Ketika Istri Di Puncak Karir
  Sabtu, 19 April 2008 | 11:18 WIB

*Saat karir istri sedang berada di puncak sementara karir suami seperti
jalan di tempat, bagaimana sebaiknya istri harus bersikap agar suami tak
merasa terintimidasi?
*
Jabatan yang sejak lama Anda idamkan akhirnya berada dalam genggaman. Bukan
hanya penghasilan, tanggung jawab pun bertambah. Tapi bukannya mendukung,
suami justru jadi terlalu banyak tuntutan dan ingin serba dilayani.

Seperti yang dialami oleh Audrey (32), seorang marketing manajer di sebuah
perusahaan ternama. "Sebagai seorang pimpinan di kantor kadang sikap itu
sering terbawa ke rumah, di lain pihak suami merasa sebagai bos di rumah.
Kami pun jadi sering bertengkar. Akibatnya kami lebih sering komunikasi
lewat sms karena setiap ketemu pasti ribut. Di rumah pun waktu saya habis
tercurah untuk anak-anak yang masih kecil-kecil, sehingga saya dan suami
jarang bermesraan." keluhnya.

Apa yang dialami Audrey mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lain yang
sukses dalam berkarir. Tak bisa dipungkiri, power dalam kehidupan rumah
tangga bersumber dari finansial, hal ini tak hanya berlaku pada perkawinan
konvensional tapi juga suami istri yang sudah menerapkan konsep persamaan
dalam perkawinan. Masalah ketimpangan penghasilan antara suami dan istri
bisa jadi pemicu hancurnya perkawinan.

"Untuk para suami, ego mereka bersumber dari finansial dan kemapanan karir,"
kata Roslina Verauli, psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah. Jadi meski
sang istri tidak bersikap mendominasi di rumah, suami pasti akan mengalami
kriris ego saat melihat istrinya jauh lebih maju. "Laki-laki yang disakiti
egonya menjadi gampang marah, cepat tersinggung dan sensitif," ujar Vera.

Padahal di lain pihak para istri yang sukses dalam karirnya menghadapi
tuntutan kerja yang tinggi sehingga harus lebih banyak berada di luar rumah.
"Energi istri akan habis di luar, dalam kondisi ini tensinya pasti tinggi,
kalau sudah begini ketemu suami yang tidak bahagia pasti jadinya perang,"
cetus Vera.

*Bicara*
Memang idealnya istri tidak melupakan perannya sebagai istri dan ibu di
rumah, misalnya dengan membuat masakan untuk anak-anak atau menyediakan
minuman untuk suami. Tapi seringkali istri sudah keburu kelelahan pulang
bekerja. "Terkadang saya harus kerja sampai malam, belum lagi jarak rumah
dan kantor yang berjauhan. Sampai di rumah rasanya hanya ingin tidur setelah
bermain dengan anak sebentar," kata Audrey.

Karena sedikitnya waktu yang dimiliki istri, seringkali suami dan istri
tidak punya kesempatan untuk bermesraan. Padahal setinggi apa pun jabatan
istri di luar ia tetaplah perempuan yang butuh sentuhan dan ini tidak bisa
dipenuhi dari suami yang egonya terluka.

"Istri butuh dibahagiakan, sementara suami yang krisis pede ingin
mendapatkan pengakuan dengan cara dilayani. Sekarang problemnya siapa yang
mau mengalah?" tanya Vera.

Meski terdengar klise, namun menurut Vera yang harus dilakukan pasangan
suami istri yang menghadapi masalah seperti itu adalah komunikasi. "Jangan
hanya berasumsi dan menduga-duga pikiran pasangan. Lebih baik duduk berdua
dan bicara," sarannya.

Utarakan dengan jujur keinginan dan harapan masing-masing. Bicarakan dengan
empati karena suasana hati suami biasanya cukup sensitif. Setelah saling
terbuka lalu dicari jalan keluar yang terbaik untuk keluarga. "Kembali lagi
pada tujuan pernikahan, apakah yang ingin dikejar, uang yang banyak untuk
hidup mapan atau kebahagiaan pasangan," kata Vera.

Kirim email ke