Sayang, ini bukan di Kalbar
 

--- On Wed, 1/14/09, robi yati <[email protected]> wrote:

From: robi yati <[email protected]>
Subject: [Jalansutra] MENYUSURI "JANTUNG BORNEO" (bagian ke-2)
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 14, 2009, 3:28 AM






Menyusuri "Jantung" Borneo  
26 - 29 Desember 2008
(bagian ke-2)
 
27 Desember 2008: 
Setelah sarapan pagi dan menyelesaikan pembayaran hotel, kami
berangkat menuju Kumai. Sebelumnya, mampir dulu di warung
yang menjual nasi kuning yang cukup kondang untuk bekal makan 
siang. Lokasinya tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. 
Sewaktu menunggu pesanan makanan, ada sms masuk, menanyakan posisi
sudah berada dimana? Ternyata sms dari bapak Bowo pemandu wisata
yang akan menemani kami menelusuri Tanjung Puting. Pak Bowo wanti-
wanti kami harus sudah berada di dermaga tidak lebih dari jam 8 pagi
untuk mengejar feeding time. Setelah urusan pembelian nasi kuning 
beserta lauknya selesai, pak supir memacu kendaraan menuju Kumai. 
Perjalanan ke Kumai memakan waktu sekitar 30 menit. Kami diminta 
menuju kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting, pak Bowo sudah
menanti disana. Setelah saling memperkenalkan diri, langsung menuju
speed boat yang parkir di dermaga. Pak supir kami minta untuk 
istirahat selama kami melakukan  perjalanan seharian
di Tanjung Puting. 
 
PESONA ALAM TANJUNG PUTING:
 
Taman Nasional Tanjung Puting seluas 405 ribu hektar ini,
merupakan kawasan konservasi yang penting untuk melindungi satwa
langka seperti Orangutan, Bekantan, Owa-owa, dan lain-lain. Taman 
Nasional ini merupakan rumah bagi berbagai macam jenis binatang, 
salah  satunya yang terkenal yaitu Orang Utan. Tanjung Puting juga 
kaya akan keanekaragaman floranya yang terdiri dari ratusan jenis 
pohon. Kawasan ini juga merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan
hujan tropika dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan mangrove,
hutan pantai di Kalimantan. Taman Nasional ini telah ditetapkan
UNESCO sebagai kawasan paru-paru dunia. 
Kawasan ini sangat terkenal di kalangan turis mancanegara 
terutama yang berasal dari negeri barat, tapi justru terdengar
asing di telinga wisatawan domestik. Ini kami  alami sewaktu 
kami utarakan maksud perjalanan menuju Tanjung Puting 
ke beberapa orang yang ditemui baik di Palangkaraya maupun dalam 
perjalanan menuju Taman Nasional ini. Pergi ke Tanjung Puting? 
Dimana letaknya? apa yang menarik disana? Sungguh ironis, 
masyarakat yang bermukim di wilayah yang sama saja tidak 
mengetahui, apalagi  masyarakat Indonesia lainnya yang 
tinggal jauh dari kawasan ini. Tanjung Puting sejatinya lebih 
dikenal di dunia  melebihi Kalimantan sendiri. Bahkan artis 
beken peraih Oscar Julia Roberts pernah berkunjung ke Taman
Nasional ini, malahan sempat bermalam selama beberapa hari 
dikawasan ini. Karena terpesona oleh keindahannya, sang bintang 
film Hollywood ini menjuluki Taman Nasional Tanjung Puting sebagai
"Taman Surga". Penasaran? Ikuti petualangan kami menjelajahi 
keindahan hutan hujan tropis dan kehidupan berbagai satwa selama 
sehari di Tanjung Puting. 
 
