Singkawang Tujuan Wisata Utama di Kalbar

Euodia Suryani
Borneo Tribune, Pontianak

Patung naga di Kota Singkawang yang ingin dirobohkan menimbulkan pro dan
kontra. Satu sisi, masyarakat ada menilai bahwa patung naga adalah simbol
seni, tetapi bagi yang kontra memandang patung naga tersebut sebagai simbol
etnik tertentu dengan tidak memandang etnik lainnya di Singkawang.

Anthony Runtu, Kepala Museum Kalbar, melihat peristiwa yang terjadi di
Singkawang, mengatakan bahwa pengagas patung naga tersebut sebagai karya
seni. "Namun kalau sampai ada yang tidak setuju, setidaknya diharapkan
dipikirkan ulang," ujarnya.

Ia sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Ia sendiri melihat kondisi
Singkawang bisa dikawasan tujuan wisata utama di Kalbar. "Suatu patung bisa
menjadi karya seni, sah-sah saja kalau dibuat," lanjutnya.

Bila dibuat patung lain yang disetujui semua pihak lebih baik lagi.
"Sebenarnya potensi sangat besar karena didukung oleh lingkungan dan dengan
kondisi yang terbentuk secara alami pula," katanya.

Ia bahkan berani mengatakan bahwa Kota Singkawang sebagai Hongkongnya
Indonesia. "Banyak orang yang mengatakan seperti itu, tentunya ada alasan.
Alasan yang utama adalah kota tersebut identik dengan budaya Tionghoa,"
katanya.

Sebetulnya lanjut Anthony, Kota Singkawang punya banyak julukkan, tapi yang
lazim di dengar adalah kota seribu kuil atau kota amoy, kota klenteng yang
sepertinya menjadi brand, yang laku dijual.

"Ada ikon lain yang bisa ditonjolkan bila ingin menonjolkan Singkawang
menjadi Hongkongnya Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan patung etnik yang berada di depan Gajahmada Mall yang
menggambarkan ciri khas tiga budaya yang ada di Kalbar.

Ia mengakui bahwa patung-patung di Kalbar sangat sedikit oleh karena itu ia
mendukung pembuatan patung-patung apalagi patung budaya. "Di setiap
persimpangan Kota Singkawang, kota wisata bisa patung etnik yang
melambangkan keharmonian penduduk setempat," jelasnya.

Menurutnya bisa saja patung abstrak yang memiliki unsur seni dan bisa
menjual pariwisata. Nilai jual patung budaya seperti orang yang sedang
kecapi ataupun patung selamat datang di titik tertentu, bisa menarik untuk
dilihat.

Seperti di Bali, di tempat tersebut dapat meramu budaya dan etnik tertentu
menjadi ikon pariwisata yang menarik.

Ia juga melihat potensi lainnya dari Singkawang yaitu potensi pasar Hongkong
yang ada di Singkawang. "Mengapa pasar Hongkong yang di Singkawang dan sudah
menjadi trademark, tidak dikembangkan lebih baik?" tanyanya.

Pada hari-hari tertentu jalan-jalan bisa ditutup untuk kendaraan sehingga
orang dapat leluasa berjalan dan berbelanja dan pasar tersebut dapat
dijadikan sebagai pusat jajanan kuliner.

"Kalau pagi atau siang wisatawan dapat ke pantai, sedangkan malam Pasar
Hongkong ini dijadikan pusat jajanan kuliner yang menarik," sarannya.

Ia mencontohkan makanan tradisional yang hanya terdapat di Singkawang
seperti kangkung bumbu kacang dan sotong dan makanan ciri khas lainnya.

Bahkan ia melihat rumah-rumah tua disana bisa dijadikan museum, sehingga
ketika orang datang dapat langsung merasakan dan melihat ciri khas dari
Singkawang tersebut. "Kebiasaan dalam bersepeda yang pernah menjadi budaya
di Singkawang beberapa tahun lalu, sangat bagus untuk dijadikan suatu
kebiasaan lagi di Kota Singkawang tersebut," katanya.

Obyek wisata juga perlu ditata lebih baik, serta imbauan kepada masyarakat
agar mempersiapkan diri juga diperlukan dalam rangka mempersiapkan Kalbar
pada tahun 2010 sebagai kota tujuan wisata.

"Para pedagang juga perlu diajarkan untuk menyadari bahwa objek wisata
penting sehingga harus memelihara kebersihan dan menata pedagang kecil lebih
tertib. Untuk menuju kesana, perlu kerjasama dan dukungan semua pihak agar
tujuan wisata dapat tercapai," imbuhnya.

http://borneo-tribune.net/2008/12/14/singkawang-tujuan-wisata-utama-di-kalbar/

Kirim email ke