Mulai Makan Bersama Keluarga Sekarang

Kebiasaan makan bersama keluarga manfaatnya tidak dapat diremehkan. Sebuah
penelitian membuktikan, terutama makan malam bersama keluarga dapat mencegah
remaja dari penggunaan obat-obatan terlarang, alkohol dan merokok.

Hal itu juga dapat melindungi mereka dari stres, asma dan pola makan yang
salah. Serta mendorong anak mencapai nilai baik dalam membaca.

Kaitan antara kebiasaan makan malam bersama dan perkembangan anak yang ideal
sebenarnya lebih rumit dari yang dipahami sebelumnya. Makan malam bersama
sangat bermanfaat karena orangtua bersama anak-anak secara bersamaan juga
memperkaya kejiwaan.

Manfaat bukan terletak pada proses makan, tapi lebih pada kualitas
komunikasi yang dilakukan di meja. Bisa berupa tanya jawab, memberikan
pujian dan menceritakan kisah yang mengarah pada pelajaran yang berguna
sebagai sumber informasi.

Sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini mengungkap, kebiasaan makan malam
bersama juga sangat baik untuk orangtua. Pemimpin penelitian Janet Jacob
dari Brigham Young University menemukan diantara 1.580 pasang orangtua yang
bekerja mengatakan, waktu kerja yang kerap tersita oleh makan malam keluarga
justru mendatangkan perasaan sukses serta tingkat keberhasilan yang lebih
tinggi dengan pasangan dan anak-anak.

Para orangtua termasuk ayah dan ibu, cenderung memiliki perasaan senang jika
mereka bisa pulang tepat waktu secara teratur, meskipun mereka bekerja dalam
waktu yang lama. Sebaliknya, orangtua yang jarang makan bersama di rumah
karena pekerjaan kerap kali merasa ragu dengan pekerjaannya di masa depan.

"Yang patut diperhatikan, meskipun lamanya jam kerja dipersepsikan sebagai
salah satu faktor penentu keberhasilan kerja, namun terpotongnya jam kerja
oleh kebiasaan makan malam bersama keluarga tidak akan menurunkan kesuksesan
kerja," ujar Jacob.

Seperti diungkapkan oleh Profesor Hukum Cameron Stracher dalam bukunya
Dinner with Dad: How I Found My Way Back to the Family Table.  Dia mengaku,
mengambil beberapa pekerjaan sekaligus untuk membiayai tempat tinggal
keluarganya yang mahal. Hal itu menyebabkannya selalu bepergian setiap
minggu.

"Setiap kali saya pulang sekitar tengah malam, kemudian bangun lagi pukul
6.30 pagi untuk mengajar. Hal itu sangat melelahkan. Saat saya pulang, semua
orang sudah tidur. Pada suatu malam ketika saya duduk di dapur yang gelap,
saya berpikir harus menghentikan kebiasaan itu. Saya sangat depresi," papar
Stracher.

Kini dia mengaku, menyisihkan waktu untuk makan malam 4-5 kali seminggu.
Waktu makan malam menjadi bagian dalam kelurganya. "Ketika saya pergi di
pagi hari, anak saya akan ertanya, apakah saya pulang terlambat atau lebih
cepat. Jika saya bilang pulang cepat, maka dia akan bertanya saya akan
memasak apa. Kehidupan keluarga kami sudah berubah banyak," terangnya.

Sebagai orangtua, tidak ada salahnya sesekali menyengaja pulang cepat demi
meluangkan waktu untuk makan malam bersama. Mungkin juga Anda bisa mencari
pekerjaan paruh waktu yang lebih fleksibel untuk saat berkualitas bersama
keluarga. (berbagai sumber/rin)
()

Kirim email ke