http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=5466

Selasa, 26 Agustus 2008 , 11:47:00
*Lima Tahun, Ratusan Warga Trans Pangmilang Menangis*
<http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=5466#>

 Singkawang, Lima tahun menjadi waktu suram nan penuh penderitaan bagi 450
warga transmigrasi Pangmilang. Mereka hidup serba tidak jelas dan nihil
perhatian dari Pemkot Singkawang, pemerintah provinsi maupun instansi
terkait. Lahan usaha yang menjadi hak hanya bohong belaka. Bahkan surat
keputusan pengesahan status transmigrasi juga tak kunjung selesai.

"Lima tahun lamanya kami menangis. Cobalah dinas terkait bertanggungjawab
dan jangan memberi laporan bohong kepada wali kota," tandas Suparlan juru
bicara ratusan warga transmigrasi Pangmilang yang hadir berunjuk rasa di
Aula Pemkot, Senin (25/8) siang.

Transmigran asal Pulau Jawa yang terdiri dari balita, ibu dan kakek-kakek
datang dengan kendaraan oplet carteran maupun sepeda motor. Tujuan utama
bertemu dengan Wali Kota Singkawang Hasan Karman SH MM. Hanya saja, wali
kota tengah keluar kota hingga aspirasi sepenuhnya diterima Wakil Wali Kota
Singkawang Drs H Edy R Yakoub MSi. "Persoalan ini sudah karatan dan menjadi
benang kusut yang menguaraikannya saja sangat sulit. Dan perlu dicamkan,
banyak juga yang berkepentingan di sini. Namun subtansi permasalahan sudah
kami terima dan segera ditindaklanjuti," tandas Edy.

Lebih jauh Wakil Wali Kota memastikan memandang serius perjuangan para warga
transmigran Pangmilang. Berhubung perjuangan mereka juga sangat serius.
Bahkan dia juga meminta para korban yang paling mengerti persoalan turut
membantu menyumbangkan pemikiran. Sehingga ada jalan keluar dan dengan data
akurat semua menjadi tuntas.
Awalnya, para demonstran bersikeras bertemu dengan Wali Kota. Bahkan
mengancam akan tidur di halaman Pemkot Singkawang sampai Hasan mau menemui
dan mendengarkan penderitaan mereka. "Tak masalah mau tidur di sini. Hanya
saja apakah tidak membebani yang lain. Silahkan bentuk perwakilan untuk
menyampaikan aspirasi kepada wali kota secara langsung. Dan pertemuan akan
dijadwalkan," tandasnya.

Setelah ada kesepakatan, sesepuh para transmigran yaitu Nazamuddin
menyerahkan secara langsung blanko berisikan permasalahan dan aspirasi
kepadaWakil Wali Kota. "Wali Kota dan Wakil Wali Kota sama figurnya. Kami
yakin dan percaya usai dialog ini semua permasalahan akan dituntaskan sampai
selesai," ujarnya.
Senada, Suparlan menyatakan sejak dahulu sudah menyampaikan penderitaan
warga transmigrasi Pangmilang kepada Wali Kota terdahulu. Baik secara
langsung maupun dengan surat. Hanya saja sesalnya, tanggapannya nol besar
alias kosong. "Kami tidak harus mendapatkan tanah kalau itu tidak ada. Hanya
saja, mengapa kami dimintai ijazah oleh pemerintah dan dikirim ke Pangmilang
bila tanah tak ada. Jadi kami mau dikemanakan," sesalnya.

Suparlan mengingatkan kepada pemimpin Singkawang yang baru agar pada masa
mendatang tidak menyelesaikan persoalan tersebut dengan pola-pola lama.
Sehingga warga transmigrasi Pangmilang terus menerus menangis. "Kemarin,
land clearing semerawut, demikian juga pengkavlingan membuat pusing. Dana
anggaran 2003 untuk pembebasan lahan tak jelas dan bermasalah. Mengapa dinas
terkait kerja seperti ini," cecarnya.

Secara terbuka, Suparlan menyatakan para warga transmigran tidak
menginginkan gesekan dengan warga setempat. Terlebih sampai bermusuhan.
Mengingat warga Pasi yang lebih dahulu tinggal di Pangmilang kebanyakan
merupakan orang tua mereka. "Seperti janji awal, setiap satu kepala keluarga
(KK) transmigrasi, baik lokal maupun pendatang mendapat lahan sebanyak 1
hektare. Karena di Pangmilang ada 450 KK, maka jumlah lahan usaha seharusnya
sebanyak 450 hektare," timpalnya.
Kalaupun ada warga yang menghibahkan tanah dan kembali ke Jawa, Suparlan
melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada Pemkot. Yang tidak menempatkan
petugas lapangan guna memberi pengarahan. "Kami tidak punya gaji bulanan.
Besarnya penderitaan mendorong sebagian istri kami berangkat ke Malaysia.
Bahkan terpaksa meninggalkan daerah transmigran untuk bekerja di kebun orang
sebagai upahan," beber Suparlan.

Seandainya pejabat dinas terkait respons, Suparlan memastikan para
transmigran tidak perlu berdemonstrasi. "Mana tanggungjawab provinsi. Banyak
anggaran di sana yang seharusnya untuk transmigran, namun raib entah ke
mana," serunya. (man)

Kirim email ke