Dear Rudi Dustika Teja,


1. Danau yang airnya menghilang di Chili ?
Chili sama seperti indonesia, sering dilanda gempa, kemungkinan gempa yang 
melanda Aysen tidak jauh dari danau tsb.
April lalu memang terjadi gempa disekitar lokasi danau tsb. (lihat di usgs.com) 
yang jaraknya 2.000 km diselatan ibukota chili, Santiago
dan kemungkinan gempa tsb. telah membuka rekahan ditanah, sehingga air danau 
mengalir ke sana.
Masih ingat posting saya bulan lalu tentang proses terjadinya gempa ?
Indonesia yang berada di perbatasan tiga lempengan bumi: Eropa-Asia (Earoasia),
Asia-Pasifik (Pacific), dan Australia-Asia (Indo Australia). Ketiga lempengan 
besar ini bergerak dengan
arah dan laju tertentu yang menyebabkan lempengan-lempengan ini saling
bergesekan dan juga bertubrukan satu dengan yang lain. Gesekan dan tubrukan ini
yang membuat satu lapisan menumpuk di lapisan lain, menciptakan ruang-ruang
kosong dan jadi jebakan bagi gas, minyak bumi, batu bara, dan bahan galian
lain.
Termasuk juga air yang ikut terjebak didalamnya.
Dan bisa saja dikarenakan naiknya suhu didalam yang mengakibatkan air tsb. 
terdorong keluar pada rekahan2 di tanah.
(Seperti keluarnya lumpur panas (Mud Vulcano) di Sidoarjo yang disebabkan oleh 
adanya eksplorasi vertikal pada sumur Banjar Panji 1)

Namun sampai kini belum ada hasil penelitian yang tepat akan hilangnya air pada 
danau tsb.
(Kan baru beberapa bulan lalu kejadianya)
Beberapa teori dari ahli es gletser Andres Rivera yang berpendapat 
menghilangnya danau tsb.
adalah merupakan bagian proses perubahan alam terus menerus yang terjadi di 
semenanjung Magallanes.
30 tahun lalu menurut Rivera, memang tidak ada danau disitu.


Dilain kesempatan akan saya postingkan tentang Mengapa Mud Volcano Bisa 
Menyembur di Sidoarjo.
Semoga penjelasan saya diatas dapat dipahami. Mohon Maaf atas keterbatasan 
wawasan saya.


2. Global
warming, Siapa Yang Bersalah ?
Untuk itu saya sertakan artikel dibawah ini.

Salam Hoemat,
HB

Selamat
datang di tahun-tahun waspada !


Januari 11th, 2007 — Rovicky 


Belahan Bumi Utara
Memanas !

Benarkah kita menghadapi tahun2 bencana ?






Pemanasan global atau global warming
selalu menjadi topik menarik bagi pemerhati lingkungan. Pemanasan global yang
terasa sejak beberapa dekade ini sangat mengkhawatirkan pecinta lingkungan.
Perubahan suhu yang teramat cepat, bahkan dinilai terlalu cepat ini sering
dipikirkan diakibatkan oleh ulah manusia. Bagaimana tidak gambar disebelah kiri
ini menujukkan rata-rata perubahan suhu tahun 1995-2004 dibandingkan rata-rata
suhu pada tahun 1940-1980.


Grafik temperatur dunia dibawah ini
tentunya juga sangat-sangat mengagetkan !




 


Coba perhatikan kenaikan suhu yang
melonjak drastis sejak tahun 1980-an. Looh ini saya wektu itu juga sudah
sekolah di Geologi, berarti ini gejalanya baru saja kemarin ? Suhu
rata-rata meningkat 4 derajat lebih ! Ini tentusaja bukan main-main kan ?


Pasti ada sesuatu yang
menyebabkannya.


Apakah bener akibat ulah manusia ?

Biasanya ulah manusia langsung menjadi kambing hitam legam yaitu akibat
peningkatan “emisi karbon“.


Ah, tapi jangan buru-buru menuduh
dulu lah apa iya manusia yang “lemah” ini sangat berkuasa untuk merubah
iklim dunia ciptaan Tuhan Yang Maha Dahsyat. Aku ingin coba tengok pelan-pelan
ya, siapa tahu ada yang bisa pelajari.


Fluktuasi atau naik turunnya suhu
ini sudah tercatat sejak lama, kita dapat melihat naik turunnya suhu ini dalam
jangan ratusan tahun, maupun jutaan tahun yang lalu.


Benarkah suhunya berfluktuasi ?




 


Perlu diketahui juga bahwa pernah
terjadi periode pendinginan luarbiasa dalam dekade tahun 1965-1975. Kalau
dilihat pada grafik pemanasan global diatas, periode sepuluh tahun ini
merupakan periode pendek mendingin yang selanjutnya diikuti periode pemanasan
ulang lagi.


