Dear Renny,

Kalo rumah Tiongkok kuno di Singkawang, letaknya ada di belakang Jl Budi
Utomo (masuk lewat jalan samping Studio Foto Mawar). Rumah itu saat ini
dikelola oleh Dewan Pengelola Dana Rumah Leluhur Xie Xie Sheng, cuman
contact person mereka saya jg nggak tau. Ntar saya coba bantu cari tau.

Btw, rumah kuno itu pernah dimuat di Buletin Permasis, berikut saya kirim
artikelnya.

Thanks

Salam,
Hendy Lie


http://www.permasis.org/modules.php?name=News&file=article&sid=25

*Xie Shou Shi, Tokoh Perintis Singkawang*

Sebuah bangunan ala Tiongkok kuno terletak di belakang deretan bangunan ruko
baru JI. Budi Utomo, Singkawang. Tepatnya rumah No.37 ini di ujung jalan
menuju tepi sungai. Di antara bangunan baru begitu banyak dalam kota
Singkawang, bangunan tersebut masih kokoh berdiri selama ratusan tahun
sampai sekarang. Bentuknya yang mirip "Si he yuan" (bangunan khas Tiongkok
utara) ini justru memberikan kesan bersahaja dan sedikit kesuraman karena
terkikis hantaman cuaca selama ratusan tahun.


Sebuah bukti nyata bersejarah yang mencatat leluhur orang Tionghoa turut
membangun negara Indonesia yang indah permai dan subur ini sejak zaman dulu
dengan susah payah, bergotong-royong dan gigih tanpa pamrih.

Lebih seratus tahun silam, karena terjadi kelaparan sangat parah akibat
bencana alam dan ulah manusia, desa Jian Mei, Kabupaten Hai Cang, sebuah
desa kecil pesisir kota Amoy, Fujian Tiongkok. Seorang petani remaja bernama
Xie Shou Shi (dialek Singkawang: Chia Siu Si) tidak sudi mati kelaparan
tanpa berusaha. Lalu memutuskan mengarungi lautan bersama beberapa teman
sekampung halaman menuju Asia Tenggara, mencari kehidupan baru demi diri
sendiri, keluarga maupun kampung halaman.

Dalam perjalanan yang penuh resiko tenggelam dan hidup atau mati di lautan
luas, dengan hanya berbekal tekad dan kepercayaan diri mereka terdampar di
semenanjung Malaya (kini Malaysia). Mereka bekerja di rumah seorang berada
sebagai kuli, sebenarnya sudah bersyukur dapat tempat terlindung namun tidak
berselang lama terjadilah peristiwa kerusuhan. Mau tidak mau, Xie bersama
beberapa kuli melarikan diri dengan perahu layar dan akhirnya tiba di Sungai
Singkawang yang ketika itu dikuasai Belanda.

Kota Singkawang pada seratus tahun lalu masih merupakan dusun kecil sunyi
sepi yang belum digarap, penuh hutan belantara namun berpenduduk minim.
Belum ada jalan raya, yang ada hanya jalan tikus menghubungkan beberapa
gubuk yang langka. Transportasi hanya mengandalkan sepeda dan pedati, sebuah
sungai yang mengalir di tengah-tengah "kota" merupakan jalur utama
satu-satunya untuk pengangkutan materi ke dunia luar.

Setelah tiba di tanah subur ini dalam hati Xie berkobar lagi harapan
kehidupan yang membara. Dia berkhayal malah seolah-olah sudah melihat hari
depan yang cerah. Walau dalam kondisi serba kekurangan, hanya dengan
keyakinan dan kecerdasan beserta kedua tangannya yang giat bekerja, dia
berusaha keras mengarap tanah tidur mulai subuh hingga malam. Dalam waktu
relatif singkat, dia diakui dan didukung saudara-saudara suku lain dan
penguasa Belanda setempat.

Dia berhasil menanam fondasi usaha awal yang kokoh. Belantara tidur semula
sudah disulap menjadi beberapa kebun karet, kebun kelapa maupun kebun
buah-buahan. Selain mengembangkan palawija yang bernilai ekonomis, bahkan
sudah mendorong perkembangan ekonomi setempat. Meningkatkan pendapatan semua
orang yang terlibat dan menyejahterakan kehidupan masyarakat pada umumnya.
Kemudian Xie berhasil membangun suatu armada, mengangkut hasil bumi maupun
produk hasil dan kebun karet dan kebun kelapa menuju Singapura sebagai
komoditi ekspor.

Seiring perkembangan ekonomi pertanian dan perkebunan dengan pesat di
Singkawang, mengakibatkan penambahan tenaga kerja dengan cepat pula. Sebuah
dusun kecil yang tandus kini sudah menjadi bandar dagang yang ramai manusia
berlalu lalang dengan kegiatan. Xie Shou Shi sudah menjadi seorang tersohor
dan penting di mata masyarakat maupun pejabat setempat.

Pada tahun 1901 setelah dapat tanah hibah dari pejabat pemerintahan koloni
Belanda, Xie mendatangkan arsitek dari kampung halaman di Fujian, membangun
sebuah rumah besar di pesisir sungai yang penuh kesibukan transportasi
sungai. Hingga kini rumah besar yang dikenal sebagai rumah besar Hiap Sin
ini merupakan bangunan ala kombinasi timur barat satu-satunya yang tertua
dan masih berdiri kokoh di kota Singkawang.

