http://www.permasis.org/modules.php?name=News&file=article&sid=19&mode=&\
order=0&thold=0
<http://www.permasis.org/modules.php?name=News&file=article&sid=19&mode=\
&order=0&thold=0>

Kiprah Permasis

Nuansa paling kental yang kita dapatkan dalam Acara Ramah Tamah dan
Pengukuhan Dewan Pendiri dan Pengurus Permasis masa bakti 2006-2009
tanggal 3 Desember yang lalu di Hailai Jakarta adalah rasa kekeluargaan.
Pelbagai lapisan masyarakat tumpah dan berbaur dalam satu keluarga
besar. Berbagai lapisan masyarakat bertaut ibarat dalam satu keluarga
besar. Tidak ada perbedaan yang sanggup menyekat rasa kebersamaan satu
keluarga besar Singkawang, Bengkayang dan Sambas itu.

Perhelatan yang dihadiri berbagai utusan dan daerah Singkawang,
Bengkayang, Sambas dan sekitarnya itu terasa semakin semarak karena
dihadini pula oleh Walikota Singkawang, Drs.H.Awang Ishak, M.Si dan
Bupati Bengkayang, Drs.Jacobus Luna. Bupati Sambas — Ir.Burhanuddin
AR — yang dinantikan kehadirannya terpaksa tidak bisa bersua
warganya di Jakarta dikarenakan harus menghadiri rapat Sosek Malindo
yang tidak bisa ditinggalkannya.
Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam acara tersebut adalah rasa
peduli. Di tengah krisis multidimensi melanda republik ini, partisipasi
masyarakat umum untuk berswadaya jelas merupakan titik terang di ujung
terowongan. Di tengah musibah demi musibah menimpa negeri ini, peran
serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan ormas (organisasi
kemasyarakatan) tentu saja akan semakin meringankan pekerjaan pemerintah
yang nampaknya sudah kelimbungan mengatasi permasalahan lain yang sudah
berjibun.
Di sisi lain, sebagaimana jika saya menyitir istilah Prof.Dr.Syafri'i
Ma'arif — cendikiawan Muslim yang juga mantan Ketua Umum PP
Muhammadyah - bahwa dewasa ini masyarakat kita mengalami ketumpulan
nurani. Elite politik memiliki telinga namun tidak bisa mendengarkan dan
mempunyai mata namun tidak bisa melihat. Rombongan wakil rakyat
berbondong-bondong mengadakan studi banding ke luar negeri dengan
menghabiskan biaya yang sangat besar, sementara di belahan bumi persada
lainnya masyarakat yang telah memilih wakil rakyat tersebut harus
menemui ajalnya lantaran mengalami penyakit busung lapar. Ironi ini
makin dipertajam lagi dengan kenaikan uang tunjangan anggota parlemen
secara signifikan, sementara krisis yang tidak berkesudahan ini
menyebabkan jutaan orang harus kehilangan pekerjaannya karena terkena
PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ketimpangan-ketimpangan ini menyebabkan
kepercayaan rakyat kepada elite politik mengalami kemerosotan. Puncak
dan krisis kepercayaan itu terlihat pada pilkada di Nangroe Aceh
Darusalam. Dalam Pilkada di NAD tersebut, pasangan Gubernur dan Wakil
Gubernur yang diusung Partai Politik ternyata terkulai tak berdaya
menghadapi pasangan non partisipan.
Menghadapi situasi seperti itu, peran serta LSM dan Ormas lain sejenis
menjadi semakin penting. Permasis (Perkumpulan Masyarakat Singkawang dan
Sekitarnya) sebagai suatu organisasi kemasyarakatan yang bergerak di
bidang sosial, pendidikan, kebudayaan dan kemanusiaan bisa berperan
semakin strategis membantu saudara-saudara sekampung halaman mereka.
Pada gilirannya, bantuan-bantuan semacam itu akan bermuara kepada
meringankan beban pemenintah dalam usaha pengentasan kemiskinan.

