http://www.singkawang.us/modules.php?name=News&file=print&sid=432
Singkawang yang berdasarkan pendekatan sejarah berasal dari bahasa Tionghoa, San Kew Jong, memiliki makna yang mendalam. Bahkan sebutannya sudah begitu dipengaruhi Hong Sui yang positif. Harmonisnya kehidupan di Singkawang bermakna keunikan yang mendalam terhadap asimilasi dan akulturasi kehidupan berbudaya yang ada. Ini terungkap dalam kegiatan Lokakarya Multikultural Jaringan Avokasi Kebijakan Pro Keadilan Sosial, di Aula PKK Singkawang, Kamis (31/7). Pandangan-pandangan sejarah kehidupan berbudaya warga masyarakat di Singkawang, diutarakan Walikota Singkawang, Hasan Karman,SH,MM yang saat itu juga memberikan materi. Kelanggengan hidup yang harmonis sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Beliau mengatakan, dari buku yang ditulis oleh Van Rees, yang mendarat pertama kali di Desa Sedau, digambarkan akulturasi yang tinggi. Dimana terlihat para wanita Tionghoa sedang menjaga toko. Seorang laki-laki Melayu yang tampak saat itu sedang membuat atap dari daun Rumbia. Sementara kaum laki-laki dari para istri yang menunggu toko tersebut tidak terlihat sejak pagi. Mereka bekerja sebagai penambang emas di kawasan Monterado. Padahal wanita-wanita tersebut sesungguhnya merupakan keturuanan penduduk asli suku Dayak. Nah, ini menunjukan telah terjadi asimilasi dari perkawinan campuran antara warga Tionghoa dengan masyarakat dayak. Sementara untuk mereka yang berkawin campur dengan Suku Melayu sudah "Masuk Melayu", istilah untuk mereka yang sudah mengikuti adat resam Suku Melayu. Disebutkan juga terdapat tiga suku besar yang dideklarasikan. Diantaranya Dayak, Melayu dan Tionghua. Tanpa mengesampingkan suku lainnya. Bahkan uniknya, bagi suku lain seperti Jawa, Bugis dan lainnya (karena kesamaan religi), dianggap sebagai bagian dari Melayu. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawanya. Dengan kata lain mampu menghargai sejarahnya. Dengan latar belakang sejarah yang harmonis dan alkultarasi, maka rasanya aneh bila kita saling berbenturan. Hubungan itu sudah baik, harus kita jaga dengan baik pula," katanya dalam kegiatan yang digawangi oleh Yayasan Swadaya Dian Khatulistiwa (YSDK) bersama Corsaid. Ketua YSDK, Marcell D Lodo mengutarakan, kegiatan lokarya serupa juga dilaksanakan di beberapa Kabupaten dan Kota, seperti Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kubu Raya dan Sambas. Sebagai bagian dari Iondonesia, Kalbar merupakan wilayah yang sarat dengan persoalan-persoalan multikultural. Berbagai kisah konflik yang berlatar belakang perbedaan suku, ras, agama, golongan dan orientasi nilai. "Dari berbagai catatan peristiwa yang pernah terjadi masih menunjukan banyak terdapat persoalan yang sangat krusial, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan dan keragaman yang ada dalam kehidupan masyarakat," kata Marcell. Tiga hal yang menjadi tujuan dalam lokakarya yang mereka adakan. Di antaranya berbagai informasi tentang multikulturalisme dalam kerangka membangun perdamaian berkelanjutan di Kalbar. Sebagai bahan pengkajian bersama tentang multikulturalisme untuk pengembangan kebijakan dalam kerangka membangun perdamaian di Kalbar dan merumuskan pertimbangan penting untuk implementasi dan pengembangan strategi program ke depan.
