http://liburan.info/content/view/460/1/

*10 Obyek Pilihan Wisata Imlek & Cap Go Meh*

Tahun ini warga Indonesia keturunan Tionghoa merayakan tahun baru Cina atau
biasa disebut Imlek 2559. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, perayaaan
Imlek identik dengan pernak-pernik dan kebiasaan para pelakunya, seperti
membagi-bagikan ampau kepada yang lebih muda atau belum menikah, pertunjukan
Barongsai dan Liong, kue keranjang, dan berkunjung ke rumah kerabat dan
teman. Imlek dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari puncaknya
disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Hokkian, malam ke-15 merupakan
puncak perayaan Imlek, oleh karenanya Cap Go Meh dirayakan secara khusus.
Bagi mereka yang senang traveling, perayaan Imlek dan Cap Go Meh dengan
segala macam atributnya menjadi daya tarik tersendiri. Di Indonesia ada
sejumlah tempat menarik yang ramai dikunjungi orang untuk menjalani,
menikmati arsitektur khas, dan merekam prosesi kegiatan seputar Imlek dan
Cap Go Meh. Dari sejumlah tempat itu, ada 10 tempat pilihan rujukan Travel
Club (TC) untuk berwisata Imlek & Cap Go Meh seperti terangkum di bawah ini.

1. Kelenteng & Pasar Petak Sembilan, Jakarta

Jakarta memiliki seratus lebih kelenteng. Beberapa diantaranya berusia uzur,
salah satunya Kelenteng Petak Sembilan. Kelenteng ini dikelilingi tembok.
Pintu utamanya berada di Selatan, berupa gapura naga merah. Sebelah kiri
gerbang ada deretan tiga kelenteng tua. Di halaman kedua terdapat kelenteng
utama menghadap Selatan berikut dua singa (Bao Gu Shi) yang konon berasal
dari Provinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan.

Gedung utama Petak Sembilan didominasi warna merah. Atap bangunannya
melengkung ke atas, berhias sepasang naga. Di dalam ruangannya terdapat
puluhan lilin berukuran besar, setinggi badan orang dewasa dan ratusan
lilin-lilin kecil yang menyala. Di bagian samping kiri gedung utama terdapat
bekas kamar-kamar para rahib. Sedangkan di pojok kanan halaman belakang
terdapat sebuah lonceng buatan tahun 1825 yang konon merupakan lonceng
tertua dari semua kelenteng di Jakarta.

Menjelang perayaan imlek, biasanya para petugas di kelenteng ini sibuk
membersihkan dan mengecat ulang pagar besi dengan cat berwarna merah.
Kelenteng ini tak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang
ingin bersembahyang. Banyak pula para peziarah dan wisatawan yang datang
sambil melihat aktivitas ritual pengunjungnya. Keindahan dan kekhasan
kelenteng ini, juga kerap dijadikan obyek pemotretan para penggemar
fotografi dan juga lokasi syuting video musik.

Kemeriahan menjelang Imlek juga terlihat di sejumlah pasar tradisional yang
biasa dikunjungi masyarakat Tionghoa, seperti Pasar Petak Sembilan di
seberang pusat elektronik Glodok, Jakarta Barat. Pasar ini tak pernah sepi,
terlebih 10 hari menjelang Imlek. Banyak warga keturunan Tionghoa dari
berbagai pelosok Jakarta datang ke pasar ini untuk membeli pernak-pernik
Imlek dan penganan khas Imlek seperti kue keranjang berupa dodol khas China
yang dibungkus daun atau plastik. Kue ini diburu pembeli untuk dimakan
sendiri, diantar ke sanak keluarga dan rekan serta untuk sembahyang.

Di Pasar ini juga dijual aneka manisan kering seperti kana, buah plum, dan
kulit jeruk yang dimaniskan. Makanan yang berasa manis seperti manisan dan
permen dipercaya warga keturunan Tionghoa sebagai perlambang hidup yang
manis. Oleh karenanya kedua cemilan ringan itu kerap disuguhkan saat
merayakan Imlek agar tahun baru membawa kemanisan.

Di sana juga banyak dijual buah khas Imlek seperti jeruk, leci, dan buah
plum. Aneka jeruk terutama jeruk Mandarin, dan jeruk Bali banyak diborong
pembeli karena jeruk dianggap buah simbol persaudaraan dan kerukunan.

Berada di Pasar Petak Sembilan terlebih menjelang Imlek mencuatkan atmosfir
tersendiri yang berbeda dibanding pasar tradisional lain. Deretan lampion
dan pernak-pernik khas Imlek lain yang berwarna merah di sepanjang kiri
kanan jalan jalan dan kios-kios pedagang, seolah membawa kita berada di
salah satu sudut keramaian di negeri China.

