http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=14012\
6

Selasa, 10 Juli 2007
Pujian Zulfydar Mengada-ada

Singkawang,-  Pujian mantan anggota Komnas HAM Kalbar, Drs Zulfydar
Zaydar MM terhadap kepemimpinan Drs Awang Ischak Msi dinilai Ketua DPC
Partai Buruh Kota Singkawang, terlalu mengada-ada. Apalagi, Zulfydar
membandingkan dengan kepala daerah sebelum wali kota. Padahal, kepala
daerah yang memimpin, seperti Syafii Djamil itu mengurusi Kabupaten
Sambas, Bengkayang dan Singkawang sebelum dimekarkan.

"Saya melihat pernyataan Zulfydar sangat mengada-ada. Dia memandang
tidak objektif dan mengedepankan subjektif," kata Harun AS kepada
Pontianak Post, kemarin menanggapi pernyataan Zulfydar. Menurut Harun,
pernyataan Zulfydar bukannya menimbulkan simpatik kepada wali kota,
malah sebaliknya. "Kita khawatir ini memang disuruh oleh wali kota.
Tapi, itu tadi, secara politis sangat merugikan, karena tidak objektif
melihat," kata Harun menjelaskan.

Harun mengibaratkan dengan sepotong roti dalam memimpin daerah ini.
"Ketika kepemimpinan Syafii Djamil dulu, wilayah ini sangat luas. Ada
dua daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia yang perlu
diperhatikan. Begitu juga dengan daerah lainnya yang ada di Kabupaten
Sambas, Bengkayang dan ibu kota di Singkawang. Perlu pembenahan dan
pembangunan. Jadi, dengan porsi sepotong roti dibagi banyak. Tapi,
semuanya bisa menikmatinya. Sekarang ini, wali kota memperoleh sepotong
roti hanya mengurusi lima kecamatan," kata dia.

Jika dibandingkan dengan terdahulu, kata Harun, terus terang sangatlah
kecil pembangunannya. "Setiap tahun ratusan miliar dikali dengan lima
tahun menjabat hanya dapat memolesnya saja. Kemanakan uang sebanyak yang
telah diperoleh dari pemerintah pusat itu. Kota Singkawang yang dulu
sebagai ibu kota Kabupaten Sambas tersedia sarana dan prasananya,"
katanya.

Kata Harun, bila wali kota sukses dalam kepemimpinannya selam lima
tahun, maka dapat diukur dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan di
Kota Singkawang. "Bila angka pengangguran dan kemiskinan turun, berarti
walikota itu sukses. Tapi, sebaliknya. Angka kemiskinan meningkat tajam.
Pengangguran dimana-mana. Lapangan usaha mengecil dan tak ada satu pun
pemerintah yang mampu membuka. Apakah akan berhasil kepala daerah,
ketika angka kemiskinan meningkat, pengangguran dimana-mana. Itu yang
harus direnungi oleh Zulfydar," kata Harun. (zrf)

Kirim email ke