Ribuan Warga Rayakan Imlek di Singkawang

*SINGKAWANG--MI:* Ribuan warga keturunan Tionghoa sejak Rabu (6/2) tengah
malam hingga Kamis (7/2) pagi memadati Vihara Tri Dharma Bumi Raya Pusat
Kota Singkawang, Kalimantan Barat, untuk berdoa di hari pertama Tahun Imlek
2559.

Vihara tertua di kota berjuluk "Seribu Kuil" itu seolah tanpa henti
dikunjungi warga yang ingin memohon kemudahan rejeki serta diberi
kebahagiaan sepanjang tahun yang kali ini berlambang tikus dengan unsur
tanah.

Hio dan kertas persembahan yang dibakar membuat suasana di dalam
kuilterlihat sesak oleh asap. Meski terkadang harus bersenggolan dengan
pengunjung lain karena padatnya orang, namun masing-masing terlihat saling
tidak berbicara dan serius menjalani ritual doa yang harus dilakukan.

Tidak hanya kalangan tua, remaja dan anak-anak juga mengikuti seluruh ritual
yang wajib dijalani. Sementara belasan pengemis memadati jalur masuk menuju
vihara tersebut untuk mengharapkan rejeki dari pengunjung.

Suasana Kota Singkawang yang mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa pada
malam pergantian tahun imlek semarak oleh atraksi kembang api yang seolah
tiada henti. Langit yang cerah pun terlihat warna-warni.

Di Jalan Sejahtera dibuat panggung hiburan sebagai pusat peringatan tahun
baru imlek. Ribuan warga dari berbagai kalangan dan etnis diperkirakan
memadati kawasan diseputar panggung hiburan tersebut yang

memang terletak di kawasan perdagangan dan mayoritas dihuni warga keturunan
Tionghoa.

Lima lampion terbang bertuliskan "Sekeluarga Aman dan Bahagia" membumbung ke
angkasa Kota Singkawang. Calsen, 23, warga Jalan Komodor Yos Sudarso
mengatakan, lampion tersebut diharapkan membawa keinginan seluruh

warga Kota Singkawang ke langit.

"Semua ingin bahagia dan aman," kata Calsen, yang kuliah di Malaysia dan
khusus pulang ke Singkawang untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh (15 hari
setelah hari pertama imlek).

Arak-arakan 12 shio menurut kepercayaan warga Tionghoa membuat suasana di
sekitar Jalan Sejahtera semakin semarak. Tepat saat pergantian tahun,
intensitas kembang api dan mercon yang dibakar semakin meningkat.

Kembang api yang dibakar warga harganya bervariasi antara Rp50 ribu hingga
Rp500 ribu. Menurut Andri, 26, salah seorang penjual kembang api di Jalan
Komodor Yos Sudarso, harga tersebut dipengaruhi jumlah percikan ke angkasa
serta ukuran kembang api.

Ia memperkirakan uang yang dihabiskan warga untuk merayakan imlek dengan
membakar kembang api dan mercon mencapai ratusan juta rupiah. "Hampir setiap
menit ada yang membakar kembang api," katanya.

Maraknya mercon dan kembang api tidak terlepas dari kisah legenda masyarakat
Tionghoa yang memercayai bahwa setiap hari menjelang pergantian tahun akan
muncul binatang buas yang memangsa apa saja. Binatang itu bernama Nian Show.

Xaverius Fuad (XF) Asali (Lie Sau Fat) dalam bukunya Aneka Budaya Tionghoa
Kalimantan Barat menyatakan, untuk menjaga keselamatan keluarga, menjelang
tahun baru semua pintu dan jendela ditutup rapat sambil menanti pergantian
hari. Selang beberapa tahun, Nian Show tidak muncul sehingga

rakyat pun perlahan melupakan.

Namun ketika rakyat lengah, Nian Show muncul dan memakan apa saja kecuali
beberapa rumah karena kebetulan tengah mengadakan pesta kawin atau ulang
tahun. Sesuai tradisi warga Tionghoa, setiap perayaan pesta digantung kain
merah dan dinding rumah ditempeli kertas merah yang bertuliskan

kata-kata arif dan bijak.

Pengantin yang berpakaian merah juga terhindar dari serangan Nian Show.
Begitu juga anak-anak yang bermain mercon atau bunyi-bunyian ramai. "Rupanya
Nian Show juga takut dengan bunyi-bunyian seperti mercon serta warna merah,"
kata XF Asali.

Sebagai tindakan pencegahan, sejak masa itu setiap tahun baru di atas pintu
atau ruangan tamu digantung kain merah atau kertas merah dengan tambahan
kata-kata bijak. Selain itu, juga dipasang mercon sebanyak mungkin
untuk menimbulkan bunyi-bunyian yang menakutkan Nian Show. (Ant

Kirim email ke