Dear Budi Handoko,
Saya termasuk orang yang beruntung, karena setelah puluhan tahun (terakhir 
menyaksikannya saat masih di tingkat SD), saya kembali menyaksikan atraksi 
Wayang Gantung pada Kamis malam, 23 Agustus 2007 di Lapangan Tarakan Singkawang.
Pagelaran ini diselenggarakan Permasis dalam rangka peringatan hari proklamasi 
kemerdekaan RI yang ke-62.
Berita ini bisa dibaca dalam Buletin Permasis (BP) edisi 7 yang ditengarai akan 
terbit akhir bulan ini.
Dan tentu saja bisa diakses dalam www.permasis.org pasca terbitnya BP edisi 7 
ini.
Salam sejahtera,
nusantio
  ----- Original Message ----- 
  From: Budi Handoko 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, October 24, 2007 6:12 AM
  Subject: [Singkawang] Ada yg pernah liat Wayang Gantung?


  Wayang Gantung Singkawang di Ambang Senja



          
        Kompas/Haryo Damardono 
        Kelompok Wayang Gantung Shin Thian Chai dari Singkawang, Kalimantan 
Barat, tampil pada Festival Barongsai di GOR Pangsuma, Pontianak, akhir Oktober 
2006. 
  Gonggongan anjing yang gencar menghalangi langkah mendekati kuil tua. Tanpa 
penghuni kuil yang kebetulan saat itu sedang bepergian, bukan mustahil kami 
dikoyak anjing penjaga boneka-boneka wayang gantung Singkawang itu.

  Demikianlah, pupus harapan melihat lagi boneka wayang gantung Singkawang, 
sekitar 180 kilometer dari Pontianak. Di kuil tua itu, dalam kotak kayunya, 
boneka-boneka wayang gantung pernah disembunyikan selama 30 tahun karena rezim 
Orde Baru mengebiri kebudayaan Tionghoa.

  Beruntung, kami telah melihat pertunjukan wayang gantung itu di Gedung 
Olahraga Pangsuma, Pontianak, Kalimantan Barat. Kami terkesima walaupun tidak 
mengerti jalan cerita yang dituturkan dalang dalam bahasa Kek (salah satu 
bahasa daerah China).

  "Wayang gantung dibawa ke Singkawang dari China daratan pada tahun 1929. 
Pertama kali dibawa kakek saya, A Jong. Dia cari uang dari pergelaran keliling 
wayang gantung," kata generasi ketiga dalang wayang gantung, Chin Nen Sin, yang 
usianya di pengujung 60 tahun.

  Di Desa Lirang, Singkawang selatan, di kediamannya yang sederhana, kami 
berbincang dengan Chin Nen Sin. Percakapan dibantu A Hui, kerabat dekat Chin 
Nen. A Hui-lah yang menerjemahkan ucapan Chin Nen, yang menggunakan bahasa Kek.

  Kediaman Chin Nen Sin hanya 200 meter dari kuil tua itu. "Mirip di Jawa," 
kata teman perjalanan, penulis lepas, Muhlis Suhaeri, mengomentari suasana 
sekitar itu. Kediaman Chin Nen dikelilingi sawah dan kebun palawija, dinaungi 
bebukitan Singkawang. Ketika itu udara sejuk karena hujan baru saja reda.

  Kami makan ubi, hasil berkebun Chin Nen, suguhan yang jarang ditemui bila 
bertamu ke kediaman warga Tionghoa di Jakarta. Namun, di Singkawang bertani 
adalah hal biasa bagi warga Tionghoa. Mereka bahkan bukan petani kaya, tetapi 
petani gurem.

  Jika tidak memainkan wayang gantung atau musik kecapi, Chin Nen memang 
beralih jadi petani. Kebutuhan air sawah terjamin, sebab di bukit yang terletak 
di belakang kediaman Chin Nen ada mata air. Terkadang Chin Nen mengisi waktunya 
dengan membuat lampion dan kemudian menjualnya.

  "Cerita wayang gantung dibawa dari China. Ada cerita ksatria, ada pula 
percintaan. Kebanyakan cerita klasik, berdasarkan penuturan para tetua atau 
didongengkan dari ibu ke anak," ujar Chin Nen.

  Bila main di toapekong, pada perayaan ulang tahun dewa atau panglima perang, 
biasanya tuan rumah minta cerita klasik. Sebaliknya, di ulang tahun perkumpulan 
tertentu disajikan cerita yang "ringan" sesuai dengan keseharian.

  Kini, sesuai dengan permintaan, cerita dimodifikasi. Kisah kehidupan rumah 
tangga maupun percintaan berlatar lokasi di Singkawang dinilai mengena. Ini 
mirip kesenian wayang kulit; agar menarik penonton, mengadopsi campur sari. 
Wayang gantung pun terkadang menampilkan biduanita yang membawakan lagu-lagu 
mandarin.

  Modifikasi cerita wayang gantung sesungguhnya mereduksi makna positif 
berbagai kisah. Sebab, kisah China klasik mengandung nilai-nilai Taoisme, 
falsafah Konfusisme-yang dikenal sebagai nilai kebijaksanaan. Modifikasi 
apalagi kematian wayang gantung dapat menyebabkan "terlepasnya" generasi muda 
Tionghoa dari ajaran yang arif.

