Dear Eugenia,Saya menemukan negeri ini punya
relasi yang sangat erat dengan yang namanya siklus. Dari kitab-kitab kuno zaman
Majapahit saja sudah terdapat kata yang dalam bahasa Sanskret disebut Kaliyuga,
Kertayuga, dan Kalakerta sebagai sebuah siklus sejarah. Ada siklus 100 tahun
dinasti kerajaan di
nusantara di zaman dahulu kala. Lalu ada yang namanya siklus fundamental 20-30
tahunan sejarah Indonesia dari zaman Budi Utomo sampai Reformasi. Ada juga
siklus sosial ekonomi 10 tahunan dari pemberontakan, resesi, sampai
kerusuhan.Lalu di zaman sekarang,
keadaannya semakin menjadi-jadi, sampai-sampai bencana pun bisa disikluskan.
Pertama tentu yang terkenal adalah siklus meletusnya Gunung Merapi. Lalu yang
sekarang sedang hangat diperbincangkan tentang siklus banjir yang sebentar lagi
mudah2an akan terjadi di Jakarta. Saya senang suasana banjir di Jakarta, karena
itu adalah pertanda libur. Terus yang lebih parah ternyata ada juga yang
namanya siklus tsunami. Bayangkan, bukannya memecahkan persoalan-persoalan
tersebut, tapi malah memasrahkan diri untuk menghadapinya, seperti sedang
menunggu Tahun Baru saja. Siklus-siklus yang aneh.Dan belakangan secara tak
sengaja
saya menemukan satu lagi siklus aneh bulan Agustus kemarin. Yaitu yang bisa
diberi nama siklus hari merdeka. Siklus ini terselubung setiap tahun. Beberapa
tahun belakangan ini, dalam suasana 17an saya sering melihat dan mendengar di
televisi tokoh-tokoh masyarakat muda maupun tua yang mengatakan “Sudah saatnya
kita berbuat sesuatu untuk bangsa ini”. Memang rasanya sangat bersemangat
mendengar kata-kata itu. Suasana patriotik sangat terasa seperti baru merebut
medali emas olimpiade saja. Tapi setelah itu seperti biasa, angin berlalu lagi.
Tahun depan saya yakin akan mendengarnya lagi.Apa saja bisa disikluskan.
Benar-benar zaman yang aneh. Sama seperti yang telah diramalkan oleh Jayabaya.
Dan coba tebak, ternyata bahkan Jayabaya pun pernah meramalkan tentang siklus
zaman di nusantara. Dan yang menarik lagi, ternyata di Singkawang juga telah
ditemukan 1 siklus aneh yang baru seperti ini. Dan sepertinya akan bertambah
lagi siklus-siklus aneh yang lain.Ngomong-ngomong emailnya bisa
disave, jadi tahun depan mungkin bisa dikirim lagi, soalnya terkena dampak
siklus.
Ngomong-ngomong soal Tao, dan
soal kebebasan beragama dalam sekularitas, di era demokrasi babibuta seperti
ini, mungkin para penganut Taoisme perlu tahu atau sedikit berlapang dada,
bahwa Lau Tse, bapak dari Taoisme, pelopor Taoisme, pengajar Taoisme pertama di
dunia, setau saya sebenarnya bukanlah seorang penganut demokrasi yang penuh
kebebasan liberalis seperti itu.Lau Tse pernah mengatakan bahwa
memimpin/memerintah, adalah sama seperti memasak seekor ikan kecil. Terlalu
banyak tangan yang memasaknya justru akan menghancurkannya. Terlalu banyak
kebebasan justru akan menghancurkan pemerintahan itu sendiri. Di saat kita
berada dalam pusaran krisis kepercayaan dan loyalitas seperti ini, sayangnya
justru kita harus menelan demokrasi yang sarat dengan kepercayaan itu. Apa
boleh buat, kita sudah memilih. Dan tentunya ada konsekuensinya.
Contohnya saja kasus patung naga
beberapa waktu lalu yang saya pikir terjadi dengan sangat norak sekali di
Singkawang. Itu hanyalah salah satu konsekuensi dari demokrasi. Dan kita harus
belajar untuk membiasakan diri.Jadi mau memilih Tao atau Demokrasi ?
atau memilih Tao yang demokratis ? ah sudahlah.Hakikat demokrasi mungkin
bukanlah mengajarkan kita untuk selalu membabibuta memperjuangkan apa yang
menjadi hak dan kebebasan kita, tetapi juga mengajarkan kita untuk menerima apa
yang telah kita perjuangkan itu, dengan cara mengikuti aturan dari pemerintah
yang secara tidak langsung, dibuat oleh kita sendiri, yang tak lain dan tak
bukan, merupakan hasil dari demokrasi atau kekuatan suara rakyat itu
sendiri.Dan ternyata demokrasi pun adalah
sebuah mata rantai siklus, tentang sebuah masa yang memperjuangkan kebebasan,
lalu menerima konsekuensi dari kebebasan yang telah diperjuangkan itu.
Best Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Wed, 7 Jan 2009 21:34:06 -0800
Subject: Re: Bls: [Singkawang] Ratusan Tatung Sepakat Tolak Intervensi
Polemik Cap Go Meh? Tidak ada yang baru nih? Tidak ada yang lebih
Seru?
Tapi unik juga sih Budaya atau tradisi Cgm di Singkawang :), pembukaannya pasti
dihidangkan dg dengan polemik, itu menu pembuka doang, menu pokoknya nanti
adalah Perayaan Cgm yang katanya ramai dan sukses, trus menu penutupnya adalah
Penuntutan ketransparanan dana atau laporan keuangan. Setelah itu Ketiduran
lagi karena sudah kenyang dengan menu-menu yang dihidangkan.
Tunggu setahun kemudian, setelah segala lemak dari hidangan tersebut terbakar
habis maka mereka akan terbangun lagi dan mencari hidangan-hidangan tersebut
lagi, Menu pembuka = Polemik - Menu Pokok=perayaan Cgm - Menu Penutup=
Penuntutan laporan keuangan Trus ngorok kekenyangan lagi.
Bosen , Basi boooo... :)
Kalau boleh tau sebenarnya Perayaan Cgm itu dirayakan oleh siapa ya?
1. Tatung-tatung saja ?
2. Pemkot ?
3. Bong Wui Kong, Chai Ket Khiong dll?
4. Media Cetak?
5. Ketua Panitia CGM?
6. Atau masyarakat Singkawang ?
Saran saya, selesaikan dengan baik, jangan mencari sensasi lewat media massa
apalagi terprovokasi oleh orang-orang yang ingin mencari berita dengan
menyulutkan polemik yang ada :)
Ini hanyalah pendapat pribadi saya yang sudah bosan, eneg dengan Polemik CGM.
Salam
Eugenia
_________________________________________________________________
Join the Fantasy Football club and win cash prizes here!
http://fantasyfootball.id.msn.com