http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=149635
*Senin, 14 Januari 2008* *Jawab Keprihatinan Pengenalan Budaya Tionghoa **X.F Asali Luncurkan Buku Aneka Budaya Tionghoa * [image: BUKU: Peluncuran buku Aneka Budaya Tionghoa Kalbar mendapat sambutan dari berbagai kalangan. FOTO MUDJADI/PONTIANAKPOST] *Pontianak,-* X.F Asali alias Lie Sau Fat, 76 tahun, tokoh Tionghoa yang rajin menulis, baik di Koran-koran local Pontianak maupun di Koran Jakarta,baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa mandarin. Kumpulan tulisannya yang mengulas beraneka ragam budaya Tionghoa kini sudah diterbitkan dalam bentuk buku, yang diluncurkan, Sabtu (12/1) kemarin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun OFM Cap. BUKU bersampul merah dengan ilustrasi foto-foto kegiatan kebudayaan Tionghoa di daerah ini, menjadi pemanis tata wajah. Dari judul dan gambar-gambar itu, terasa sekali bahwa kita memegang buku yang kental mengulas budaya Tionghoa. Buku ini termasuk langka, karena sulit mendapatkan referensi tentang budaya Tionghoa Kalimantan Barat di toko-toko buku di Pontianak ini. Maka dengan adanya karya Lie Sau Fat ini, telah menambah referensi bagi masyarakat untuk mengetahui lebih dalam budaya Tionghoa itu. Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku dari penulis ke Uskup Agung Pontianak Mgr Hieronymus Bumbun OFM Cap, selanjutnya dari Uskup Agung menyerahkan buku-buku tersebut kesejumlah tokoh masyarakat dan undangan, antara lain: Ketua umum MABT Kalbar, Eric; Wakil Ketua DPRD Kota, Hartono Azas; Ketua DPRD Kalbar, Zulfadhli; Kepala BKIKD Kalbar, Hery Djaung; Ketua Umum YBS, Lindra Lie; tokoh masyarakat dayak, Rachmat Sahudin; Ketua Umum MABMKB, Imien Thaha; Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kalbar, Rihat Natsir Silalahi; Humas Polda Kalbar, Suhadi SW; dan ilmuwan, Prof DR Syarif Ibrahim Alkadrie. Sejumlah undangan hadir dalam peluncuran buku tersebut, termasuk dari yayasan-yayasan anggota YBS. Acara yang dipandu MC berpengalaman, Frendis Lu, menambah semarak acara ketika secara spontan meminta tanggapan dari undangan yang hadir. Tanggapan pun dikemukakan, yang menyambut baik kehadiran buku tersebut. Terlebih, buku ini termasuk baru, karena sulitnya mendapatkan kajian-kajian tentang budaya Tionghoa yang ada di daerah ini. "Apa yang saya tulis ini barang lama, tapi baru diterbitkan sekarang, ibaratkan baju, hanya ganti baju saja," tutur Lie Sau Fat merendah. Yang dimaksud barang lama, karena dalam buku ini mengulas masalah-masalah yang sudah memasyarakat dan sudah lama dilakukan di masyarakat Tionghoa, seperti perayaan imlek, cap go meh, barongsai, naga, kue bulan dan lainnya. Semua itu, sudah menjadi agenda rutin yang dirayakan oleh warga Tionghoa di daerah ini. Akan tetapi, perayaan-perayaan itu terasa hanya sekadar pesta dan seremoni belaka, lantaran apa makna dibalik perayaan itu, tidak banyak yang tahu. Maka, dengan adanya buku ini, diharapkan berbagai perayaan tersebut dapat diketahui maknanya secara lebih dalam. Karena setiap perayaan yang dilakukan, mempunyai makna dan cerita yang diulas dalam buku ini. Dan keprihatinan dengan terancam punahnya pemaknaan aneka budaya Tionghoa itulah yang mendorong Lie Sau Fat untuk menerbitkan buku ini. "Saya khawatir, cucu-cucu kita masa mendatang tidak tahu makna berbagai perayaan maupun permainan rakyat yang dilakukan, mereka hanya tahu main naga, main barongsai, tapi apa maknanya, mereka tak paham, itulah juga mendorong saya menulis buku ini," papar Lie Sau Fat seraya menunjukkan buku dengan ketebalan 171 halaman (159+xii) dicetak di atas kertas hvs 80 gram. Buku ini juga memuat berbagai tanggapan, seperti dari mantan Ketua Umum MABT Kalbar, Adhie Rumbee; tanggapan Ketua Umum MABM Kalbar, Imien Thaha; tokoh masyarakat Dayak, RA Rachmat Sahudin BSc; dari pengamat social budaya, Dr William Chang Ofm Cap; dua akademisi memberikan pandangan, Prof Syarif Ibrahim Alkadrie dan Prof DR YC Thambun Anyang SH. Selain itu ada pengantar dari Ketua Umum YBS, Lindra Lie dan Ketua DPRD Kalbar, Ir H Zulfadhli ditambah pandangan (mantan) Gubernur Kalbar, Usman Ja'far. Dikatakan Zufadhli, kehadiran buku ini menambah khazanah budaya, ulasan dalam buku ini memberikan pemahaman untuk saling mengenal dan saling menghargai kebudayaan masing-masing. Diharapkan, buku ini juga dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko buku di Pontianak maupun di daerah. (hold)
