Sabtu, 06 Desember 2008 , 12:08:00
*Ricuh Patung Naga Singkawang*
Dua Kelompok Massa Nyaris
Bentrok<http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=6899#>

 Kerumunan warga memenuhi perempatan Jalan Niaga dan Kempol Mahmud guna
menyaksikan aksi pembongkaran patung naga, Jumat (5/12) siang.
Pembangunan patung di fasilitas umum memicu konflik. Isu agama merembes
masuk. Simbol estetika kota pariwisata bercampur politis.

Singkawang. Gara-gara pembangunan Patung Naga di perempatan Jalan Niaga dan
Jalan Kempol Mahmud Kota Singkawang, dua kelompok massa nyaris bentrok,
Jumat (5/12) kemarin. Polisi bertindak cepat, bentrokan bisa dihindari.
Pembangunan Patung Naga untuk sementara dihentikan.

Ketegangan berawal dari rencana Front Pembela Islam (FPI), Front Pembela
Melayu (FPM) dan Aliansi LSM Perintis Singkawang ingin merobohkan patung
naga usai salat Jumat, kemarin. Mereka mendatangi tempat Patung Naga yang
belum selesai dibuat itu. Aksi ini mengundang ribuan warga dari penjuru Kota
Singkawang dan sekitarnya untuk menyaksikan rencana merobohkan patung
tersebut.

Massa dari berbagai elemen mulai berdatangan dan memadati teras ruko di
sekitar TKP sejak pukul 11.00. Mereka langsung membuat pagar betis
mengelilingi Patung Naga itu. Pihak Polres Singkawang di-back up Kompi I
Pelopor Brimob langsung mengamankan situasi.

Puncak konsentrasi massa yang sempat melumpuhkan arus lalu lintas itu
terjadi ketika rombongan FPI, FPM dan Aliansi tiba mengendarai pick up
dilengkapi sound system serta poster bertuliskan aspirasi. Hanya saja di
perempatan Jalan Sejahtera, iring-iringan massa ini dihadang Pasukan Huru
Hara Brimob yang menggunakan tameng, rotan dan senjata laras panjang.

Blokade aparat dan kerumunan massa yang membuat pagar betis semakin
menghambat pergerakan rombongan yang hendak membongkar patung naga setinggi
lima meter tersebut.
Di sela-sela usaha menerobos blokade, orator FPI meneriakkan tuntutan dan
unek-uneknya. Mereka secara tegas meminta penghentian dan pembongkaran
patung naga. Alasannya, belum memiliki izin dari instansi terkait, menyalahi
peraturan dan berada di tengah-tengah ruang publik. "Seret dan proses hukum
pengusaha Benny Setiawan yang mendanai pembangunan," seru para pria
bersorban dan berkopiah tersebut.

FPI yang mencapai ratusan orang juga mendapat umpatan dan cacian dari massa
yang tidak dikenali identitasnya. "Ayo! Masuk kalau berani. Silakan
terobos," teriak sekelompok pemuda yang berbaju lusuh tersebut.
Mengantisipasi adu fisik dengan sigap aparat keamanan melokalisir dan
mengusir para pemuda yang bersuara lantang tersebut.

Sementara kelompok lain, terkonsentrasi di sekitar patung naga. Mereka yang
berjarak hanya lima meter dari patung naga antara lain Ketua III DAD
Singkawang Herman Buhing, anggota DPRD Bong Cing Nen dan Noreseng Yosef.

Karena tidak mengajukan surat pemberitahuan, Waka Polres Singkawang Kompol
Ridwansyah memerintahkan Aliansi LSM Perintis dan FPM membubarkan diri.
Sedangkan FPI bertahan hingga pukul 15.00 sesuai izin yang diberikan. Massa
mulai meninggalkan TKP sekitar pukul 14.30 setelah diarahkan petugas untuk
pulang. Masyarakat tidak hanya sekadar menonton dari jalan. Sebagian
bersusah payah mengabadikan momen langka tersebut dengan handy cam, telepon
selular dan kamera dari ketinggian ruko.

Setelah berkoordinasi dengan Polres Singkawang, Ketua DPW FPI Singkawang
Yudha R Hand bersama FPM dan Aliansi LSM Perintis menggelar pertemuan di
Kantor Pemkot Singkawang. Walaupun diminta untuk hadir, Wali Kota Singkawang
Hasan Karman berhalangan.

Demi kondusivitas Singkawang, akhirnya Polres memerintahkan penghentian
sementara pembangunan patung naga di persimpangan Jalan Kempol Machmud-Niaga
Singkawang. Karena nihil kesepakatan dan keputusan tertulis dari Pemkot dan
para demonstran, pertemuan akan dijadwalkan kembali. Dari Pemkot tampak
hadir Asisten Kebijakan Pemerintahan Sofyan Fachri, Kadis Perhubungan
Yohanes Urip, Kadis Tata Kota Agus Arifin  dan Kadis PU Sueb A Hamid.

Sekjen Aliansi LSM M Syaifuddin menyatakan telah melaporkan donator
pembangunan patung naga Beny Setiawan terkait pengrusakan fasilitas umum.
Senada dengan itu, Yudha menolak tegas pembangunan patung naga di fasilitas
umum. Sebaliknya, memberi toleransi di rumah ibadah.

"Demi keamanan, terpaksa pembangunan patung naga dihentikan sementara. Dari
hasil pembicaraan Kapolres AKBP Parimin Warsito dengan Beny Setiawan
akhirnya disepakati untuk dihentikan," ujar Kasat Reskrim Polres Singkawang
AKP Sarjono SH.

Sementara itu, di tempat terpisah Ketua DAD Singkawang Aloysius Kilim
menyatakan, mendukung penuh pembangunan yang digagas pemerintah. Keamanan
diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian dan TNI. "Pernyataan sikap ini sudah
melalui rapat pengurus DAD," ungkapnya.

Patung naga menurut salah satu warga, Arnol Madasahar sebuah karya seni yang
dihasilkan kebudayaan manusia dan setara dengan karya lainnya. "Lebih baik
kita saling mawas diri dan saling berkomunikasi demi tatanan kehidupan
masyarakat plural yang harmonis, berbudaya dan bermartabat," tukasnya.

Polemik pendirian patung naga di tengah kota sudah dua kali terjadi di
Singkawang. Pada tahun 2002, duet pengusaha Beny Setiawan dan Iwan Gunawan
juga gagal merealisasikan pembangunan patung naga karena penolakan massa.

Naga sebetulnya telah sering dijadikan sebagai ciri khas Kota Singkawang.
Event sepak bola antar klub se-Kalbar saja menggunakan nama piala naga. Klub
sepak bola Singkawang (Persiwang) pun berjuluk 'ksatria naga'. Dalam
karnaval juga sering dimunculkan festival naga dan lainnya.

Dari pantauan Equator, di perempatan Jalan Niaga dan Kempol Mahmud pada
Jumat malam semua telah berjalan normal dan lancar. Seluruh masyarakat sudah
beraktivitas dengan normal. "Masyarakat Singkawang haus hiburan sehingga
berbondong-bondong menyaksikan rencana merobohkan patung naga," beber
Aktivis Gemawan Kalbar Agus Sutomo mengomentari fenomena membanjirnya ribuan
massa yang terkonsetrasi. (man)

Kirim email ke