Sebagaimana yang dikatakan Walikota Singkawang dalam kesempatan itu,
walaupun saudara-saudara berada di Jakarta, memiliki usaha di mana-mana,
namun hatinya tetaplah berada di kampung halaman kita. Hal senada juga
dikatakan Bupati Bengkayang. Orang nomor satu di Kabupaten Bengkayang
itu mengetuk hati warganya — yang berada di mana saja — agar
ingat dengan saudara-saudaranya di kampung halaman yang masih banyak
memerlukan uluran tangan. Patut disimak juga sambutan Ketua Dewan
Pengurus Permasis dalam kesempatan itu. Sering kali kesempatan belajar
anak-anak usia sekolah dirampas oleh orangtua murid yang tidak mendorong
tapi malah menghambat anak-anak mereka untuk belajar. Ini sering terjadi
karena tuntutan ekonomi.

Untuk itu, Lio Kurniawan menambahkan perlu mengubah pola pandang orang
tua murid agar memberikan kesempatan dan mendorong agar anak-anak mereka
belajar dan mencari ilmu setinggi-tingginya. Jelas ini bukan masalah
yang mudah. Singkawang, Bengkayang dan Sambas dan demikian juga
kota-kota kecil lainnya di Indonesia mengalami tingkat kemajuan yang
sangat lamban dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.

Keterlambatan pembangunan ini menyebabkan kota-kota besar selalu menjadi
incaran masyarakat lainnya. Akibatnya kota-kota yang tidak mengalami
perkembangan sebagaimana yang diharapkan selalu mengalami arus
urbanisasi besar-besaran. Kota kecil cenderung ditinggalkan sumber daya
manusianya. Padahal sumber daya manusia ini sendiri sangat dibutuhkan
untuk kemajuan suatu daerah. Kota-kota kecil hanya menjadi tempat
anak-anak usia sekolah dasar sampai sekolah menengah umum, bahkan
sekolah menengah pertama. Selanjutnya mereka akan berlomba-lomba
meneruskan pendidikannya di kota-kota besar lainnya. Kota kecil tidak
sanggup memuaskan rasa dahaga mereka yang begitu haus akan pendidikan.
Sanggupkah pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat yang mendasar ini?
Sampai sejauh mana peran serta Permasis menjadi mitra pemerintah dalam
usaha mencerdaskan kehidupan bangsa? Di sinilah eksistensi Permasis
diuji. Sebab sebagaimana yang disampaikan Projogo Pangestu, Ketua Dewan
Kehormatan Abadi Permasis yang ikut memberikan kata sambutan dalam
kesempatan itu. Eksistensi organisasi kemasyarakatan ini sangat
tergantung dengan kiprah dan outputnya.

Sejarah mewartakan betapa banyaknya ormas-ormas serupa harus layu
sebelum berkembang. Fakta juga memaparkan betapa banyaknya ormas yang
harus terkapar di dalam menghadapi apa yang disebut perjalanan waktu.
Organisasi ini bukanlah tujuan, dia hanyalah merupakan sarana untuk
mencapai tujuan itu. Dengan tingkat pendidikan dan sosial masyarakat
Singkawang, Bengkayang dan Sambas yang masih memerlukan akselerasi lebih
tinggi lagi, peran serta Permasis akan menjadi semakin signifikan.
Dengan tingkat kebudayaan daerah Singkawang, Bengkayang dan Sambas yang
masih memerlukan promosi dan go public, peran serta Permasis akan
semakin penting dalam mengantarkannya menjadi puncak-puncak kebudayaan
nasional.

Namun, Permasis tidak bisa berjalan sendiri. Selain konsolidasi internal
harus dilakukan secara terus-menerus dan komprehensif, Permasis juga
memerlukan dukungan dan kerjasama pemerintah dan seluruh lapisan
masyarakat, khususnya masyarakat Singkawang, Bengkayang dan Sambas.
Dengan dukungan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakatlah, niscaya
Permasis akan semakin mengepakkan sayapnya lebih lebar lagi di dalam
usaha menaungi seluruh lapisan masyarakat, teristimewa masyarakat
Singkawang, Bengkayang dan Sambas. (ns)



Kirim email ke