Rakyat Kalimantan Kian Sulit Dapat Tumbuhan Obat
Rabu, 25 Juni 2008 | 10:33 WIB
SAMARINDA, RABU - Masyarakat Kalimantan kini kian sulit mendapatkan
tumbuhan obat akibat banyak kawasan hutan yang rusak dan dikelola tak ramah
oleh perusahaan atau berubah menjadi perkebunan.
Hutan yang kaya tumbuhan obat kini jauh dari permukiman sehingga warga enggan
ke sana. Akibatnya, pengetahuan tentang berbagai tumbuhan obat berangsur-angsur
sirna. Warga mulai bergantung pada obat buatan pabrik yang harus dibeli.
Ironis, rakyat yang dulu amat paham meracik tumbuhan obat kini membeli
obat-obatan, kata Irawan Wijaya Kusuma dalam Diskusi Rimbawan Universitas
Mulawarman di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (24/6).
Dalam makalahnya disebutkan, ada 28.000 jenis tumbuhan di Indonesia, 7.000 di
antaranya tumbuhan obat. Sementara baru 1.000 jenis yang dipakai.
Dosen Jurusan Teknologi Hasil Hutan Unmul itu mendapati orang Ransa (Dayak) di
Kalimantan Barat mengenal 250 jenis tumbuhan obat, orang Punan (Kalimantan
Timur) 95 jenis, dan orang Kenyah 81 jenis tumbuhan yang bisa menjadi ramuan
obat.
Menurut Hery Romadan, pemasar atau pengusaha obat tradisional, orang Tonyooi
dan Benuaq di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, telah lama memanfaatkan
pasak bumi (Eurycoma longifolia) sebagai obat penguat stamina. Orang Iban di
Kalbar memakai kacip (rumput fatimah-Labisia pumila) untuk memperlancar
persalinan.
Sayang negara lain mematenkan teknologi pemanfaatan kedua jenis tumbuhan itu,
kata Hery. Oleh Malaysia, pasak bumi dikemas jadi kapsul atau campuran kopi,
begitu juga dengan rumput fatimah. Agar pengetahuan tradisional tentang
tumbuhan obat tak sirna, menurut Emilda Kuspraningrum dari Fakultas Hukum
Unmul, semua perlu dipatenkan dan sejumlah tumbuhan perlu dilindungi dengan
peraturan khusus. (BRO/KOMPAS)