Artikel yang bagus rud:)
cuman terlalu jauh kalo harus dibandingkan dengan perhelatan permilihan 
presiden di AS. kalo dilihat dari berita2 di negeri itu, mereka tidak 
menjual SARA dalam kampanye. atau hal itu luput dari pemberitaan :D  Mungkin 
pak Li lebih tau soal hal ini, soalnya beliau kan di amerika. Oya Pak Li 
kemana yach? lama ga muncul. setau saya Pak Li pendukung hilary lho..:D 
Sorry OOT (Out Of Topic).

Tapi kalo di negara ini kayaknya isu sara masih menjadi komoditi yang vital 
dalam pelaksanaan kampanye pilkada mau pun pemilu. lihat saja partai2 yang 
bermunculan, kebanyakan basisnya agama. kapan negeri ini maju kalau masalah 
negara selalu dicampuradukkan dengan agama? Kemungkinan minoritas bisa 
menang dalam pilkada mungkin tidak juga sepenuhnya benar tapi juga tidak 
sepenuhnya salah. Gubernur dan wakil gubernur kalbar terpilih sebenarnya 
bukan kaum minoritas koq. coba kita lihat komposisi masyarakat dikalbar? 
demikian juga halnya disingkawang:) kita bisa melihat bagaimana 
perbandingannya?
ga tau kalo untuk daerah lain:) namun yang salut dari pilkada di kalbar & 
singkawang sich semua prosesnya berjalan dengan damai.
Namun seperti yg dkatakan pak Frans semua kepala daerah terpilih adalah 
milik dari semua masyarakat. mereka harus menanggalkan kesukuan/partainya 
dalam melaksanakan pemerintahan, soalnya kalo tetap menonjolkan 
kesukuan/partainya  maka mereka akan mudah digoyang oleh masyarakatnya 
sendiri dari suku/partai yang berbeda.


Salam,
Aldy
lagisantaisambildengrinlagu

---- Original Message ----- 
From: ajet_idur
To: [email protected]
Sent: Sunday, July 06, 2008 10:30 AM
Subject: [Singkawang] Fwd: Kaum Minoritas Berpeluang Menangkan Pilkada


--- In [EMAIL PROTECTED], "Hina" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Bro n sis kabeh,

ada komen untuk artikel di bawah ini?

hina kelana

----------------------------------------------------------
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/02/sh04.html

Diskusi Bulanan "Sinar Harapan"
Kaum Minoritas Berpeluang Menangkan Pilkada

Oleh
Wahyu Wibisana

Jakarta � Meski kerap dikatakan sebagai minoritas di tanah air,
etnis Tionghoa tetap memiliki peluang untuk dapat terpilih menjadi
pemimpin dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di
Indonesia. Demikian rangkuman diskusi bulanan Sinar Harapan yang
menghadirkan narasumber mantan Bupati Belitung Timur, Basuki Tjahaya
Purnama, Selasa (1/7), di kantor harian ini.
"Secara matematis, memang peluang etnis Tionghoa dalam pemilihan
kepala daerah di Indonesia tergolong sangat kecil, bahkan bisa
dikatakan peluang itu nol persen," ujar Basuki.
Hal ini terjadi karena masih banyaknya kendala non-teknis yang harus
dihadapi oleh seorang calon yang berasal dari etnis Tionghoa salah
satunya adalah faktor agama dan kesukuan. Karena ada beberapa
kelompok masyarakat di tanah air yang belum dapat menerima
kemajemukan secara terbuka.
Dirinya pernah merasakan sulitnya untuk memenuhi prosedur
administratif dalam pilkada. "Ada banyak prosedural administrasi
yang agak mengganggu," tuturnya. Termasuk di sini adalah kecurangan
seperti menghilangkan hak memilih bagi kelompok yang akan
mendukungnya.
Selain tantangan dari kelompok masyarakat, ternyata tantangan serupa
juga datang dari etnis Tionghoa sendiri. "Ketika saya mencalonkan
diri, saya sering mendapat kiriman SMS yang isinya ajakan dari
kelompok Tionghoa tertentu kepada seluruh masyarakat Tionghoa di
Belitung Timur agar jangan memilih saya. Ada pun alasan mereka jika
saya menang nanti, ada ketakutan terjadi kerusuhan walau ternyata
setelah saya menang hal itu tidak terbukti," kata pria yang akrab
disapa A Hok ini.
Meski banyak tantangan, dia menyatakan bahwa bukan berarti peluang
etnis Tionghoa dalam pilkada tertutup sama sekali. Sebagai contoh,
dirinya dan beberapa tokoh etnis Tionghoa Kalimantan bisa
memenangkan pilkada. Dirinya bahkan bisa memenangkan pilkada di
daerah mayoritas muslim.
"Hanya saja memang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi calon
dari etnis Tionghoa untuk memenangkan pilkada itu. Salah satunya
adalah mereka dapat membuktikan bahwa mereka termasuk pemimpin yang
bersih, transparan, dan profesional tanpa mengusung ketionghoaan
mereka. Selain itu, calon itu juga harus berani beradu konsep
pembangunan dengan calon lain, sehingga masyarakat bisa menilainya
sendiri," ujar Basuki.

