*Walikota Singkawang : "Saya Tahu Persis Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh…"*
Luar biasa kesibukan Hasan Karman (HK), walikota Singkawang yang baru ini. Lebih-lebih mendekati saat-saat menjelang diselenggarakannya MTQ XXII tingkat Propinsi Kalimantan Barat di kota yang baru empat bulan dipimpinnya. Hal ini sangat bisa dimengerti, karena selain Walikota, lelaki enerjik ini juga sebagai Ketua Umum Panitia Pelaksana MTQ XXII tanggal 24-31 Mei 2008 di Singkawang.Untuk mengetahui persiapan Singkawang sebagai tuan rumah dan harapan-harapan Singkawang menghadapi event tiga tahunan ini, berikut petikan wawancara Buletin Permasis (BP) dengan suami Elizabeth Majuyetty ini. *BP : Bisa Bapak jelaskan bagaimana kronologisnya sehingga dipilihnya Singkawang sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ XXII tingkat propinsi Kalbar?* HK : Ketetapan Singkawang sebagai tuan rumah MTQ XXII Propinsi Kalbar dilakukan dalam Rakernas LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an) Kalbar di Putussibau tahun 2004 saat pelaksanaan MTQ XXI Kalbar di Putussibau. Ketika itu Kota Singkawang bersaing sebagai calon tuan rumah MTQ XXII Kalbar bersama dengan Kab. Pontianak dan Kab. Sambas. Namun akhirnya Kota Singkawang memenangkan pemilihan atau voting tersebut. Penetapan Kota Singkawang sebagai tuan rumah MTQ XXII Kalbar dengan SK Gubernur Kalbar. Saat ini Kalbar memiliki 12 Kabupaten dan 2 Kota. MTQ diselenggarakan setiap 3 tahun sekali. Jika dirotasi secara bergilir, maka setiap Kabupaten/Kota baru akan mendapat kesempatan menjadi tuan rumah MTQ dalam rentang waktu 42 tahun. *BP : Sampai sejauh mana persiapan Singkawang - sebagai tuan rumah - menghadapi MTQ XXII tsb?* HK : Persiapan sudah hampir rampung. Stadium Kridasana sebagai tempat Upacara dari 14 Kabupaten/Kota masing-masing mendapat Penghubung yang ditentukan oleh Panitia Pelaksana, yaitu para Kepala Dinas di lingkungan Pemkot Singkawang. Jika Kabupaten/Kota ingin bertanya atau berkomunikasi mengenai suatu masalah, maka delegasi cukup menghubungi Penghubung yang telah ditentukan untuk Kabupaten/Kotanya. Akomodasi, konsumsi, transportasi, tempat pameran, kendaraan untuk Pawai Ta'rub, tempat dan lokasi perlombaan dan sebagainya semua sudah siap, termasuk persiapan dan latihan 1.000 Penari Tahar (sejenis tamburin) yang akan menyemarakkan Upacara Pembukaan. Untuk Kota Singkawang pelbagai baliho untuk menyukseskan MTQ XXII Kalbar sudah dipasang. Panitia juga telah menyurati masing-masing Kabupaten/Kota untuk membuat masyarakat Kalbar "demam" MTQ. *BP : Berapa peserta yang diperkirakan hadir? Di mana pula Singkawang menempatkan jumlah peserta yang banyak itu dan bagaimana menangani masalah akomodasi peserta? Mohon penjelasan Bapak Walikota.* HK : Jatah setiap delegasi yang ditanggung Panitia adalah 50 orang, baik peserta maupun ditanggung masing-masing delegasi. Jadi 14 (Kabupaten/Kota) X 50 orang = 700 orang. Ini di luar peserta pameran dan penggembira yang menyertai masing-masing delegasi. Panitia membooking semua penginapan yang ada di Singkawang dan mess yang dapat digunakan. Sebagai cadangan, Panitia menyiapkan rumah- rumah dinas yang masih memiliki kamar kosong dan akan menyewa ruko-ruko kosong untuk dijadikan penginapan. Dari kalkulasi yang dilakukan, masalah akomodasi sudah tidak masalah. *BP : Kalau masalah konsumsi?