http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=Utama&id=63767
Sabtu, 14 Juli 2007 Tunjuk Awang, Golkar Abaikan Arus Bawah Pontianak,- Partai Golkar sudah menentukan pilihan menyerahkan perahu kepada Drs Awang Ishak maju ke Pemilihan Wali Kota Singkawang, November mendatang. Keputusan itu final dan tinggal menunggu keputusan DPP Partai Golkar. Kini yang menjadi penyesalan adalah proses penentuan nama calon yang didominasi peran Ketua DPD Partai Golkar (PG) Kalbar sehingga nama Awang Ishak aklamasi dan kader partai terabaikan. Anggota Dewan Penasihat (Wanhat) PG Kalbar, H Marzuki Pasaribu, menilai, beberapa persoalan yang terjadi dalam tubuh PG beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa paradigma PG saat ini masih merupakan paradigma orde baru. Itu menurutnya terbukti dari sikap Ketua DPD yang mengarahkan agar aklamasi dalam memilih kandidat yang akan diusung dalam Pilwako Singkawang. "Paradigma PG yang baru itu mestinya dalam mengambil keputusan dimulai dari bawah. Aspirasi dari bawah itu ditampung dan digodok, baru kemudian diusulkan. Bukan dengan cara mengarahkan agar keputusan dilakukan secara aklamasi," katanya. Jika bicara tentang kader PG tidak populer, menurut Marzuki, saat ini secara perlahan sepertinya kader-kader yang potensial di PG mulai menjauh dan menutup diri sehingga saat ini tidak tampak kader PG yang populer dan menonjol. Hal itu, lanjutnya, dikarenakan sikap ketua yang seperti memusuhi kader-kader potensial tersebut. Terutama yang tidak mendukungnya menjadi Ketua DPD PG Kalbar ketika itu. "Ini kelanjutan dari pemilihan Ketua DPD kemarin (beberapa waktu lalu, Red). Masalahnya, sekarang ini dari kepemimpinan PG sejak awal harus menyadari, kepemimpinan tersebut sangat rapuh karena hanya menang satu suara dari lawan waktu itu, dan itu dan sama dengan tidak menang. Mestinya harus ada langkah dari pemimpin sekarang bagaimana merangkul orang-orang yang tidak memilihnya waktu itu sehingga ada stok kader potensial. Bukan dengan memusuhi karena belum tentu orang-orang tersebut juga memusuhinya," ujar aktivis Forum Diskusi 98 ini. Hal itu menurutnya membuat Ketua DPD PG Kalbar saat ini seperti menjadi orang yang skeptis terhadap orang yang dianggapnya musuh. Sehingga keputusan yang dibuat pun ragu-ragu. Sebagai pimpinan itu mestinya tegas dalam menentukan pilihan. Walau akhirnya kalah tentunya dari situ akan didapat pelajaran untuk persiapan menghadapi pertandingan berikutnya. "Saat dia tidak mencalonkan diri dan mundur, sebenarnya pusat sudah melihat karena ragu-ragu dan tidak berani mengambil keputusan. Akhirnya partai menjadi oportunis. Yang menang itu nantinya adalah kandidat, bukan Golkar-nya. Apalagi tentunya dengan kondisi seperti ini, PG belum tentu bisa maksimal sampai ke jajaran bawah untuk memenangkan kandidat mereka," jelasnya. Musdalub Penilaian serupa juga disampaikan mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Singkawang, Budi Wijaya Sag. Ia menyatakan kecewa atas keputusan DPD I PG Kalbar mengusulkan Awang Ishak sebagai kandidat untuk maju dalam perhelatan Pilwako Singkawang. Ia mengilas balik kehadiran Zulfadhli yang dianggap dapat mewakili pemuda saat Musyawarah Daerah (Musda) KNPI di Kota Singkawang beberapa waktu lalu. Dengan sikap PG seperti itu, Budi menandaskan sebaiknya bersangkutan tidak lagi mengatasnamakan pemuda. "Lebih baik menjadi politisi murni," tukasnya. Wakil Ketua I PAC PG Singkawang Barat Abdul Wahid mengungkapkan, keputusan PG untuk mengusung Awang Ishak menjadi Wali Kota Singkawang kali kedua, menyisakan kekecewaan mendalam. "Kenapa kami sebagai arus bawah Partai Golkar tidak dilibatkan untuk memberikan suara terhadap kandidat yang akan diusung untuk maju ke Pilkada Singkawang," katanya dihubungi via telepon, Kamis (12/7) malam lalu. Wahid menjelaskan, Ketua DPD I PG Ir Zulfadhli melakukan penggiringan agar PG menjatuhkan pilihannya ke Awang Ishak yang notabene pernah terkait masalah moral. "Di mana hati nurani Partai Golkar memilih mencalonkan Awang Ishak?" tanyanya. Menurut Wahid, penggiringan yang dilakukan Zulfadhli sangat jelas, kalau tidak mau dikatakan otoriter dalam menentukan bakal calon. "Terlihat jelas sekali kalau Ketua DPD I PG melakukan penggiringan. Kita akan membicarakan ke PAC-PAC, kalau memang terbukti menyalahi mekanisme partai, kami akan mengadakan Musdalub (musyawarah daerah luar biasa)," ancamnya. Penggiringan tersebut, kata Wahid, tampak dari terpilihnya Awang Ishak secara aklamasi tanpa mendengarkan suara arus bawah. "Sebagai kader Partai Golkar, saya jelas kecewa karena tidak dilibatkan memberikan suara untuk menentukan calon yang akan diusung partai untuk bertarung di Pilkada Singkawang," katanya. Penentuan calon yang akan bertarung di Pilkada Singkawang mendatang, kata Wahid, tidak efektif menggunakan LSI. "Sampai saat ini saja kami tidak tahu apa itu LSI, bagaimana sistem kerjanya dan apa kerjanya? Sebagai kader partai, kami tidak pernah merasa dijadikan sampel untuk survei oleh lembaga tersebut," katanya. Terpisah, Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Pontianak Drs Gusti Suryansyah, MSi mengatakan, Partai Golkar mempercayakan penjaringan bakal calon kepada Lembaga Survei Indonesia. "LSI menempatkan saudara Awang Ishak sebagai figur yang akan bertarung dalam Pilkada Singkawang, karena dinilai memenuhi syarat yang diinginkan Partai Golkar. Nah, itu yang harus kita terima sebagai sebuah kenyataan," paparnya. Gusti mengatakan, terbukti atau tidaknya hasil LSI terhadap pengusungan Awang Ishak, dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemilih. "Begitu pula mengenai imbasnya kelak terhadap kredibilitas Partai Golkar, juga diputuskan masyarakat Singkawang," ujarnya. (dik/her)