Disebelah atas ini gambar global
cooling yang terjadi pada periode 1965-1975. Pada tahun 1965 di Indonesia
politiknya panas, tetapi suhu dunia waktu itu sakjane sedang dingin looh
mboh ini Indonesia kena anomali kali ya … 


Coba lihat belahan bumi utara yang
mendingin. Ini juga sedang adanya perang dingin juga antara Amrik dengan
Rusia …


- “Wadduh pakdhe ngelantur”

+ “upst !!”


Bagaimana fluktuasi rata-rata suhu
bumi inipada periode puluhan-ratusan-ribuan tahun yang lalu.

Sebenarnya pemanasan ini sudah berulang kali terjadi pada jaman sejarah sejak
tahun NOL.






Namun yang cukup menarik (baca menghawatirkan ! ) adalahpemanasan yang terjadi
sejak sepuluh tahun terakhir ini sudah melampaui pemanasan pada jaman Medieval
(seribu tahun yang lalu). Ya, Pada Jaman Medieval telah terjadi pemanasan
global juga.

Coba dipikir sejenak “Apakah benar pemanasan itu selalu dikaitkan dengan
‘Carbon emission’ akibat ulah manusia ?, sudahkan ada pembakaran besar-besaran
oleh manusia pada kala itu ?”


Tentu saja kalau kita melihat gejala
pemanasan ini pernah terjadi pula pada jaman lampau.


- “Tapi Pakdhe, itu kan periode
panjang, sedangkan periode pendek puluhan tahun lalu saja kita memang mengalami
pemanasan global, kan ?”

+ “Yep betul, itupun juga merupakan gejala yang global dan tidak lepas dari
siklus ribuan-ratusan-ribuan tahun. Harus diingat yang sering dipermasalahkan
saat ini adalah siapa sebenarnya yang menyebabkan itu semua. Apakah bener
akibat ulah manusia (anthropogenic) ?


Studi yang dikeluarkan oleh kelompok
studi lingkungan Federal Climate Change Science Program disini telah
mengeluarkan statement bahwa pada tanggal 2 May , 2006, dengan kesimpulan bahwa
“clear evidence of human influences on the climate system (due to changes in
greenhouse gases, aerosols, and stratospheric ozone”. Jadi (menurut mereka)
diketahui ada faktor ulah manusia dalam perubahan iklim global ini.


Kalau memang ada kenaikan suhu, lah
trus komposisi atmosfer apa saja yang juga ikut naik ? Salah satu yang dituduh
adalah kenaikan konsentrasi Carbon Dioxide (C02)






 


Grafik yang diatas itu
memperlihatkan fluktuasi, naik-turunnya konsentrasi CO2 dilihat dari siklus
jaman es hanya dalam hingga 400 tahun yang lalu. Terlihat sekitar setiap
seratus tahun terjadi peningkatan konsentrasi CO2 dan diikuti penurunan dengan
periode seratus tahunan. Lah, trus bagaimana kalau ribuan tahun yang lalu ?


 







Terlihat diatas bahwa sudah
sepuluhkali suhu dunia naik, dan sudah berpuluhkali pula terjadi kenaikan CO2,
sejak sejuta tahun lalu. Sehingga dipercaya bahwa kenaikan suhu selalu 
berkorelasi
dengan kenaikan konsentrasi CO2, ingat berkorelasi, artinya setiap
kenaikan suhu bersamaan dengan kenaikan CO2. Tapi apakah CO2 dan pemanasan
merupakan gejala sebab akibat ? Bagaimana kalau aktifitas biologi (tumbuhan)
berubah gara-gara suhunya naik) jadi justru kebalikannya ?


Kalau bahasa langitnya
terlihat adanya hubungan korelasional, tetapi apakah ini hubungan kausal ?


Kalau dilihat gambar sejak 400 tahun
diatas tentunya terlihat adanya perubahan drastis sejak revolusi industri. Ini
versinya Wikipedia looh ya, yang perlu disadari adanya pendapat yang berbeda


- “Lah, kalau versinya Pakdhe
gemanaaa ?” 


Kalau versiku beda, seperti dibawah
ini :




 


Grafik yang aku buat sebenarnya
hanya menampalkan satu grafik dengan yang lain dan melihat apakah ada korelasi
antara kenaikan suhu, kenaikan CO2 dan produksi migas .. kan selama ini migas
dianggap penyebab kenaikan CO2 juga. Harus diperhatikan bahwa ini hanya untuk
migas, barangkali harus ditambahkan dengan pemanfaatan dari batubara juga.
Cuman Pakdhe lagi mumet cari datanya belum ketemu. Kalau ada
kasih ke Pakdhe ya nanti kita gabungkan dengan grafik diatas.


