SINGKAWANG—Ratusan siswa SMK 1 menyerbu Dinas Pendidikan Kota
Singkawang, kemarin pagi. Mereka mengadukan tentang kenaikan iuran
komite sekolah yang dirasakan memberatkan.  Menurut siswa, kenaikan
iuran komite sekolah ini terjadi lantaran dana operasional sekolah
yang dianggarkan pemkot dalam APBD 2008 tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan sekolah mereka.

Karena itu, mereka juga menuntut supaya dana ini lebih ditingkatkan.
Siswa SMK 1 yang terdiri atas siswa kelas I, II dan III itu menyerbu
Dinas Pendidikan sekitar pukul 10.00 WIB yang notabene masih jam
belajar. Mereka beriringan dengan sepeda motor dan masih menggunakan
seragam sekolah. Menurut Ibnu, salah seorang siswa, sebetulnya unjuk
rasa ini sudah mereka lakukan sejak sehari sebelumnya di internal SMK
1. Unjuk rasa ke Dinas Pendidikan hanya sebagai tindak lanjut dari
keterangan yang mereka terima dari pihak sekolah.

Namun dia mengakui bahwa tidak semua siswa ikut aksi. "Ada juga yang
tetap belajar di sekolah, terutama anak-anak kelas I," katanya yang
ketika itu didampingi oleh Paryadi, rekannya. Dari keterangan para
siswa, para guru tidak keberatan dengan aksi ini. "Malahan mereka yang
mengarahkan kami kesini," ujar seorang siswa lainnya. Di saat
demonstrasi berlangsung, siswa berkumpul dan menyampaikan aspirasinya
tepat di depan pintu masuk Gedung Dinas Pendidikan. Sejumlah aparat
keamanan dan pol pp berjaga di lokasi dan ada beberapa pejabat yang
menemui siswa.

Empat perwakilan siswa yaitu Satriadi, Noviandi, Wahyu dan Teguh
kemudian diajak berdialog di Aula Diknas. Menurut mereka, iuran komite
sebelumnya hanya Rp70 ribu per bulan, tetapi kemudian dinaikkan
menjadi Rp110 ribu (khusus kelas I, dari Rp80 ribu menjadi Rp120
ribu). Bahkan kenaikan itu dianggap telah dilakukan secara tiba-tiba
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Dalam kesempatan ini, siswa juga mengeluhkan tentang ketersediaan
fasilitas di SMK 1 yang masih kurang, alat-alat untuk praktik dan
sarana pendukung lainnya. Mereka merasa dianaktirikan karena perlakuan
yang diterima jauh berbeda dari SMA.

Demo Tanpa Izin

Ketika dialog berlangsung, tiba-tiba Aula Dinas Pendidikan dimasuki
oleh beberapa aparat kepolisian, salah satunya Kepala Sentra Pelayanan
Keamanan (Ka SPK) AIPTU Joni. Dialog otomatis terhenti sejenak. AIPTU
Joni mengatakan, para siswa melakukan aksi demonstrasi ini tanpa
didahului oleh pemberitahuan atau permohonan izin dari pihak kepolisian.

"Sebetulnya siapapun sah-sah saja kalau mau demo atau menyampaikan
aspirasi, asal tidak melakukan tindakan anarkis," katanya. Namun,
diharapkan sebelumnya ada pemberitahuan kepada kepolisian. Hal ini
penting agar pihak polisi dapat mengambil langkah antisipasi,
menyiapkan personil demi keamanan dan ketertiban.  "Siapa yang
bertanggung jawab dalam aksi ini," tanyanya. Para siswa serentak
menjawab, "semua pak". Menyadari kekeliruannya, siswa lalu
menyampaikan permohonan maaf kepada aparat. Tak lama kemudian,
penyampaian aspirasi pun tuntas dan rombongan siswa kembali pulang ke
sekolahnya.(rnl)

SUMBER : www.pontianakpost.com

Kirim email ke