*Bahasa Hakka di Singkawang* Bagi orang yang pertama kali berkunjung ke daerah Singbebas (Singkawang, Bengkayang, Sambas) pasti akan terheran-heran, karena hampir semua orang berbicara dengan bahasa Hakka di pasar, jalan raya maupun lorong kecil, tempat jual minuman, hotel, terminal dan tempat umum lainnya. Bahkan jual beli di toko atau bertamu di rumah keluarga pun semua berbahasa Hakka. Apakah memang orang Tionghoa yang paling awal menetap disini semuanya berasal dari tanah leluhurnya yang berbahasa Hakka?
Sebenarnya tidak demikian. Beberapa generasi orang Singkawang sebelumnya ada yang berasal Xiamen, Fuzhou, Quanzhou, Xinghua, Fuqing, Jinmen dan beberapa daerah pesisir Provinsi Fujian (Hokkian). Ada juga berasal dari Chaoan, Chaoyang, Jieyang, Chenghai, Puning dan daerah Chaozhou (Teochew), kedua komunitas ini berbahasa Minnan (Hokkian selatan) dan Chaozhou (Teochew). Sebagian kecil dari Provinsi Shandong, Shao Xing Provinsi Zhejiang, Dayu Ling Provinsi Jiangxi; Ada pula yang datang dari Xingning, Meixian (Kab. Mei), Jiaoling, Dapu, Wuhua; Jiexi (Hepo), Huilai, Haifeng, Lufeng, Zijin. Daerah-daerah yang mayoritas berbahasa Hakka. Sedangkan yang berasal dari Panyu yang berdekatan dengan Guangzhou, Xinhui dan Kaipin berbahasa Canton (Konghu). Orang dari Semenanjung Leizhou dan Provinsi Hainan berbahasa Hainan. Saat baru berdatangan, mereka berbahasa ibu (dialek daerah) masing-masing, kenapa hingga kini malah semua orang berbahasa Hakka? Borneo barat (kini Kalimantan Barat) yang masih di bawah kuasa koloni Inggris dan Belanda pada abad 18, ada beberapa kongsi pertambangan emas di seputar daerah Bengkayang, Mentrado dan Lohabang, para pekerja tambang emas kebanyakan orang Hakka yang berasal dari Hepo, Huilai, Haifeng, Lufeng dan daerah lain Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan. Yang berasal dan Jiangxi dan Guangfu (Konghu) sangat sedikit. Setelah kegiatan tambang emas berhenti, para pekerjanya menetap dan menggarap kebun karet di daerah yang berdekatan dengan lokasi pertambangan, antara lain: Majun, Teriak, Lumar, Ledo, Darit, Sajung, Mandor dan lain-lain. Sedangkan daerah Bengkayang dan Mentrado sudah menjadi kota kecil. Kemudian hari orang Belanda baru membangun kota Singkawang, membuka jalan dan membangun pelabuhan, pembangkit listrik dan pemasangan air ledeng. Maka sampai kini, orang masih sering bilang: "Sebelum ada Singkawang, sudah ada Mentrado". Sejak berdirinya kota Singkawang, banyak orang Hakka dari daerah pedalaman pindah ke sana, saat itu tiba pula banyak Sengkhek (sin hak, imigran baru) dan Tiongkok (zaman Dinasti Qing). Pada umumnya orang berasal dari Teochew unggul dalam niaga, mereka