Yg dikatakan Pak Fansuri dan Pal Albert ada benar nya dan saya dapat
menerimanya. Kelihatan kita hanya berbeda pendapat dalam "what to do with them
and time frame".
Berikanlah waktu untuk pengusaha walet itu utk memindahkan rumah walet mereka.
Katakanlah dalam waktu sepuluh tahun. Kan banyak tanah2 yg telah dibeli dengan
tujuan utk membangun rumah walet yg tetap kosong tidak dibangun menunggu
keluarnya peraturan dari Pemda. Sudah banyak rumah walet yg didirikan
dipingkiran kota skw. Yg harus disayangkan adalah kenapa sampai sekarang
peraturan rumah walet belum juga rampung. KIta semua kan tahu alasan nya.
"Masalahnya sangat kompleks", jadi harus ber-hati2 merancang peraturannya agar
bisa ada "win-win" pada akhirnya. Akan makan waktu yg lama.
Kalo di China, penguasa nya bilang perlu riset - "jan ciu, jan ciu", di Hakfa
kan jadi Jan (rokok) dan Ciu (arak).
Kalau mau pakai zona sistem, seharusnya tak boleh ada Ruko atau gudang di zona
perumahan. Bukan hanya rumah walet aja.
Saya rasa sikon di Indo yg belum memungkinkan penetrapan sistim zona yg murni.
Harapan saya juga nanti dikemudian hari, sistem zona yg "murni" dapat
diperlakukan di Indo.
Bercak-bercak kotoran di jalan itu bukan dari "walet kita" melainkan dari "o si
jan" yg bersarang diluar perumahan atau yg tidur di saluran listrik.
Cheers.
Li
Fansuri Hamzah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Untuk bung Albert dan Clement,
Sebaiknya memang ada pembagian zona kota berdasarkan peruntukkan yang
berbeda-beda. Zona industri tidak boleh berdekatan apalagi bercampur dengan
zona pemukiman, demikian pula peternakan (termasuk sarang burung walet).
Pembagian zona ini tentunya akan sangat memudahkan manajemen kota dalam
mengatur kotanya. Contoh sederhana, harga air bersih di zona industri lebih
tinggi daripada di zona perumahan (misalnya). Maka otomatis, industri akan
membayar harga lebih tinggi daripada rumah tangga biasa. Kalau tidak ada zoning
tersebut, bisa saja industri dibangun di tengah pemukiman dan menikmati harga
yang sama dengan masyarakat yang tinggal di situ. Kelihatannya tidak apa-apa,
tapi sesungguhnya tidak adil.
Hal yang sama juga terjadi pada sarang burung walet. Kelihatannya tidak
apa-apa sarang burung tersebut ada di tengah-tengah permukiman penduduk, namun
dari sisi keadilan, hal itu tidak adil. Pengusaha yang dapat uangnya,
masyarakat sekitar dapat kotorannya. Tapi masyarakat Indonesia itu punya sifat
"tepo-sliro" (mohon dikoreksi kalau salah pengucapannya), sehingga cenderung
mendiamkan dan menerima saja apa-apa yang sesungguhnya tidak pantas. Nah,..di
sinilah perlunya peran aktif pimpinan daerah untuk mengatasi hal ini.
Salam
Hamzah Fansuri
Albert <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
1 Saya tidak bilang walet itu liar , namun adanya migrasi burung yang
melewati daerah kalimantan sehingga sangat mungkin menularkan nya dari
sesama bangsa burun
2 Bisa menambah nilai estetika ?
kita bisa perhatikan banyaknya burung yang lalu lalang di kota
singkawang dan ada juga yang sewaktu sedang terbang membuang kotoran,
banyak kendaraan menjadi kotor karena itu, bahkan jalan-jalan terdapat
bercak-bercak kotorannya. anda bilang ini dijadikan objek wisata ?
mana ada orang yang tertarik dengan objek wisata yang kotor ?