2. Kota Seribu Kelenteng, Singkawang, Kalimantan Barat

Singkawang setiap perayaan Imlek dan Cap Gomeh rutin menggelar acara secara
besar-besaran. Ada lima acara besar yang kerap diadakan seperti lomba hias
lampion se-Kota Singkawang, malam kesenian yang dilaksanakan pada malam
Imlek, pawai kendaraan hias, Cap Go Meh, dan malam ramah tamah. Dalam parade
kendaraan hias kita dapat menyaksikan Tatung, Loya, dan Barongsai.

Di kota ini saat acara Cap Go Meh, kita dapat menyaksikan pertunjukan
Tatung. Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan
mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan, dan orang-orang
inilah yang disebut Tatung. Uniknya di Singkawang banyak pribumi atau orang
Dayak yang juga turut serta menjadi Tatung, mereka terdorong berpartisipasi
karena ritual Tatung mirip upacara adat Dayak.

3. Kelenteng Sampo Kong, Semarang

Gedong Batu Sam Po Kong adalah petilasan, bekas tempat persinggahan dan
pendaratan pertama Laksamana China bernama Zheng Ho(Cheng Ho) atau juga
dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah Barat
Daya Kota Semarang. Disebut Gedong Batu karena bentuknya berupa Gua Batu
besar di kaki Bukit Batu. Gedung ini kini menjadi tempat peringatan,
sembahyang, dan berziarah. Di dalam gua batu ada altar dan patung-patung Sam
Po Tay Djien.

Pada malam Imlek dan Cap Go Meh masyarakat berbondong-bondong ke Kelenteng
Gedong Batu. Mereka ada yang bersembahyang dan banyak pula yang sengaja
datang untuk menyaksikan aneka pertunjukan rakyat dan wayang kulit sejak
malam hingga dini hari. Di sana banyak pedagang beragam penganan seperti
lontong cap gomeh dan wedang dari kacang godhog, tebu, sekoteng, dan ronde.

4. Kelenteng Hok Tek Bio, Bogor

Kelenteng (Vihara Dhanagun) ini terletak di Jalan Suryakencana No.1,
tepatnya di sisi kiri bangunan Bogor Plaza, Kota Bogor. Setiap perayaan
Imlek dan Cap Go Meh biasanya menggelar kesenian Tionghoa seperti barongsai
dan pertunjukan Liong (naga). Selain itu juga ada pertunjukan tanjidor,
jaipongan, sisingaan, dan reog Ponorogo. Acara itu berlangsung sejak sore
hingga dini hari. Pengunjung yang datang bukan hanya warga sekitar melainkan
juga dari Bekasi, Sukabumi, Cianjur, Depok, Tanggerang, Jakarta, Bandung,
Semarang, bahkan Surabaya.

5. Phak Khak Liang & Vihara Dewi Kwan Im, Bangka

Kedua tempat bernilai histori religi ini bisa menjadi pilihan Anda untuk
berwisata Imlek & Cap Go Meh. Phak Khak Liang menjadi saksi bisu sejarah
penambangan timah di Bangka yang kemudian dijadikan kawasan wisata yang
dipenuhi bangunan bergaya China.

Lokasinya berada di Belinyu, 57 Km dari Sungailiat. Selain itu ada Makam Cok
Tien, putri dari Bong Kiung Fu, seorang tokoh China yang mendirikan Benteng
Kuto Panji. Makam ini berada di benteng, 1,5 Km dari Kota Belinyu. Sedangkan
Vihara Dewi Kwan Im berada di Desa Jelitik, sekitar 15 Km dari Kota
Sungailiat, tepatnya di bawah kaki bukit yang dialiri sungai. Oleh warga
keturunan Tionghoa di sana, airnya dipercaya dapat menyebuhkan berbagai
penyakit dan bisa bikin awet muda. Di obyek ini terdapat kolam pemandian dan
vihara kecil untuk sembahyang

6. Vihara Avalokitesvara, Banten

Salah satu peninggalan sejarah di kawasan Banten Lama ini berada di Kampung
Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. Sekitar 10
kilometer arah Utara Kota Serang. Bangunan ini masih satu kompleks dengan
Masjid Agung Banten Lama, Keraton Surasowan, Keraton Kaibon, Benteng
Speelwijk, dan bangunan-bangunan sejarah lainnya.

Sejak masa kerajaan dulu, posisi kelenteng ini berada di tengah komunitas
muslim yang taat. Inisiatif pembangunan kelenteng ini justru datang dari
Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo, pada tahun 1652. Semula
lokasinya di Desa Dermayon, di belakang Masjid Agung Banten Lama. Tetapi
tahun 1774 dipindahkan ke Pamarican. Pada zaman keemasan Kerajaan Banten,
kampung ini menjadi pusat industri merica.