kebanyakan datang jadi pedagang. Saat itu, orang Teochew dominan dalam usaha besar seperti usaha hasil bumi, ekspor impor, toko kain dan makanan. Orang Hakka kebanyakan menetap di daerah pedalaman, ada yang bertani, ada yang berusaha kerajinan tangan. Kemudian hari, mereka lebih dominan sebagai petani kebun kelapa, petani kebun karet, petani sayur mayur, tukang kayu, tukang perak, penjahit, tenaga pendidik, pembuatan tahu dan permen maupun kue-kue. Dari zaman penghujung Dinasti Qing sampai awal berdirinya Republik Tiongkok, peperangan dan kekacauan sering terjadi di daratan Tiongkok, sehingga banyak orang Hakka untuk menghindari wajib militer dan kuli paksa atau untuk mencari nafkah, mereka terpaksa mengikuti Shuike (suihak, tukang calo khusus membawa orang ke Asia Tenggara) mendatangi Malaya, koloni Inggris (Kini Malaysia), Pulau Bangka dan Belitung, koloni Belanda, mereka menjadi kuli kontrak di pertambangan timah. Setelah kontrak selesai, banyak pekerja pindah ke daerah kekuasaan Sultan Sambas, khususnya Singkawang dan sekitannya untuk mencari hidup baru. Waktu itu juga, rombongan besar imigran orang Hepo datang dan menyewa tanah kepada pemerintah setempat untuk bercocok-tanam. Bagi yang berketrampilan atau mempunyai famili di Singkawang, mereka memilih menetap dan usaha kecil-kecilan di sana atau menjual kue dan menjadi kuli. Waktu itu sudah banyak toko obat tradisional, toko buku, *barbershop* dan lain-lain. Karena banyak warung kecil di daerah pedalaman milik orang Hakka, untuk kelancaran transaksi dan berbaur dengan masyarakat lapisan akar rumput, taipan-taipan Singkawang kalangan Teochew maupun Hokkian mau tak mau belajar bahasa Hakka, mulailah bahasa Hakka menjadi bahasa pasaran (Lingua Franca) di Singkawang, bahasa Teochew dan bahasa Hokkian hanya menjadi bahasa keluarga. Peristiwa "Mangkok merah" yang terjadi pada penghujung tahun 1967, pihak pemerintah mengusir ratusan ribu orang Tionghoa Hakka dari daerah pedalaman, sehingga 99% dari rombongan eksodus berbahasa Hakka ini terpaksa menetap di Singkawang dan daerah sekitarnya. Sebelum pemerintah Indonesia melarang orang Tiongkok masuk wilayah Indonesia pada tahun 1949, pendatang baru dari kalangan berbahasa Teochew maupun Hokkian boleh dibilang tidak ada, namun kalangan berbahasa Hakka malah datang dalam jumlah 10-20 ribu orang, sehingga makin banyak orang Hakka di Singkawang. Seiring berlalunya waktu, generasi pertama kalangan Teochew, Hokkian maupun Hakka semakin langka, mereka semua sudah lanjut usia dan jarang berkumpul satu sama lain, sehingga berkomunikasi dengan bahasa ibu semakin jarang. Sedangkan generasi kedua walau sempat menguasai bahasa