http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=325036
Kamis, 07 Feb 2008, *Mereka, Warga Tionghoa yang Jadi Kepala Daerah dalam Pilkada Langsung * Hon San Jaga Tradisi Antiutang, Sau Fan Bikin SK untuk Panitia Imlek Di Kalimantan Barat (Kalbar), baru kali ini ada wakil warga Tionghoa yang naik menjadi kepala daerah, hasil pemilihan langsung. Pertama, Christiandy Sanjaya alias Bong Hon San yang menjadi wakil gubernur. Lalu, Hasan Karman alias Bong Sau Fan yang menjadi wali kota Singkawang. Bagaimana upaya mereka memperjuangkan persamaan hak bagi warga Tionghoa? ------- Perayaan Imlek 2559 benar-benar meriah di Singkawang. Hasan Karman alias Bong Sau Fan secara khusus membagikan bantuan kepada kaum duafa. Tahun ini perayaan Imlek juga lebih meriah karena dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta dan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik. Panitia Imlek dan Cap Go Meh pun dibentuk sangat serius, bahkan dibuatkan SK khusus oleh wali kota. Berikut petikan wawancara dengan Bong Sau Fan: ----- * Selamat siang, Pak?* Siang juga. *Sibuk ya, Pak?* Biasalah. Acara padat. Sekarang saja ada menteri yang datang. *Bagaimana persiapan Anda menyambut Imlek? * Bagi saya pribadi, Imlek hal yang biasa saja. Namun, kali ini terasa lain atau lebih khusus. *Bagaimana Imlek setelah menjadi wali kota?* Sangat bahagia. Biasanya berbaur dengan keluarga. Karena kesibukan, sekarang tidak bisa. Tapi, saya tetap usahakan jam dua ini (siang kemarin) bisa bertemu keluarga dan makan bersama. Malamnya (tadi malam), ada kegiatan dan menteri juga hadir. *Bagaimana Anda menyesuaikan pola kerja di pemerintahan?* Sejak dilantik menjadi wali kota pada 17 Desember 2007, harus diakui acara padat. Apalagi, saya tinggal di hotel beberapa waktu sebelum pindah di rumah jabatan ini. Semua serba kekurangan. Namun, hal itu tentu tidak boleh mengurangi semangat bekerja. Saya tentu tidak boleh juga mengeluh dan tidak boleh menjadi wali kota hanya satu etnis, walaupun saya dari etnis Tionghoa. Saya adalah wali kota semuanya. Saya harus memberi contoh yang baik kepada siapa pun dan memang menjadi beban bagi etnis Tionghoa. Saya sendiri bukanlah bisa mewakili semua warga Tionghoa di Kota Singkawang. Saya ingin menampilkan kesederhanaan dan bekerja untuk Singkawang. *Selama menjadi wali kota, apa saja suka dan dukanya?* Sukanya banyak, begitu juga dukanya. Tapi, kita jalani saja tugas dari rakyat ini. Misalnya, saya harus menginap di hotel. Melakukan aktivitas di hotel seperti menandatangani berkas-berkas yang harus ditandatangani. Sekarang pindah di rumah jabatan, serba kekurangan. Makan pun pakai nasi bungkus sampai sekarang. (Hasan Karman tertawa). Tapi, saya tak mungkin cengeng. Menjalankan tugas dengan kondisi yang serba kekurangan ada hikmahnya juga. Sekarang orang memberi nilai positif. Dukanya, kalau dulu bisa makan mi di pasar, sekarang sulit sekali. Baru saja mau makan mi, ada warga yang menyapa, menyalami. Jadi, mi tak sempat dimakan. Bahkan, ketika makanan berada di mulut, kita harus tersenyum. Khawatir juga dikatakan orang kita sombong. Kebebasan diambil. Tapi, tak masalah. *Apa saja yang dilakukan untuk Singkawang ini?* Jadi wali kota tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tapi, kita tetap berusaha maksimal. Sekarang saja beberapa menteri sudah saya temui langsung, termasuk Dirjen dan sekretaris menteri. Misalnya, Menteri Perhubungan RI. Saya sudah bertemu guna membicarakan masalah bandara. Saya sudah bertemu Menteri Pariwisata dan Kebudayaan dan sekarang ini kita boyong ke Singkawang. Pasti ada nilai positif ketika menteri itu datang. Saya juga bertemu bupati Sambas dan Bengkayang, membicarakan banyak hal. Saya juga sudah bertemu di rumah ini dengan calon investor yang siap menanamkan modal. Kita bicara soal PDAM, listrik, perhotelan. Tentu calon investor nanti bisa melihat peluang mana yang mereka inginkan. Semoga ini menjadi harapan baik. *Adakah kebijakan khusus untuk Tionghoa?* Karena saya dipilih langsung dan saat ini bukan milik warga Tionghoa semata, jadi milik semuanya. Jadi, tak ada kebijakan khusus untuk etnis tertentu, walaupun hari ini saya dilahirkan sebagai etnis Tionghoa. (zulkarnaen fauzi/jpnn/kum) *Wawancara dengan Bong Hon San (Wagub Kalbar): * *Anda adalah orang Tionghoa pertama yang dipilih langsung oleh rakyat sebagai wakil gubernur di Kalimantan Barat. * Itu menunjukkan kalau kami sudah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Tidak lagi melihat latar belakang dari suku atau agama apa pun. Kami berharap segala potensi yang ada bisa menjadi modal, tanpa melihat latar belakang suku maupun agama. *Orang Tionghoa yang berminat ke politik, apalagi sampai maju dalam pilkada, masih sangat sedikit. Bagaimana Anda melihat fenomena ini? * Memang benar. Tapi, saya yakin, suatu saat nanti semakin banyak warga Tionghoa yang berminat ke politik dan maju dalam pilkada. Sebab, masyarakat sudah semakin dewasa dalam persamaan hak setiap warga negara, tanpa melihat etnis. * Dulu, keluhan terbanyak warga Tionghoa adalah perlakuan yang diskriminatif. Mereka menuntut persamaan hak. Apakah di Kalbar tuntutan itu sudah benar-benar dipenuhi? * Sekarang sudah ada penghargaan dari bangsa ini sehingga persamaan hak itu terbukti ada. Kalbar bisa menjadi contoh pelaksanaan persamaan hak tersebut. Ini sesuai peraturan perundang-undangan tentang kewarganegaraan yang memberikan persamaan hak terhadap semua warga negara. *Jangan-jangan, persamaan hak itu menemui kendala di tingkat pelaksanaan?* Memang, yang sering dikeluhkan selama ini adalah pelaksanaan di tingkat bawah. Walaupun sudah ada aturannya, pelaksanaannya masih tidak sejalan dengan apa yang tertulis dalam undang-undang. Tapi, saat ini kita bisa membuktikan bahwa undang-undang benar-benar telah memberikan persamaan hak. Kalbar sudah membuktikan. Aturan itu berjalan. Masyarakat Kalbar bisa menerima hal itu. *Ada yang berbeda di Kalbar pada tahun ini yang tak pernah ada sebelumnya. Yakni, gubernur dan wakil gubernur menggelar open house. Apa makna dari momentum ini?* Menurut saya, makna Imlek adalah wujud syukur atas berkat Tuhan sepanjang tahun. Ada kebiasaan etnis Tionghoa berkumpul bersama keluarga, karena dalam satu tahun penanggalan mereka rajin bekerja, sehingga jarang berkumpul. Makanya, malam Imlek ada istilah makan bersama keluarga, berkumpul bersama keluarga. Suka cita ini ingin dibagi kepada seluruh masyarakat Kalbar, sehingga masyarakat bisa bersilaturahmi. *Bagi Anda pribadi, apa makna Imlek yang selalu datang setiap tahun?* Ada pengajaran dari budaya yang sangat baik. Orang Tionghoa merayakan Imlek tidak mau ada utang. Jadi, utang harus lunas. Saat Imlek tiba, kita tidak boleh utang. Itu supaya tahun baru tidak membayar beban utang tahun sebelumnya. Ini pelajaran sangat berharga dari keluarga Tionghoa. *Ada ajakan agar perayaan Imlek digelar secara sederhana? * Saya kira tidak perlu diimbau untuk merayakan Imlek secara sederhana. Masyarakat Tionghoa akan merayakannya sesuai kemampuan. Harus sesuai dengan apa yang bisa dia syukuri. Kalau dia mampu bermewah-mewahan, kenapa dilarang? Tentu saja yang bersangkutan sudah membuat kalkulasi, berapa dana untuk pesta, berapa untuk sosial, dan berapa untuk kelangsungan hidup di tahun yang akan berjalan. Tapi, bagi mereka yang tidak mampu merayakan dengan wah, tentu saja jangan dipaksakan. Karena akan menjadi beban pada tahun berikutnya. Ya, sesuai dengan kemampuan saja. *Harapan Anda untuk masyarakat Kalbar di tahun baru Imlek ini? * Saya memahami Imlek bukan sebagai kegiatan keagamaan. Jadi, setiap masyarakat Tionghoa boleh mensyukuri nikmat Tuhan sesuai agama yang diyakininya. Saya ucapkan selamat merayakan tahun baru Imlek, dengan harapan bahwa tahun depan kita semakin baik dengan giat bekerja dan berbuat terbaik, untuk Tuhan, keluarga, bangsa, dan masyarakat kita. (donatus m.b/christiandy s./jpnn/kum)
