http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=ProOtonomi&id=63231
Jumat, 6 Juli 2007 Harga Diri Golkar Tergadaikan (Pilwako Singkawang) Equatorial Rapat Tim Pilkada Partai Golkar (PG) telah memilih figur incumbent Awang Ishak menjadi pengguna perahu politik untuk melaju ke Pemilihan Walikota (Pilwako) Singkawang. Keputusan yang diklaim jajaran internal PG sebagai mekanisme demokratis dan realistis itu sungguh diluar dugaan bagi Parpol sekaliber PG. Betapa tidak, track record Awang hingga saat ini diragukan untuk menakhodai sebuah pemerintahan lantaran stigma affair dengan Wanita Idaman Lain (WIL) yang melekat pada diri figur tersebut. Kasus yang dikenal dengan sebutan `Mercure Gate' itu masih belum terhapuskan dari ingatan warga Singkawang, Kalbar bahkan menasional. Tayangan amoral tersebut begitu membahana dan dapat diakses dibeberapa situs internet, penyebaran film via handphone, dalam bentuk kepingan compact disk (CD) bahkan mungkin DVD. PG sebetulnya sangat tahu dan mengerti soal ini. Namun karena orientasinya dangkal dan terdistorsi kepentingan sesaat sehingga rela menggadaikan Parpol-nya. Dengan asumsi perhitungan angka dari hasil survey dan posisi incumbent, tentu saja bukan satu-satunya alasan pembenar untuk menjagokan Awang. Mengapa PG begitu menafikan aspek moral dan tak melihat dampak yang sangat luas. Salahsatunya dampak terhadap Pemilu 2009 dan citra partai. Kalau mau jujur, kasus serupa Awang adalah yang menimpa Yahya Zaini—Anggota DPR-RI dari Partai Golkar. Perbuatan mesumnya bersama Maria Eva melalui audio visual handphone, situs porno dan lain-lain telah mendatangkan kegemparan di jagat politik dan pemerintahan. Demi citra PG, Yahya Zaini malah memilih mengundurkan diri dari parlemen atas desakan rekan-rekan dan pucuk pimpinan di Parpol berlambang pohon beringin ini. Yahya juga legowo meninggalkan gedungnya di Senayan sehingga kasusnya pun lenyap bagai kemarau panjang disapu hujan sekejap. Yang membingungkan justeru sikap PG Kalbar termasuk didalamnya DPD PG Kota Singkawang dan Korwil PG Kalbar dan Kalteng yang hadir dalam Rapat Tim Pilkada, Selasa (3/7). Sangat berbanding terbalik dengan kasus Yahya Zaini. Ketika PG berusaha menghapus stigma Orba dan membersihkan diri demi pemeliharaan citra, PG Kalbar malah mengagungkan figur yang bermasalah. Ada apa dengan PG Kalbar?