ibu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulan, mau tidak mau saling berkomunikasi dengan bahasa Hakka, lambat laun bahasa Hakka menjadi bahasa pasaran disana. Walau bahasa Hakka di Singkawang lebih cenderung aksen Hepo, tapi tercampur pula dengan aksen Huilai dan Lufeng, selain tercampur istilah Xingmei dan Wuhua, istilah bahasa Indonesia pun banyak dipakai, sehingga bahasa "pembauran" ini menjadi bahasa khas Singkawang. Barang siapa yang pernah menetap di Singkawang, biar sekarang maupun sudah pindah ke daerah lain, tapi begitu bicara dengan bahasa ini pasti tahu sama-sama berasal dari Singkawang. Bahasa yang memberikan nuansa rasa kasih sayang dan perasaan seolah-olah ketemu orang setanah kelahiran di perantauan. Bila sesama kelahiran Singkawang bertemu dimana saja, jarang bertanya dia orang Hokkian atau orang Teochew, yang ditanya tidak lain adalah: "Anda tinggal di daerah mana di Singkawang?". Karena Singkawang sudah dianggap tanah kelahiran, bahasa Singkawang-lah sebagai bahasa kampung halaman. Penulis: Wu Liu (Singkawang, 2008-02-13) Sumber: Buletin Permasis Edisi Ke-10 <http://www.permasis.org/> * 山口洋的客家话* 第一次到山口洋地区旅游的人,一般都会感到讶异,因为在公共场所如巴刹(市场)、大街小巷、饮食摊、旅馆、停车场等处都是讲客家话;即使到商店买卖或普通人家探亲也都是听人家将客家话。难道最先到来这里定居的中国人,都是客属地方来的吗? 其实不然。山口洋上一辈人,有来自福建省沿海厦门、福州、泉州、兴化、福清、金门等地人。广东省潮属的潮安、潮阳、揭阳、澄海、普宁等地人,他们是讲闽南话和潮州话。还有小部分来自中国山东、浙江绍兴、江西大庾岭的人; 还有兴宁、梅县、蕉岭、大埔、五华人;揭西(河婆)、惠来、海丰、陆丰、紫金人;这几个地区都是讲客家话的。有广州附近的番禺、新会和开平人是讲粤语的。雷州半岛、海南省人是讲海南话的。当时各地来的人,都讲各自的原乡话,为什么到今天大家都讲客家话了呢? 十八世纪英荷统治的西婆罗州,即今之西加,孟加影、鹿邑(编者注:俗称打拉鹿)、路下横一带都有采金公司,那时采金工人大多数都是来自中国南方广东省河婆、惠来、海陆丰一带的客家人,极少江西人及广府人。以后金矿停顿开采,矿工们都在矿区附近的麻云、打腊、芦末、义罗、拉力、沙绒、东万律、大陂等地开辟胶园定居下来。而孟加影、鹿邑等比较中心的地方已形成了小市镇。然后荷兰人才在山口洋建市场,开公路设码头,建发电站,安装自来水。所以至今人道:先有"打拉鹿",后有"山口洋"。 山口洋开埠后,"上山"(内地)迁移许多客家人来,由中国(满清时期)又通过移民来了许多新客,潮属闽属人皆较擅长经商,多数来做生意,有一段时间山口洋市的土产商、出入口商、布店、食赂等大生意,多为潮州人、福建人经营。客家人多属内陆居住,有的耕种、有的做手工业。到来后客家人多数是椰农、胶农、菜农、工匠、银匠、裁缝、教书、制作豆腐、制作糖饼。 清末至民国初年,中国战乱频仍,许多客家人为了逃兵役、逃拉夫、找生活纷纷跟水客(专带人来南洋的)来英属马来亚(今马来西亚)和荷属勿里洞、邦加锡矿场做契约工人,契约满后许多工人都来"三划州府",即三发山口洋一带寻找生活。这时一大批河婆人到木杆、枋山、岜西等地向政府租地耕种。有手艺的、有亲戚的就停留在山口洋做小生意,卖点心、做什工。这时已有客家人在山口洋做生意了,如中药店、书店、理发店等。"山顶"(内地)许多小亚弄多数是客家人开的。这时山口洋的大商店老板为了生意上的来往和基层民众打交道,潮属人士也好,闽属人士也好,都要学讲客家话了,客家话就变为大众话语。而潮州话、福建话则变为家庭语言了。 1967年梢所谓"红头事件"政府当局把"上山"居住的数万华族群众全部赶到山口洋及其周边地区居住,而这些人有九十九巴仙都是讲客家话的。而自1949年以来印尼政府不准中国人南来之前,讲潮州话和福建话的同胞没有一个新客到来,而讲客家话的却一下子来了一二万名,山口洋地区更多客家人了!而因岁月的流逝,许多第一代讲原乡话 的侨胞相继去世,如今不论是潮籍、闽籍、客属,第一代南来的都寥若晨星了,他们年纪都七八十岁,深居简出,大家想要相聚一起用乡音交谈,都无机会了。许多第二代的,虽然有些人学会了原乡话,但在生活上、在社会交游上,大家都是讲客家话,渐渐的即是同乡相遇,大家都用客家话交谈了。 山口洋的客家话虽然河婆腔重些,但是已融入了许多惠来腔、陆丰腔,还有许多是兴梅五华的口语,更夹杂了许多印尼话,所以这种语言可说是"山口洋话",凡是在山口洋居住过的人,不论他现在迁居到哪里居住,只要开口说这种话,相互之间就知是山口洋人,就有一份亲切感,有一种他乡温故知的感觉。 山口洋同乡在哪里相遇,都很少人问你是福建人还是潮州人。只是问你住山口洋哪里。因为山口洋就是故乡了,山口洋话即是乡音了! -=<五柳>=-于山口洋13-2-2008
