--http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=10040 Kamis, 21 Feb 2008, Semarak Kota Singkawang dalam Merayakan Cap Go Meh (1)
Ratusan Tatung Berkeliling Kota Mengusir Roh Jahat Tak ada perayaan Cap Go Meh di tanah air semeriah yang digelar di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Hari ke-15 sekaligus penutup perayaan Imlek itu selalu dinanti-nantikan warga. Bahkan, seperti Lebaran, warga di perantauan pun pulang ke kampung halaman untuk menyambut hari bahagia itu. ZULKARNAIN FAUZIE, Singkawang DUA tandu di Vihara Chau Liu Nyian Shian, Jalan Budi Utomo, Singkawang, catnya tampak lebih berkilat dibanding biasanya. Menyambut perayaan besar Cap Go Meh yang sudah jadi agenda tahunan, sejak pekan lalu tandu terbuat dari besi dan kayu itu dibenahi. Tandu itu bagian penting dari perayaan Cap Go Meh. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang secara harfiah berarti hari ke-15 bulan pertama penanggalan bulan itu. Hal itu ditandai dengan bulan yang sedang bulat penuh di langit. Kesiapan menghadapi Cap Go Meh terlihat dari dua tandu yang sudah dipasangi pisau besar yang sangat tajam. Di sekelilingnya juga terdapat tombak. Djin Khin Djung alias Ajung, 54, yang dijuluki "tatung" memperhatikan pisau yang tampak mengilap habis diasah itu. "Pisau ini sangat tajam," kata Ajung kepada Pontianak Post di sela-sela persiapan kemarin. Ajung bersama anaknya yang baru berumur delapan tahun lalu mencoba menaiki tandu tersebut. Beberapa orang yang melihat kejadian itu mengaku ngeri. Mereka khawatir mata pisau besar dan tombak tajam itu melukai telapak kaki Ajung dan anaknya. Namun, keduanya seperti biasa saja. Menurut Ajung, dia bersama lima anaknya -termasuk Hendri Pansinwong, bocah 8 tahun yang diajak kemarin- akan memperlihatkan atraksi yang memukau pada Cap Go Meh kali ini. Ajung adalah salah satu orang istimewa dalam komunitas Tionghoa di Singkawang. Dia disebut tatung atau louya yang maknanya kurang lebih "orang pintar" dalam dunia spiritual dan pengobatan. Di Singkawang jumlah mereka lebih dari 400 orang. Sehari-hari mereka sebetulnya orang biasa. Ada yang menjadi buruh, nelayan, tukang gigi, dan sebagainya. Namun, kekhususan kemampuan spriritual itu membuat mereka dinobatkan menjadi tatung. Dengan pakaian kebesaran ala "dewa", mereka bisa bergerak dalam kondisi trance, seperti benar-benar "dewa" yang turun ke bumi. Seperti debus Banten, para tatung juga mempersiapkan beberapa benda tajam untuk ditusukkan di tubuhnya. "Barang ini akan dipukulkan ke tubuh. Barang ini sebetulnya punya makna," kata Ajung. Dia lantas memperlihatkan gir motor yang diasah seperti mata jarum yang bisa melukai. Selain itu, ada besi kuning keemasan yang juga diasah seperti mata jarum. "Maknanya, semoga ada berkah setiap tahun atau lian moi fuk," kata Ajung yang sehari-hari sering menerima tamu yang ingin mendapat pengobatan. Ajung menjadi tatung sejak berumur tujuh tahun. Saat itu dia bekerja di perkebunan karet di Sagatani, Kecamatan Singkawang Timur. Suatu hari dia demam dengan panas tinggi. Oleh orang tuanya dia dibawa ke dokter. Ternyata, sakitnya tak sembuh-sembuh. "Setelah dibawa ke tempat lain, saya menerima ’wahyu’ bahwa harus menjadi tatung. Saya pun menjalaninya hingga sekarang," kata pria berjenggot putih itu. Yang menjelma masuk ke dalam tubuhnya, kata Ajung, adalah Chai Liu Nyian Shai. "Nama ini diabadikan menjadi nama vihara," kata Ajung. Seperti tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun, sehari sebelum perayaan