Pada gambar, grafik yang saya buat
terlihat bahwa kenaikan CO2 di atmosfer ini menanjak terus walaupun dahulu
terjadi pengurangan produksi migas dunia karena embargo (coba perhatikan pas
gambar panah kuning diatas). Lah trus
sapa donk yang menyebabkan CO2nya naik ?

(Sabar ya, Pakdhe cari jawabannya nanti)


Tetapi terlihat bahwa bukan hanya
minyak bumi yang menyebabkan CO2 meningkat. Bagaimana dengan gas bumi ? gas
bumi dianggap lebih bersih dan lebih ramah lingkungan karena emisi CO2nya
rendah, jadi tidak dimaksukkan sebagai faktor dominan karena gas sudah ‘bebas
tuduhan’ 


Bebrapa penelitian lain
memperlihatkan bahwa manusia (antrhopogenic) hanya menyumbangkan 5% dari
produksi CO2 di dunia ini. Lainnya sapa donk ? Bisa tumbuh2an, ingat
kalau malam hari tanaman justru menyerap oksogen dan mengeluarkan CO2. Masih
ingat pelajaran SD dulu kan ?.Juga kalau melihat peningkatan drastis terakhir
ini (lihat gambar global temperatur yang paling atas), terlihat peningkatan
setelah tahun 1990. Nah apa yang terjadi pada saat itu … Pada tanggal 14-15
Juni 1991 Gunung Pinatubo di Filipina meletus TUS ! tentunya buanyak sekali CO2
yang dikeluarkan oleh kawah Pinatubo kan ? dan bersamaan dengan peningkatan
kenaikan suhu global. Namun juga harus diingat terjadi peningkatan produksi
migas, walaupun tidak setajam peningkatan CO2 dari gunung yang terjadi dalam
waktu sangat pendek dan mendadak.


Seorang ahli biologi malah menyatakan begini : Oceans Heating, not
Carbon Dioxide, is the Cause of Global Warming. Menurut dia justru lautlah yang 
menyebabkan pemanasan
global. Bukan daratannya serta penghuni daratannya ?

Mengapa ? Coba kita tengok siklus CO2 di bumi, lihat dibawahini :





Siklus CO2 paling banyak berada di
laut. Bahkan laut merupakan tempat penyimpan Carbon. Hanya sekitar 10% siklus
karbon berada di udara dan daratan. Jadi itulah sebabnya kenapa ada pro-kontra
dari penyebab pemanasan global.


-: “Looh Dhe, lantas siapa yang
bersalah ?”


Yang salah ya yang tanya !. Bukan
lagi hal penting mengetahui dan mencaro-cari siapa yang bersalah, tetapi ada
hal yang lebih penting yaitu bahwa menyadari bumi sedang memanas dan sangat
mungkin akan mempengaruhi iklim dan cuaca pada tahun-tahun mendatang.


Itulah sebabnya kita harus mulai
waspada dengan perubahan alam, apapun dan siapapun yang menyebabkannya.
Perkembangan perubahan (peningkatan) suhu yang terjadi pada dekade belakangan
ini sudah melebihi dari yang pernah tercatat selama ini. Nah ini dia,
ini baru yang sangat mengkhawatirkan.


Salam WASPADA 


- “Pak dhe, kalau gitu aku boleh
bakar-bakar sampah, kan ngga mempengaruhi global
warming tah ?”

- “Haiyak, lah nek asap sampai masuk rumahku tetep saja itu disebut polusi.
Awas jok ngawur, polusi tetep wae polusi, tak kuethak kowe !” 




----- Pesan Asli ----
Dari: Rudi Dustika Teja <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 26 Juni, 2007 11:32:52
Topik: Re: [Singkawang] Mengapa Gelombang Pasang Bisa Terjadi ?









  


    
            
Dear Pak Dayat,
   
  terima kasih banyak tentang info gelombang pasang ini. 
  Terima kasih juga untuk postingan tentang gempa dan lempengan yang terdapat 
di Indonesia beberapa waktu lalu.
   
  Ada berbagai fenomena alam yang kerap menimbulkan tanda tanya belakangan ini. 
Seperti beberapa waktu lalu sebuah Danau di Chili yang tiba-tiba menghilang. 
Dan juga atas topik Global warming yang belakangan ini sering dibicarakan. Apa 
fenomena alam yang sering terjadi belakangan ini mendapat pengaruh dari Global 
warming ya Pak? Karena kalau dirasa-rasa perubahan cuaca sepertinya tak menentu 
, seakan-akan sudah melenceng dari prakiraan siklus normal. .
   
   
   
  Salam,
   
  Rudi.
  








                
________________________________________________________ 
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke