SOLO - Setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh, giliran Kota
Singkawang, Kalimantan Barat, yang tertarik memboyong pembatik asal
Solo. Mereka ingin mengembangkan motif batik pucuk rebung, milik
mereka, yang belum tergarap.


Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah
(Dekranasda) Singkawang, Elisabeth Majuyeti. Menurutnya, selama ini
Singkawang hanya memiliki motif batik, yakni pucuk rebung, tanpa ada
barangnya.

"Selama ini batik kami masih mengikuti batik milik Kalbar (Kalimantan
Barat). Kalau kita memiliki sendiri kan rasanya ada yang bisa
dibanggakan," ungkap wanita yang juga istri Wali Kota Singkawang,
Hasan Karman.

Motif pucuk rebung, dikatakan wanita yang akrab disapa Emma, merupakan
perpaduan simbol antara tiga suku yang ada di Singkawang. Yakni suku
Tionghoa, Dayak Singkawang, dan Melayu (Cidayu). "Kami ingin menggali
potensi batik di daerah kami," katanya.

Ditemui di sela-sela field trip istri wali kota ke Museum Batik
Wuryaningratan, Rabu (23/7), Emma pun ingin mengikuti jejak Pemkot
Banda Aceh. Pihaknya ingin memboyong beberapa pembatik asal Solo untuk
mentraining agar warga dapat membatik.

"Motifnya tetap motif kami. Tapi, untuk cara atau teknik membatik itu
kami kan belum tahu. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kami bisa
melakukan kunjungan kerja resmi untuk mewujudkannya. Setelah memborong
(batik Solo), tahap selanjutnya ya memboyong," ungkap Emma.

Dalam kesempatan tersebut, Emma pun sempat mencoba membatik dengan
canthing Selain senang, Emma merasa mendapat pelajaran berharga.
Menurutnya, pembatik harus memiliki ketekunan. Lantaran, proses
pembatikan membutuhkan waktu lama.

"Ternyata, membuat batik itu njlimet, butuh konsentrasi tinggi. Selain
itu harus memiliki feeling juga, sehingga batik yang kita hasilkan
tidak kaku. Ini membuat saya semakin kagum dengan batik," lanjut Emma.

Lantas bagaimana perkembangan kerjasama Pemkot Banda Aceh dengan
pengusaha batik di Solo pasca penandatanganan memorandum of
understanding (MoU) April lalu? Istri Wali Kota Banda Aceh, Nurshanti
Adnan, menyatakan pabrik batiknya sudah mulai berjalan. Bahkan,
ibu-ibu dari kampung Lambaro Skaep --yang tidak punya pekerjaan--
mendapat kesempatan mempejari proses dan teknik membatik.

"Pabriknya sudah hampir jadi, sekarang ini ibu-ibu juga sudah pandai
membatik kok. Benar-benar efektif memboyong pengrajin ke sana.
Mudah-mudahan, kampung itu bisa menjadi pusat batik di Aceh. Seperti
di kampung batik Kauman Solo," kata istri Mawardy Nurdin ini.

Sementara itu, tak mau kalah dengan para istri, kemarin (24/7) para
peserta Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Pemerintah Kota
Seluruh Indonesia (Apeksi) berkesempatan jalan-jalan. Antusiasme
mereka begitu terlihat saat mereka mengunjungi Pura Mangkunegaran.

Setelah dipersilakan menjelajah kadipaten tersebut, para peserta Munas
Apeksi itu langsung menyerbu Dalem Ageng Pura Mangkunegaran. Mereka
bersemangat menyusuri dan melihat berbagai koleksi dinasti
Mangkoenagoro itu.

Satu persatu bagian dalam ruangan tersebut mereka amati dengan
seksama. Tahta Mangkoenegoro yang diberi garis pembatas menjadi objek
pengamatan pertama. Setelah melihat barang-barang di samping tahta,
mereka pun tertarik untuk melihat lebih dekat.

Peserta langsung terkejut saat guide Puro Mangkunegaran menerangkan
dua benda yang dipajang di meja kaca secara terpisah. Pasalnya dua
benda emas tersebut sangat khusus kegunaannya. "Keduanya namanya
badong. Yang ini untuk pria dan yang sebelah sana untuk wanita. Fungsi
keduanya adalah menutup 'milik' pasangannya, saat sang pria bepergian
atau yang wanita ditinggal di rumah," ungkap sang guide.

Mendengar penjelasan itu, sontak peserta yang terdiri dari wali kota,
sekretaris daerah (sekda), asisten pemerintahan, kepala badan
perencanaan daerah (bapeda) dan kepala bagian pemerintahan seluruh
kota di Indonesia ini pun langsung tertawa. "Berarti selingkuh itu
sudah naluri ya. Tidak hanya marak terjadi sekarang, tapi sejak dulu
sudah ada," ungkap salah satu pejabat yang langsung disambut tawa
peserta yang lain.

Seperti magnet, kedua benda tersebut terus menyedot perhatian peserta
yang 99 persen kaum Adam. Berbagai pertanyaan seputar bahan dan cara
pemakaian badong membuat kunjungan semakin menarik. Namun, koleksi di
ruang lain tidak cukup kalah menariknya bagi mereka.

Selain refreshing, kunjungan lapangan itu merupakan bagian dari
kegiatan Munas. Sebelum ke Mangkunegaran, mereka berkesempatan datang
ke Kantor Kecamatan Banjarsari. Di sini mereka diperlihatkan proses
pelayanan publik dengan sistem yang mirip bank.

"Bagus sekali karena pakai nomor antre. Sayangnya, legalitas surat
penting masih ada di tangan camat. Padahal sesuai aturan baru, yang
menandatangani KK (kartu keluarga) atau KTP (Kartu Tanda Penduduk) itu
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Yang ini kami lebih unggul,"
kata Asisten Pemerintahan Kota Blitar, Pande Ketut.

Kunjungan lapangan juga masih dilakukan istri mereka. Kemarin, giliran
Astana Giribangun, Taman Cerdas Sumber, dan Kampung Batik Laweyan.
Mungkin karena terlalu formal, mereka pun tidak terlalu antusias.
Hanya beberapa istri pejabat yang semangat bertanya tentang taman
cerdas tersebut. Sisanya, memilih menunggu di halaman dan pintu
gerbang taman cerdas.

Salah satu istri wali kota yang terlihat kritis adalah Nety Herawati
Lukman. Istri Wali Kota Metro Lampung ini nampak tertarik dengan ruang
informasi dan teknologi. Dimana, anak-anak dapat memanfaatkan komputer
untuk berbagai kegiatan.

"Nanti sesampai di Metro saya akan usulkan. Selama ini adanya hanya
taman bacaan yang dikelola komisi perlindungan anak, dan ditujukan
untuk warga kelas menengah. Yang untuk umum seperti ini belum ada,"
katanya. (rk/tej)

Source : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=15347

Kirim email ke