3. Di beberapa negara maju lainnya, virus ini sudah ditanggapi dengan
melakukan vaksinasi berkala sehingga tingkat penyebaran cukup ditekan
dan Pemerintah mereka menanggapi serius dengan mengelontorkan banyak
dana untuk pencegahannya, di Indonesia ???????
masih tanda tanya besar, dengan dana yang pas-pasan
Anda dapat membandingkan antara penderita di Indonesia dengan
negara-negara lain melalui tabel dari WHO ini:
http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2007_04_11/en/index.html
disana terjadi perbandingan yang sangat signifikan antara Indonesia
dan China, Indonesia menang dalam angka penderita
seperti kita ketahui bahwa China merupakan negara yang cukup padat
penduduknya,namun mereka berhasil menanggulangi dan menekan jumlah
penderita nya, karena Pemerintah China menanggapi secara serius ,
sedangkan Indonesia , tidak melakukan penanggulangan secara intensif
sehingga menyebabkan meningkatnya penderita flu burung
negara-negara maju seperti amerika, melakukan intesifikasi dalam
peternakan unggas mereka sehingga sangat kecil kemungkinan tertular,
tetapi pada negara-negara berkembang seperti negara ASEAN dan negara
Asia, karena keterbatasan teknologi sehingga tidak mempunyai kontrol
yang kuat akan flu burung.
Tentang Singkawang,kita tidak berbicara sejauh itu, kita lebih melihat
efek jangka panjang sehingga saya merasa perlunya alokasi ke tempat
yang jauh dari pemukiman, jadi pendekatan yang saya ambil adalah
PENCEGAHAN.
Saya setuju dengan anda kalau hal ini disebabkan oleh kelalaian
peternak itu sendiri, ya, kelalaian alokasi tempat pemeliharaan
waletnya ! di tengah kota !
good hygiene ? kalau dalam konteks rumah sarang walet, good hygiene
seperti apa yah ? kalau pada ayam , mungkin dilakukan pemberian vaksin
berkala, kebersihan kandang etc dan kita bisa perhatikan, peternakan
ayam di kota singkawang di bangun di daerah yang jauh dari pusat kota,
kenapa ? karena se-hygiene mungkin sebuah peternakan unggas tidak
mungkin bisa total hygiene !
4. udah ada ratusan rumah walet , hmm artinya masih sedikit dong ?
sesuai konteksnya dong. bukankah penduduk singkawang lebih dari 10.000
? ratusan itu masi berapa persen nya 10.000 ?ga sampai 10% bro.
makanya saya sebut "beberapa" karena hanya dibudidayakan secuil warga
singkawang.
--- In [email protected], Clement lee <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sekitar tahun 2005 soal walet sudah diperdebatkan secara mendalam
dan berakhir dengan "agree to disgaree".
>
> Waktu itu ada dua ahli, satu di Oz dan satu lagi di skw. Dua2 nya
dari "down under" negara kankuru.
> Seru sekali "pertarungan mereka tapi tak sampai ada yg "kabur".
>
> Pemda lagi menyusun peraturan rumah walet, bukan ditangan Wakota.
> Pak Wakota hanya bisa menunggu berlakuya peraturan tsb.
> Time and energy pak wakota lebih baik di fokus kan ke masalah2 dalam
"jurisdiction" pemkot skw seperti banyir, jalan2 di gang, investasi,
pendidikan dll.
>
> Pendapat saya:
>
> 1. walet tidak "lokal" dan bukan liar. mereka tidak migrasi dari
negara ke negara kecuali kalau kehilangan "habitat" nya. Tidak banyak
bedanya dengan "dosmetic animal" lainnya.
>
> 2. Sebenarnya bisa menambah nilai estetika kota skw dan bisa di
jadikan obyek wisata - pemandangan senja kota skw disamping pasar Hong
Kong dan "motorcycle parade muda mudi".
>
> 3. maraknya isu tentang flu burung karena waktu itu belum ada negara
yg mengerti betul masalah ini. Di negara2 yg maju, sekarang sudah
tidak begitu di perbincangkan lagi karena sudah mengerti bahwasa nya
penyebaran flu burung dari unggas ke manusia itu tidak begitu mudah
seperti yg ditakuti semula.
> Penyebaran dari unggas ke manusia disebabkan oleh kelalain peternak
itu sendiri - tidak praktek "good hygiene".
>
> 4. Sebenarnya rumah walet itu sudah bukan merupakan salah satu
sumber pemasukan bagi beberapa warga Singkawang, sudah banyak warga yg
memilik rumah walet. Sudah ratusan rumah walet di skw.
>
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.