluh enam tahun yang lalu KM
Tampomas II terbakar di laut dan karam pada tanggal 27 Januari 1981. Ah kenapa
pada bulan-bulan yang sama ya ? memang bulan-bulan ini merupakan bulan-bulan
puncak perubahan musim seantero Indonesia yang kepulauannya berada di sekitar
katulistiwa.
 

Tetapi kenapa kejadian kecelakaan
ini di lokasi yang kira-kira sama ?

Ah jangan-jangan barangkali mungkin saja …
 

Pulau Masalembo sebenarnya sebuah
pulau kecil yang berada di ujung Paparan Sunda (hayo masih ingat Paparan Sunda
dan Paparan Sahul nggak ?, ini pelajaran SD dulu kan ?). Pulau-pulau kecil ini
berada di daerah “pertigaan” laut yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan
selat Makassar yang memotong berarah utara-selatan.
 

Pola kedalaman laut di Segitiga
Masalembo ini sangat jelas menunjukkan bentuk segitiga yang nyaris sempurna
berupa segitiga sama sisi. Lihat gambar dibawah.




 

  
 

Pada peta kedalaman laut atau peta
bathymetri diatas dapat dilihat adanya bentuk kepulauan yang berbentuk
segitiga. Tinggian yang terdiri beberapa pulau-pulau ini saya sebut sebagai 
“SEGITIGA
MASALEMBO” atau “THE MASALEMBO TRIANGLE“.

Nah, ada apa saja di daerah seputaran Segitiga Masalembo ini. Coba kita 
buka-buka
dikit-dikit ya. Tapi jangan mengharap banyak dari sisi mistisnya, akan lebih
banyak saya urai sisi kebumian dan kelautannya saja



 
 

  
 

Pertemuan ARLINDO (Arus Laut
Indonesia)





Indonesian
Throughflow (ARLINDO), indicate the relationship between the relationship
between ARLINDO and El-Nino Southern Oscillation (ENSO) (Source, Gordon,
A., 1998)
 

Di atas ini digambarkan arus laut di
Indonesia, terutama Indonesia Timur. Coba perhatikan arus yang melewati
Segitiga Masalembo ini. Pada bagian atas (garis hijau) menunjukkan air laut
mengalir dari barat memanjang di Laut Jawa, berupa monsoonal stream atau arus
musiman. Arus ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sedangkan dari Selat
Makassar ada arus lain dari utara yang merupakan thermoklin, atau aliran air
laut akibat perbedaan suhu lautan. Kedua arus ini bertemu di sekitar Segitiga
Masalembo.
 

Yah, tentusaja arus ini akan sangat
mempengaruhi pelayaran laut disini. Arus musiman ini sangat dipengaruhi juga
oleh suhu air laut akibat pemanasan matahari tentusaja. Kalau anda masih inget
bahwa lintasan matahari itu bergerak bergeser ke-utara-selatan dengan siklus
tahunan. Itulah sebabnya pada bulan-bulan Januari yang merupakan saat perubahan
arus musiman (monsoon).
 

Apa menariknya dari ARLINDO ini ?
Arus ini membawa air laut dingin dari Samodra Pasifik ke Samodera Indonesia
diduga dengan debit hingga 15 juta meterkubik perdetik !!! Dan hampir
keseluruhannya melalui Selat Makassar !
 

Tentunya aliran air sebesar ini
bukan sekedar aliran air saja. Banyak aspek lain yang ikut mengalir dengan
aliran air sebanyak itu, misalnya akan terdapat pula aliran ikan-ikan laut,
aliran sedimen laut, juga aliran temperatur air. Apa saja efek aliran ini
dengan proses kelautannya sendiri ? Wah tentunya banyak sekali
 

Kalau digambarkan secara mudah
barangkali profil selat makassar dapat dilihat seperti dibawah ini.





