Duuh! Harga Minyak Tembus 123 Dolar AS
Kamis, 8 Mei 2008 | 04:56 WIB

*NEW YORK, KAMIS *- Harga minyak dunia melonjak ke rekor tertinggi baru di
atas 123 dolar AS per barel, Rabu, di tengah kekhawatiran tentang ketatnya
pasokan dan berlanjutnya kerusuhan di negara kaya minyak Nigeria.

Harga minyak mentah New York melesat ke tertinggi baru, memukul rekor harga
Selasa 122,73 dolar AS, meski cadangan energi AS pekan lalu meningkat lebih
besar dari yang diperkirakan.

Kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis "light sweet"
untuk pengiriman Juni, ditutup pada rekor 123,53 dolar AS per barel, setelah
menyentuh puncak tertinggi perdagangan harian 123,80 dolar AS. Kontrak
terangkat 1,69 dolar AS dibandingkan harga penutupan Selasa.

Di London, minyak mentah Brent melesat ke puncak teratas selama ini pada
122,70 dolar, sebelum mantap pada 122,32 dolar AS, naik tajam 2,01 dolar AS
dari sehari sebelumnya.

Harga minyak terus bergerak naik Rabu, meski sebuah survei mingguan oleh
pemerintah AS menunjukkan bahwa stok minyak mentah negara itu naik 5,7 juta
barel menjadi 325,6 juta barel untuk pekan yang berakhir 2 Mei.

Perusahaan investasi AS Goldman Sachs pada Selasa, memproyeksikan harga
minyak dapat mencapai  200 dolar AS per barel dalam dua tahun. Goldman Sachs
tiga tahun lalu memprediksi dengan tepat dan dengan sangat baik bahwa harga
minyak akan menembus 100 dolar AS -- yang terjadi pada Januari lalu.

Para pedagang mengatakan sebuah gabungan kekuatan telah mendorong harga
minyak naik, termasuk spekulator pasar dan keputusan oleh Organisasi
Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) tidak menaikkan kuota produksinya.

Berkelanjutannya kerusahaan di Nigeria, produsen minyak mentah terbesar
Afrika, telah membantu mendorong harga minyak ke posisi tertinggi selama ini.
"Kekhawatiran berlanjutnya serbuan Turki ke dalam wilayah Irak dalam
mengejar separatis Kurdi juga menyokong pergerakan harga," kata para analis.

Para militan Nigeria menyerang sebuah kapal minyak di pesisir barat negara
Afrika itu dan mengambil dua orang sebagai sandera pada pekan lalu.

Peristiwa Sabtu itu terjadi setelah sumur minyak yang dioperasikan oleh grup
minyak Belanda-Inggris Shell dan sebuah stasiun pengiriman minyak di selatan
Bayelsa mendapat serangan, mendorong perusahaan mengurangi produksinya.

Serangan-serangan seperti itu telah mengurangi produksi minyak Nigeria
sekitar seperempatnya dalam dua tahun terakhir.

Kenaikan harga minyak juga didorong oleh ketegangan diplomatik atas ambisi
nuklir Iran yang Teheran katakan untuk tujuan damai. Iran adalah produsen
minyak OPEC terbesar kedua. (*AP/Antara*)

Kirim email ke