Dalam kondisi ratusan tahun silam, alat pembangunan waktu itu tentu berbeda
jauh dengan masa sekarang. Berdirinya bangunan yang bak kastil ini
sepenuhnya dirampungkan tukang dengan gigih dan susah payah dengan hanya
mengandalkan peralatan sederhana dan kecerdasan. Di samping itu juga
bangunan tradisional Tionghoa bercorak ala kombinasi timur barat, boleh
dikatakan sebagai hasil kawin teknologi pembangunan corak ketimuran dan
kebaratan. Semua bahan bangunan dari kayu, bahkan atap sirap pun dibuat dari
belahan tipis kayu ulin.

Bangunan besar dengan luas lebih dari 5000 m2 ini berdudukan posisi timur
menghadap ke arah barat, berlantai dua di pintu utama dan kedua sisinya.
Sebuah bendungan besar di sisi sungai yang sangat penting untuk lalu lintas
menuju laut, membangun pula sebuah dermaga bongkar muat barang di sana.
Pesisir sungai sekitarnya dibendung dengan kokoh.

Rumah besar ini memiliki dua ruangan besar bagian depan dan belakang yang
penuh ornamen dan ukiran maupun kaligrafi berwarna emas di setiap ambang
pintu. Tulisan "Bao Shu" tergantung di tengah-tengah ruangan lantai dua.
Tulisan "Jing Xing" dan "Qing Yun" terpampang di kiri-kanannya sedangkan di
kiri kanan pintu lantai satu masih ada tulisan "Pei Lan" dan "Yu Zhu". Sisi
kiri tertulis "Ju Ren" dan sisi kanan "You Yi" di bagian belakang ruangan
depan.

Dalam ruangan depan tersusun satu set meja kursi berkesan sangat mewah
dengan ukiran dan tatahan nirmala ala Tiongkok. Fungsinya untuk menerima
tamu pejabat setempat dan tokoh masyarakat maupun pengusaha. Sebuah taman
bunga kecil memisahkan bagian ruangan depan dan ruangan belakang. Tulisan
"Jian Long" berwarna emas terpampang di tengah-tengah pintu masuk, diiringi
sepasang Duilian ukiran kilap gemilau di dua sisi, tulisan masing-masing
tertera di atasnya.

Ruangan belakang merupakan altar abu leluhur, terpajang patung Buddha dan
dewa beserta papan nama para leluhur. Seperti ruangan depan, terdapat pula
sebuah taman kecil di bagian belakang ruangan, mengelilingi belasan kamar
tidur bagian barat yang tersusun dalam bentuk alfabet U. Tempat istirahat
anak cucu keluarga Xie terletak di sana. Sebuah koridor menghubungkan semua
Kamar tidur dan ruangan depan belakang agar bebas dari sengatan matahari dan
curah hujan. Kedua sisi koridor dihiasi ornamen berbagai corak menciptakan
pandangan yang pesona.

Bangunan nuansa antik yang didirikan Xie Shou Shi (alias Xie Zhong Shou, Xie
Shou, Xie Feng Chen), sang leluhur perintis pertama marga Xie di Singkawang,
sudah berumur 105 tahun namun masih berdiri kokoh. Hingga kini sudah
menjelang tujuh generasi masih menetap di situ dan meneruskan dan generasi
ke generasi. Demi memelihara harta benda leluhur dan melestarikan benda
bersejarah budaya corak original Tionghoa, sekaligus merespon kebijakan
Pemkot Singkawang yang menetapkan kota Singkawang sebagai pusat kebudayaan
Tionghoa untuk mengembangkan industri pariwasata setempat.

Tahun 2002, marga Xie yang bermukim di Singkawang dan terpencar di berbagai
daerah mengukuhkan jajaran "Dewan Pengelola Dana Rumah Leluhur Xie Xie
Sheng" yang didirikan 1982, sekaligus menyelenggarakan kegiatan peringatan
101 tahun berdirinya rumah tersebut. Dengan harapan anak cucu akan berbakti
dan mentaati wejangan leluhur dan meneruskan dan mengembangkan tradisi
maupun prestasi yang Iebih cemerlang.

Sumber: "Dewan Pengelola Dana Rumah Leluhur Xie Xie Sheng"



2008/5/23 Renny Dese <[EMAIL PROTECTED]>:

>  Teman2 Singkawang dimanapun berada..
>
> Nama saya Renny, warga Skw yang udah 13 tahunan ini netap di Surabaya.
> Sebagai anggota pasif dari milis ini, saya ingin ngucapin salam kenal buat
> rekan2 Skw semua.
>
> Kali ini begitu posting lgsg ada perlunya nih..maaf ya..:) Mohon advis dan
> bantuan dari rekan2 semua. Teman saya seorang akademisi di salah satu
> universitas swasta di Surabaya menanyakan tentang rumah rumah Chinese kuno
> di Skw yang masih asli dan terawat, kebetulan ybs adalah seorang arsitek
> yang mengabdi utk dunia pendidikan. Ada bbrp rekanan ybs, tim peneliti dari
> Amrik yang sedang riset tentang rumah rumah kuno di Indonesia. Tempo hari
> waktu ke Surabaya, tim ini dibawa untuk melihat rumah kuno di Surabaya yang
> berumur sekitar 120 tahun. Mereka melakukan bbrp dokumentasi utk keperluan
> riset ini. Selain ke Surabaya, mereka sempat berpetualang ke Tanjung Pinang
> dan bbrp tempat lain.
>
> Yang ingin saya tanyakan, kepada siapa, kemana dan bagaimana tim ini dapat
> dibantu juga untuk melakukan risetnya di Skw? Mohon saran dan info dari
> rekan sekalian.
>
> Sebelum dan sesudahnya, terima kasih atas perhatian yang diberikan.
>
> Salam,
> Renny
> Surabaya
>

Kirim email ke