Masih Primordial
Ungkapan Basuki itu dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga
Survey Nasional (LSN) Umar S Bakry.

Menurutnya, memang ada sejumlah kendala primordialisme di tanah air
yang belum dapat diselesaikan, tapi dirinya tetap optimistis bahwa
masalah ini akan berakhir.
"Etnis Tionghoa harus bisa mencontoh Obama di Amerika. Meski dia
seorang kulit hitam, dia bisa mendapat dukungan dari warga Amerika
yang selama ini menganut prinsip white anglo saxon protestant untuk
pemimpinnya. Dan di Indonesia, ini sudah dibuktikan melalui A Hok
dan Kornelius di Kalbar," papar Umar.
Lagipula, lanjut Umar, ke depan ikatan-ikatan primordial seperti ini
juga akan tergerus zaman karena memang publik semakin kritis
terhadap masalah ini.
Andreas Harsono, jurnalis dari Sindikasi Pantau dan pengamat masalah
Tionghoa di Indonesia, menyatakan bahwa diakui atau tidak
ikatan-ikatan primordial sulit dihilangkan karena masih sangat
kental. Dan yang berbahaya, prinsip ini kemudian bisa menjadi
konflik horizontal.
Dia mencontohkan ada ratusan bahkan ribuan orang mati secara sia-sia
akibat konflik horizontal semacam ini di Indonesia. "Kalau hal ini
tetap dipertahankan, mau dikemanakan bangsa ini. Inilah persoalan
yang menjadi tantangan bersama untuk bisa diselesaikan," katanya.

Perlu Perbaikan
Roch Basoeki, salah seorang tokoh pendiri Barisan Nasional (Barnas),
menyatakan memang perlu ada perbaikan sistem hukum maupun
aturan-aturan lain di tanah air agar tidak lagi mendiskriminasi
warganya, sehingga masalah mayoritas-minoritas di tanah air ini
sebenarnya tidak berlaku lagi.
"Masalah mayoritas-minoritas sebenarnya bisa dianggap tidak ada lagi
karena di beberapa pilkada toh ada yang bisa dimenangkan kaum
minoritas. Masalahnya memang perlu mengubah dasar pemikiran hukum
kita yang masih mengacu pada hukum Belanda," ujarnya.
Ananta B. Kusuma, pengajar Sejarah Hukum Tata Negara Fakultas Hukum,
Universitas Indonesia, menyatakan bahwa memang perlu adanya sejumlah
pelurusan sejarah di Tanah Air. Selain itu, seluruh komponen bangsa
ini termasuk etnis Tionghoa sendiri harus mau terbuka dalam
menyikapi masalah ini dan tidak perlu saling menyalahkan. "Khusus
untuk etnis Tionghoa, mereka juga harus menghapus citra mencari
amannya saja," tuturnya.
Senada dengan itu, tokoh senior Tionghoa, Frans Tsai, menyatakan
memang harus ada perubahan konsep dalam memandang masalah ini. Dan
perubahan itu bukan hanya perlu dilakukan oleh kelompok non-Tionghoa
tapi juga harus dilakukan oleh etnis Tionghoa sendiri.
"Boleh saja etnis Tionghoa terjun ke kancah politik tapi jangan
menonjolkan ketionghoaannya untuk mendapatkan dukungan dari kelompok
ini. Sebab jika mereka maju sebagai calon yang mengandalkan
ketionghoaannya saja itu merupakan sebuah kesalahan besar karena
etnis Tionghoa yang kini tinggal di Indonesia adalah orang Indonesia
yang sama seperti suku-suku lain," kata Frans Tsai.
Justru jika etnis Tionghoa mau menjadi seorang pemimpin, dia harus
maju menjadi seorang pemimpin yang merakyat dan mau membela
kepentingan bersama. "Yang terpenting saat ini bagaimana membangun
bangsa ini, bukan lagi mempersoalkan masalah asli atau tidak asli,
pribumi atau bukan, sebab jika demikian bangsa ini tidak akan pernah
maju," tambah Tsai. 

Kirim email ke