7. Makan Malam di Kia-Kia Surabaya & Kesawan Square Medan

Kia-Kia artinya jalan-jalan. Dinamakan Jalan Kembang Jepun, konon menurut
sejarahnya, di tempat itu pernah berdiam keluarga Jepang (Jepun) dengan
salah seorang anak gadisnya yang sangat cantik. Kecantikannya tersebar
sampai pelosok Surabaya hingga dijuluki 'Kembang Jepun'. Tempat rumah
tersebut berdiri dinamakan "Jalan Kembang Jepun" yang termasuk salah satu
pusat bisnis di Surabaya. Kia-Kia merupakan tempat ngumpulnya warga
keturunan Tionghoa dii Surabaya.

Sebab disepanjang Jalan Kembang Jepun sampai Jembatan Merah 4 terdapat
sejumlah pedagang yang menyajikan aneka maskan China. Tempat pertama kali
penduduk China tinggal di Surabaya yang kemudian berkembang menjadi pusat
jajanan Chinesse di Surabaya. Kia Kia buka mulai 7 malam hingga larut malam.

Kesawan Square merupakan tempat makan di Kota Medan yang ramai sejak sore
hingga tengah malam. Letaknya di Jalan Ahmad Yani yang dulunya bernama
Kesawan. Di tempat ini kita dapat menikmati aneka masakan Chinesse dan
Indonesia sambil dihibur alunan musik dari mobil terbuka. Seperti Kia-Kia,
siang hari tempat ini menjadi pusat pertokoan dan bisnis.

8. Kelenteng Tek Hay Kiong, Tegal

Kelenteng berusia 300 tahun lebih ini berdiri di atas tanah seluas 4500
meter persegi. Kelenteng ini sebelumnya bernama Cin Jin Bio. Adapun nama Tek
Hay Kiong dapat diartikan juga Istana dari Konco Tek Hay Cin Jien yang
merupakan gelar kebesaran dari Kwee Lak Kwa. Bagi masyarakat Tegal dan
sekitarnya Konco Tek Hay Cin Jien dipuja sebagai Dewa Pelindung. Mereka yang
dapat mendekati jiwa kepribadiannya, akan mendapat berkah dan keselamatan
Kongco Tek Hay Cin Jien. Konco Tek Hay Cien Jien datang ke Kota Tegal pada
tahun 1737, sebagai utusan perdagangan Tiongkok yang datang ke nusantara.

Di kelenteng ini setiap tahun menggelar acara antara lain Sembahyang Pantai
dengan mengundang kelenteng-kelenteng dewa laut dari kota di Pantai Tegal.
Lalu Kirab Toa Pe Kong dimana Kelenteng Tek Hay Kiong mengeluarkan 8 tandu,
Sembahyang Rebutan/Tiong Guan, dan upacara Sejit Tek Hay Cin Jin yang
diadakan secara besar-besaran untuk merayakan hari pertama Kong Co Tek Hay
Cin Jin datang ke Tegal.

9. Kampung Senggarang dan Vihara Dharma Sasana, Bintan, Kepulauan Riau

Kampung Senggarang merupakan kawasan pecinan yang berbeda. Biasanya pecinan
berada di tengah kota, Senggarang justru persis di tepi pantai. Di kampung
yang tertata rapih dan bersih ini, tradisi Cina masih terasa kental. Setiap
rumahnya memiliki ornament khas. Aroma hio tercium akrab dan kerap terdengar
alunan musik khas China.

Vihara Dharma Sasana berusia ratusan tahun menjadi daya tarik lain kampung
ini. Tamannya luas dengan rumput hijau dan patung-patung dewa raksasa di
belakang dan depan bangunan utama. Selain itu, ada Vihara Banyan Tree dengan
pintu utama yang dipeluk erat oleh akar-akar pohon beringin raksasa nan
rindang. Kampung ini, terutama kedua kelentengnya ramai dikunjungi umat
Budha dari Bintan dan Batam, bahkan dari Singapura dan Malaysia.

10. Sejumlah Mall & Taman Hiburan Rakyat

Selama Imlek, sejumlah mal dan plasa di kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, dan Medan kerap menggelar acara. Interior mal dihias sejumlah
lampion dan pernak-pernik khas Imlek lainnya. Biasanya juga ditampilkan
kesenian Barongsai dan Liong. Selain itu sejumlah tempat hiburan juga
menggelar acara bertemakan Imlek dan Cap Go Meh seperti konser musik, dan
lainnya. Nah, Anda tinggal pilih mau menikmati suasana Imlek di mal, tempat
hiburan rakyat atau di kelenteng yang ada di kota sendiri atau di daerah
lain. Selamat berwisata Imlek dan Cap Go Meh, Gong Xi Fat Choi.


* Sumber: Majalah Travel Club*

Kirim email ke