  Berkurang

  Menurut Chin Nen, harus diakui, penggemar wayang gantung sangat berkurang 
kini. Paling tersisa generasi tua. Saat Imlek atau Cap Go Meh (hari ke-15 
Imlek), ketika orang China Singkawang dari seluruh dunia pulang kampung, 
barulah permintaan pertunjukan melonjak.

  "Kebanyakan yang minta pertunjukan orang-orang tua yang sudah bungkuk-bungkuk 
dan pakai tongkat. Mereka itu tinggal di Jakarta dan kota-kota lain. Ketika 
pulang, lalu rindu masa kecil mereka," kata Chin Nen menceritakan.

  Alasan utama generasi muda tidak lagi suka wayang gantung adalah budaya pop 
China daratan maupun Hongkong dianggap lebih keren. Tekanan rezim Orde Baru 
selama 30-an tahun pun diperkirakan telah mengalienasi budaya itu dari kaumnya. 
Kaum muda Singkawang yang lahir pada tahun 1980-an tidak lagi akrab dengan 
wayang gantung.

  Saat ini memang terjadi reformasi budaya China di seluruh Kalimantan Barat, 
tetapi motor penggeraknya orang-orang tua yang mapan. Ada berbagai motivasi. 
Ada yang tulus, ada pula sekadar menunjukkan eksistensi di kalangan Tionghoa.

  "Kami punya 30 boneka wayang, semuanya dari China. Entah dari kayu apa, 
tetapi tidak lapuk maupun dimakan rayap. Paling dicat ulang. Lalu ketika 
bajunya koyak, kami jahit atau dibuatkan baju baru," ujar Chin Nen menjelaskan.

  Sekali tampil-beda dengan wayang kulit yang membawa semua wayangnya-biasanya 
hanya dibawa 10 boneka, sesuai dengan jalan cerita. Ada boneka bentuk dewa, 
panglima perang, bangsawan, kaum China terpelajar, maupun rakyat biasa. Ada 
boneka lelaki, ada pula boneka perempuan.

  Wayang gantung dimainkan dengan bantuan benang. Ini berbeda dengan wayang 
kulit yang dimainkan dengan memegang kayu, wayang Po Te Hi yang dimainkan 
dengan sarung tangan, atau wayang golek yang dimainkan dengan memegang boneka 
wayang.

  Jika pernah melihat sampul album film The Godfather yang dibintangi Marlon 
Brando dan Al Pacino, seperti itulah wayang gantung. Boneka dijuntai benang 
yang dikaitkan di kayu lalu digerakkan dua tangan.

  Muhlis sangat tertarik dengan korelasi wayang gantung dan sampul album boneka 
gantung The Godfather itu. Namun, di Singkawang, kami tak mendapat jawaban 
mengenai hal itu. Hanya saja, dalam buku Gavin Menzies, 1421: Saat China 
Menemukan Dunia, disebutkan bahwa kebesaran armada laut Cheng Ho mengenalkan 
budaya itu ke Eropa.

  Tiada beda dengan dalang wayang kulit yang menggelar sesajen sebelum tampil, 
dalang wayang gantung pun merapal mantra China kuno terlebih dahulu, dibarengi 
dengan mengorbankan ayam jago. Jika lalai, dikhawatirkan-dan pernah 
terjadi-benang bisa kusut dan boneka sulit dikendalikan. Tak jarang pula dalang 
kerasukan roh "leluhur".

  Butuh waktu 5-6 bulan untuk mahir memainkan wayang gantung. Dalang juga perlu 
keahlian untuk adegan berkelahi dan barongsai. Sebab, perpindahan benang bukan 
saja dari tangan kanan ke tangan kiri, tetapi juga persilangan tangan antardua 
atau lebih dalang.

  Umumnya wayang gantung dimainkan oleh dua hingga empat dalang. Meski 
demikian, satu pertunjukan membutuhkan 12-14 orang, termasuk pemusik dan 
pengatur permainan.

  Dalam konteks ini, kebanyakan pemain adalah kerabat Chin Nen. Sekali tampil 
mereka dibayar Rp 2,6 juta sampai Rp 3 juta. Honor itu selanjutnya dibagi 
kepada semua personel. Dalam setahun kelompok tersebut hanya mendapat 4-6 kali 
panggilan. Artinya, kegiatan itu tidak bisa dijadikan andalan keluarga. Karena 
itu, mereka umumnya juga harus bertani.

  Tiga perkumpulan

  Sebelum dilarang oleh penguasa Orde Baru, ada tiga perkumpulan wayang gantung 
di Singkawang. Kini tinggal satu. Selain surutnya penggemar, mandeknya 
regenerasi jadi momok.

  Dari sembilan anak Chin Nen (lima laki-laki dan empat perempuan), hanya satu 
yang aktif membantu penampilan wayang gantung itu. Amoi itu pun hanya memainkan 
alat musik, bukan memainkan wayang.

  Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum ada penelitian Balai Kajian 
Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tentang wayang gantung Singkawang. Buku 
Peta Wayang di Indonesia (1993) dan Direktori Seni Pertunjukan Tradisional 
(1998/1999) keluaran Departemen Pariwisata juga tidak mencantumkan budaya 
wayang gantung itu.

  Tampaknya wayang gantung Singkawang ini sudah di ambang senja....

  Kompas - Negeriku
  http://kompas.com/ver1/Negeriku/0710/23/130328.htm



   

Kirim email ke