Ajung bersama lima anaknya akan keluar dan mengelilingi kota. Ritual itu bertujuan mengusir roh jahat yang ada. "Dalam upacara ini, setiap kali bertemu vihara akan dilakukan prosesi sembahyang atau minta izin," kata Ajung yang sering keluar negeri untuk mengobati warga yang membutuhkan pertolongannya. Seperti Ajung, semua tatung yang akan mengikuti perayaan Cap Go Meh melakukan ritual di vihara masing-masing. Ajung bersama anak-anaknya memulai ritual di Vihara Tengah Kota Singkawang. Untuk memperlancar ritual tatung tersebut, jalan utama Kota Singkawang ditutup. Atraksi tatung sebetulnya sangat mengerikan. Mereka kadang berdiri di atas pisau besar yang diasah tajam. Bahkan, kadang ada atraksi memakan hewan (ayam atau anjing) hidup-hidup. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Singkawang Syech Bandar selaku panitia perayaan Cap Go Meh mengatakan, ada 427 tatung yang akan tampil. Panitia membaginya dalam empat kelompok. Kelompok pertama, tatung dan tandu (to khiau) terdapat 286 orang, tatung tanpa tandu (mo khiau) 102 orang, dan tandu tanpa tatung (sin khiau) diikuti 33 peserta dan jelangkung (choi lam sin) diikuti enam peserta. Rangkaian Cap Go Meh sudah dimulai Selasa (19/2) malam dengan festival lampion. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Singkawang Hasan Karman yang ditandai dengan menabuh beduk. Ribuan masyarakat Kota Singkawang tumpah ruah menyaksikan pawai lampion yang diikuti berbagai macam aksi. Di antaranya tatung, barongsai, dan naga. Setelah seremoni pembukaan, Hasan Karman dan para pimpinan daerah menaiki mobil yang dihiasi dengan ornamen lampion. Terlihat indah sekali. Para pejabat itu pun melambaikan tangan kepada masyarakat yang menyaksikan kekompakan mereka. Satu per satu mobil melintas di depan tribun utama. Ada tatung beraksi di atas tandu dan mengijak-injak parang yang sudah diasah tajam. Ajung bersama putranya yang berumur delapan tahun beraksi di atas truk. Tadi malam juga digelar pentas budaya. Ada tiga panggung besar yang disiapkan panitia, yakni di Jalan Sejahtera, Jalan Kepol Mahmud, dan Jalan Budi Utomo. Pentas Sejahtera menyajikan permainan Barongsai Tonggak dan Naga Bulan yang menang kontes barongsai se-Asia Tenggara di Kuching, Malaysia. Bukan hanya itu. Ada juga pentas di depan Kelenteng Tri Dharma Bumi Raya yang menampilkan wayang gantung dan musik klasik Tiongkok bernama pat jim. Pentas ditutup dengan penampilan 15 peguyuban dan sanggar seni Kota Singkawang. Mulai Sanggar Jawa, Madura, Tionghoa, dan Dayak. Puncak Festival Cap Go Meh digelar hari ini (21/2) pukul 10.00. Akan ada panggung kehormatan di Jalan Diponegoro, depan eks Bioskop Kota Indah. Selain itu, ada pertunjukan naga terbesar. Naga raksasa yang diprakarsai Sanggar Mandala itu mempunyai bobot kepala 100 kilogram dengan tinggi kepala 8 meter. Badan naga itu mempunyai panjang sekitar 288 meter dengan diameter 5 meter. Saking besarnya naga, Shinse Aleng, penanggung jawab acara yang juga ketua Sanggar Mandala, mengatakan, para pengunjung bisa masuk dan berjalan di dalam perut naga yang dihiasi dengan aneka lampion, aksesori, musik, dan lainnya. "Sekitar 200 orang bisa muat dalam perut naga itu," ujar Aleng tentang naga yang pembuatannya menghabiskan Rp 400 juta itu. Di perut naga yang berbahan utama rotan dan menghabiskan sekitar 1.000 meter kain itu juga disediakan lampion terbesar dengan ukuran lebar 2 meter dan tinggi 2,5 meter. Lampion inilah yang membuat badan naga yang meliuk-liuk itu bercahaya di waktu malam. (el)