 

  
 

Pada profil dasar selat Makassar
diatas terlihat batuan kalimantan dan batuan sulawesi berbeda, kalau masih
ingat yang aku tulis tentang pembentuka Patahan-Patahan Pulau Jawa maka 
tentunya mudah dimengerti. Hal ini
disebabkan karena adanya perbedaan mencolok antara Indonesia barat dan 
Indonesia Timur seperti yg ditulis sebelumnya. Kalimantan merupakan bagian
dari Paparan Sunda (Indonesia Barat) sedang Sulawesi merupakan bagian dari
Indonesia Timur. Nah garis yang membaginya dulu diketemukan oleh Wallace
disebut sebagai Garis Wallace (Wallace Line). Garis Wallace ini
sebenernya hasil penelitian satwa Indonesia Barat-Timur, namun sebenarnya ada
juga implikasi atau manifestasi dari aspek geologis (batuan penyusunnya).
 

Dari Batuannya kita tahu bahwa
dibawah selat makasar ini terdapat tempat yang sangat kompleks geologinya,
diatasnya terdapat selat Makassar yang juga memilki karakter khusus di dunia
ini dimana mengalirkan air yang sangat besar.
 

Apa yang terlihat lagi ? Ya tentunya
ada aspek meteorologis yang memisahkan antara daerah diatas air dengan daerah
diatas daratan yaitu awan. Awan merupakan fenomena khusus yang paling banyak
dijumpai diatas daratan. Itulas sebabnya kalau sedang di tengah laut coba
tengok ke atas, carilah awan. Awan yang berarak akan lebih banya terdapat di
daratan ketimbang di atas lautan seperti gambaran diatas.




Apa lagi selain awan ?

Angin, ya angin juga akan berhembus karena perbedaan tekanan udara panas. Pada
malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di
laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan.
 

Perubahan angin darat laut karena
suhu ini berubah dalam siklus harian, namun tentunya ada juga siklus tahunannya
atau disebut siklus monsoon. Looh Monsoon, kok sepertinya juga ada monsoonal
stream yang ada di Arlindo digambar atas. Ya, memang itulah siklus-siklus arus
angin, siklus air itu bertemu bercampur di segitiga Masalembo ini. Runyem kan ?
 

Seringkali daerah Segitiga Bermuda
dihubungkan dengan kondisi magnetisme. Adakah peta magnetik daerah Segitiga
Masalembo ini ?
 

Nah aku beri sekarang peta deklinasi
magnetik secara global seperti dibawah ini.










 

Tiga peta diatas menunjukkan
intesitas magnetik total, peta deklinasi, dan perubahan deklinasi tahunan
(sumber NOAA). Kalau tertarik detilnya tinggal di klik saja. Yang dapat dilihat
dalam ketiga peta itu adalah, tidak adanya sesuatu yang mencolok baik di
Segitiga Bermuda maupun di Segitiga Masalembo. Memang sejak dulu seringkali
yang menyatakan adanya keanehan kompas magnetik apabila melalui daerah angker
ini. Secara fisik (pengukuran magnetik) tidak terlihat anomali itu. Hanya 
terlihat
bahwa Indonesia secara umum merupakan daerah yang memiliki deklinasi dan
iklinasi sangat kecil. Dan merupakan daerah yang memiliki total intensitas
magnetik rendah, barangkali karena Indonesia merupakan daerah yang relatif
“muda” dibandingkan daerah2 lain.
 

Kalau dibandingkan dengan Segitiga
Bermuda, lokasi Segitiga Masalembo juga tidak menunjukkan keanehannya.
Sepertinya keangkeran segitiga Masalembo ini lebih ditentukan oleh
faktor gangguan alamiah yang bukan mistis. Yang mungkin paling dominan adalah 
faktor
meteorologis termasuk didalamnya faktor cuaca, termasuk didalamnya
angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara yang mungkin memang merupakan
manifestasi dari konfigurasi batuan serta kondisi geologi, oceaografi serta
geografi yang sangat unik.



 

  
 

Kalau memang Masalembo
Triangle ini banyak menimbulkan masalah transportasi (lalulintas),
tentunya perlu rambu-rambu lalulintas laut yang lebih canggih ditempatkan di
lokasi ini. Tetapi bukan berarti zona terlarang masa sih kita tidak boleh
melewatinya sepanjang masa. Misalnya mercusuar khusus, penempatan radar
pemantau. Juga yang tak kalah penting penelitian saintifik tentang perilaku arus
air laut, serta cuaca di daerah ini.






      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke