http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=WISATA&rbrk=&id=29539
* Imlek di Hongkong-nya Indonesia* Sabtu, 05 Jan 2008 SUDAH ada agenda mau merayakan Tahun Baru Imlek di mana? Atau ingin menyaksikan kemeriahan perayaan Tahun Baru China bak berada di Hongkong? Kota Singkawang bisa jadi pilihan. Kala memasuki kota ini, mata akan disuguhi kelenteng maupun kuil hampir di setiap penjuru kota. Bangunan serba merah ini tampak gagah sekaligus indah dengan patung naga seakan menjadi penjaga. Gunung dan laut mengapit mesra kota yang berpenduduk 300 ribu jiwa ini. Konon, Singkawang berasal dari bahasa China, *San Kew Jong* yang berarti kota di kaki gunung dekat muara dan laut. Secara geografis, daerah ini dikelilingi Gunung Pasi, Gunung Sakok, Gunung Poteng dan Laut Natuna. Laut Natuna yang membentang dan pegunungan yang mengapit dari timur dan selatan, serta Sungai Singkawang yang mengaliri dan bermuara di laut Natuna. Kota ini dihuni lebih dari 50 persen warga Tionghoa hingga muncul julukan untuk Singkawang, satu-satunya kota administratif di Kalimantan Barat ini, sebagai kota amoy dan Hongkong-nya Indonesia. Mereka masyoritas bahasa khek (hakka). Sisanya, warga etnis Melayu dan Dayak dan lainnya. Awal mula kedatangan orang-orang China ke Singkawang untuk berdagang. Seiring perkembangan zaman, di antara mereka ada yang bekerja sebagai pedagang, petani, nelayan, tukang dan sebagainya. Agama yang mereka anut beragam, dari Konghocu, Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Kota dengan luas 504 km2 ini termasuk kawasan cukup sibuk dalam dunia perdagangan juga peninggalan bersejarah. Bangunan-bangunan yang berdiri sejak zaman Belanda seperti gedung pemerintahan, pasar, pertokoan, dan kelenteng-kelenteng bertebaran di seluruh penjuru kota. Pada perayaan Imlek di sini begitu terasa. Warga Tionghoa di Singkawang selalu melakukan secara turun-temurun. Setiap tahun perayaan Imlek dimulai sejak hari pertama sampai hari ke 15 atau disebut *Cap Go Meh*. Pada perayaan Imlek ini banyak wisatawan berkunjung untuk menyaksikan berbagai atraksi kesenian dari barongsai, naga sampai pertunjukan ilmu kanuragan. Pertunjukan ilmu kanuragan atau olah kekebalan tubuh dilakukan para suhu. Pimpinan ilmu kekebalan disebut *Lo tung*. Mereka memeragakan kemahiran menebas seluruh tubuh dengan senjata tajam dan berjalan di atas senjata-senjata tajam. Biasanya, setelah pertunjukan, mereka tak segera pulang ke rumah, tapi mampir sejenak di pasar sambil membeli makanan khas seperti bak pao atau mie goreng. Sejak zaman dulu orang menyebut tempat ini dengan Pasar Hongkong. Hari pertama, seluruh penduduk saling berkunjung ke sanak famili tanpa mengenal agama maupun kepercayaan yang dianut. Hari berikutnya, warga biasa mengunjungi daerah-daerah wisata seperti di Sebangkau. Di tempat ini terdapat Patung Dewi Kwan In yang cukup tinggi dan sudah berumur lama, tapi masih terawat baik. Ukiran-ukiran dan warna tetap cemerlang. Di sekitar Patung Dewi Kwan In ada danau-danau kecil berisi bunga-bunga teratai, hingga menambah keasrian Sebangkau. Ada pantai Tanjung Batu. Di sana Anda bisa menikmati hamparan laut yang luas. Tempat yang tak kalah menariknya Pemangkat*. *Di daerah sekitar 37 kilometer dari Singkawang atau 40 menit menggunakan mobil ini* , *ada patung yang sangat terkenal yaitu Patung Tho Pekong. Pada hari ke 15 atau *Cap Go Meh* sebagai puncak perayaan Tahun Baru Imlek. Berbagai kegiatan dan atraksi menarik bisa disaksikan, dari liak liuk naga dengan berbagai ukuran dan barongsai berwarna warni akan memenuhi jalanan. Di halaman kelenteng dan kuil biasanya disuguhkan beragam atraksi, seperti *Lo tung* menari di atas pedang atau senjata tajam. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Kota Singkawang, bisa menggunakan transportasi darat dan laut dari Pontianak. Jika menggunakan pesawat udara, dari Bandara Supadio, Pontianak, bisa menggunakan taksi, atau melalui perusahaan angkutan sewa khusus. Jarak Pontianak, Ibu Kota Kalimantan Barat, dengan Kota Singkawang sekitar 200 kilometer atau kurang lebih tiga jam jika menggunakan mobil. Selain itu, bisa juga memakai bus umum di Terminal Batulayang, Pontianak. *Andi Fachrizal* * *