* HK : Mengenai konsumsi, Panitia tidak menyediakan dapur umum, namun memberdayakan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang biasa mangkel di Pasar Hong Kong. PKL akan dimobilisasi sebagai Pujasera (Pusat Jajan Serba Ada) dari pagi sampai malam untuk sarapan, (delegasi). Panitia akan menyerahkan yang menentukan mau makan apa. Jika uang makan ada sisa lebih, mereka bisa jadikan uang saku tambahan. Sistem ini merupakan terobosan, karena dalam banyak event sejenis MTQ, konsumsi kerapkali menjadi masalah. Lebih-lebih tempat dan waktu masing-masing cabang perlombaan bisa berbeda. Misalnya jika Panitia menyiapkan makan siang jam tempat perlombaan sebelum jam 12. Jadi jika mereka diberikan uang makan, dan Pusat Jajan dimobilisasi dekat tempat penginapan atau mengatur waktu makan dan jenis makanan sesuai selera mereka. Sementara konsumsi yang disiapkan dengan pola dapur umum bisa menjadi kendala karena masalah waktu dan tempat ini, belum lagi soal selera. Pola ini juga diterapkan agar PKL bisa turut menikmati dan menambah penghasilan dengan dilaksanakannya MTQ Propinsi di Singkawang. *BP : Mungkin ada hambatan yang dihadapi?* HK : Hambatan klasik yang senantiasa dihadapi dalam pelaksanaan event seperti ini adalah masalah dana. Karena itu Pemkot Singkawang mengharapkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, baik berupa donasi maupun sponsorship. *BP : Sebagai tuan rumah, apa yang Singkawang harapkan dari penyelenggaraan MTQ XXII ini?* HK : Karena MTQ XXII ini merupakan hajatan Propinsi Kalbar, dan Singkawang mendapat amanah sebagai tuan rumahnya. Tentu kita harus menyukseskannya. Kesuksesan penyelenggaraan akan menjadi keberhasilan seluruh masyarakat Kalbar, sebaliknya jika gagal, maka masyarakat Singkawang sebagai tuan rumah akan menanggung segala akibatnya. Kita hanya berharap bisa menjadi tuan rumah yang baik dan sukses menyelenggarakan MTQ XXII Kalbar yang dipercayakan kepada Singkawang. Jika Panitia Capgomeh 2008 bisa sukses melaksanakan event tersebut, maka Panitia Pelaksana MTQ XXII Kalbar juga harus sukses. Dengan demikian, Kota Singkawang (yang disebut-sebut) sebagai masyarakat yang plural dan harmonis baru benar-benar bisa dibuktikan apa adanya. * BP : Apa yang Bapak paparkan di hadapan Bapak Gubernur akhir bulan lalu dalam kaitan dengan Singkawang sebagai tuan rumah penyelenggara MTQ XXII? Siapa-siapa saja yang hadir dalam paparan itu? Bagaimana pula tanggapan Bapak Gubernur dan jajaran yang hadir saat itu?* HK : Karena kesibukan dan harus berangkat ke Jakarta, pada kesempatan itu Gubernur diwakilkan kepada Sekda (Sekretaris Daerah) Propinsi Kalbar. Saya memaparkan persiapan dan menayangkan secara visual lokasi, cabang-cabang yang dilombakan dan data-data yang berkaitan dengan persiapan dan penyelenggaraan MTQ. Yang hadir saat itu selain Sekda Kalbar adalah Ketua Harian LPTQ Kalbar beserta segenap pengurusnya dan seluruh ofisial dari 14 Kabupaten/Kota se-Kalbar. Selesai pemaparan, seluruh perwakilan diberi kesempatan untuk bertanya jika ada yang kurang jelas atau yang ingin diketahui. Seluruh perwakilan terperanjat begitu mengetahui saya menguasai hampir semua persoalan persiapan dan pelaksanaan MTQ. Secara normatif sebagai Walikota saya adalah Ketua Umum Panitia Pelaksana MTQ XXII Kalbar, meskipun saya non-Muslim. Saya bertanggung jawab menyukseskan event ini sejauh yang tidak bertentangan dengan Aqidah. Saya tidak menyentuhkan bagian-bagian yang tidak diperbolehkan. Saya tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh karena selalu berkonsultasi dengan ahli hukumnya. *BP : Mungkin ada himbauan Bapak untuk masyarakat Singkawang menghadapi MTQ XXII ini?* HK : Saya berharap segenap masyarakat Singkawang, baik yang ada di Singkawang maupun yang tidak berada di Singkawang untuk turut menyukseskan MTQ XXII Kalbar. Sebagai tuan rumah yang baik, maka kita harus menjamu tamu dengan pelayanan yang memuaskan. Jadikan event MTQ ini sebagai milik bersama. Sama seperti Perayaan Imlek-Capgomeh, Naik Dago dan sebagainya. Tunjukkan bahwa warga Singkawang yang plural benar-benar bisa hidup harmonis, toleran dan saling menghargai. Jika ingin dihargai, maka kita harus belajar menghargai. Dengan demikian kehamonisan yang sejati akan terwujud. (ns)