Sekitar pukul 8.10 WIB, speed boat yang kami sewa meninggalkan 
dermaga Kumai. Sebenarnya kami lebih memilih perahu klotok yang 
jalannya lebih pelan daripada speed boat, sehingga bisa dengan 
santai menikmati keindahan alam di sekitarnya. Sayang, hal ini 
tidak mungkin kami lakukan, karena hanya seharian di Tanjung
Puting. Untuk mengejar feeding time bagi para orang utan di tiga 
lokasi berbeda yang letaknya berjauhan, speed boat menjadi pilihan
kami. Waktu pemberian makan merupakan waktu yang tepat bagi 
pengunjung untuk menyaksikan tingkah polah mereka. Pengunjung bisa 
melihat dan memotret mereka dari dekat. Perjalanan menuju Tanjung 
Puting dimulai dari dermaga, langsung memasuki sungai Kumai. 
Selama lima menit pertama, pemandangan dikiri kanan sungai
terlihat rumah-rumah penduduk yang tinggal di pinggiran sungai 
tersebut. Setelah itu, berganti dengan pemandangan yang 
didominasi oleh air, air dan air. Tak berapa lama, kami memasuki
Sungai Sekonyer yang merupakan pintu gerbang menuju Taman
Nasional Tanjung Puting. Pemandangan di sepanjang sungai 
Sekonyer ini berganti dengan deretan tumbuhan dengan keragaman
vegetasi yang berbeda mulai dari nipah, bakung-bakung, pandanus
dan jenis vegetasi lainnya.  Dalam perjalanan, berpapasan dengan 
turis mancanegara yang menggunakan perahu klotok bertingkat 
dua lengkap dengan kamar tidur dan perlengkapan lainnya. 
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kami sampai di 
Camp Pondok Tanggui. Waktu pemberian makan untuk orang utan di
tempat ini dilakukan pukul 9 pagi. Kami bergegas menuju 
lokasi pemberian makan yang letaknya di tengah hutan. 
 
Jadi "turis asing" di negeri sendiri.
 
Berbeda dengan orangutan di Nyaru Menteng, orangutan di Camp 
Tanggui ini tidak ditempatkan di dalam kandang, tetapi sudah
dilepas di hutan kawasan Tanjung Puting. Bila saat pemberian 
makan tiba, mereka berdatangan ketempat ini. Sewaktu kami tiba, 
sudah ada beberapa turis asing asyik menyaksikan beberapa orang
utan sedang makan pisang dan minum susu yang disediakan oleh
petugas. Setelah tengok kanan dan kiri, ternyata hanya kami
bertiga yang merupakan turis domestik, selebihnya turis dari 
mancanegara. Rasanya seperti "turis asing" di negeri sendiri. 
Pagi itu terlihat orangutan  bernama Linda beserta anaknya
sedang menikmati pisang. Di tempat lain, yang disangka Doyok, 
ternyata Gelombang tampaknya sedang "melamun" kira-kira sedang
memikirkan apa ya? komentar teman seperjalanan. Di tempat ini kami
menjumpai beberapa orangutan dewasa sedang menikmati makanan yang
diberikan oleh para petugas TNTP. Orangutan di kawasan Tanjung
Puting semuanya memiliki nama. Namanya pun kece-kece. Ada nama
Indonesia seperti Unyuk, Gelombang, Doyok, Kosasih, Tutut, Siswoyo 
tapi tak sedikit yang memiliki nama asing seperti Tom, Simon, Roger,
Princess dan sebagainya. Menurut pak Bowo, nama-nama tersebut 
sebagian diambil dari nama pengunjung yang tertera di buku tamu. 
Jadi jangan heran bila anda berkunjung kesini, ternyata nama anda
sama dengan nama salah satu orangutan. 
 
Asyik juga menyaksikan aktivitas dan tingkah laku hewan primata
tersebut. Beberapa orang turis yang membawa kamera langsung jeprat 
jepret mengambil gambar, sedangkan yang membawa handycam kelihatan
asyik bak kameramen televisi layaknya. Kami dibuat terkejut ketika 
akan memotret Linda, tiba-tiba dia berpose seperti seorang foto model.
Wuih, ternyata orang utan belajar dunia modeling juga. Tampaknya dia
sadar sedang menjadi obyek bidikan kamera para turis. Kami berada di 
tempat ini sekitar setengah jam, kembali ke speed boat untuk 
melanjutkan perjalanan menuju Camp Leakey.
 
Dalam perjalanan menuju dermaga, kami berbarengan dengan 
turis asal Canada dan Jepang. Dari hasil ngobrol, mereka
sudah berada di kawasan Tanjung Puting selama tiga hari 
lamanya. Bila malam tiba, mereka tidur di atas perahu klotok
sambil ditemani suara-suara binatang yang hidup di kawasan ini.
Mereka merasa senang bisa menikmati kehidupan hutan hujan tropis.
Suasana itu tidak mungkin mereka dapatkan bila mereka memilih
tidur di penginapan. Satu hal yang membuat mereka heran, selama
berada disini, tidak pernah bertemu dengan turis lokal. Kenapa 
tempat yang begitu indah dan populer di dunia, tidak menarik minat 
pengunjung lokal. Sebenarnya sudah geram sich.... please dech 
kami bertiga kan orang Indonesia, jangan-jangan mereka menganggap 
kami berasal dari negara tetangga. Sewaktu kami katakan
kami bertiga orang Indonesia, mereka surprise, ternyata
ada juga orang Indonesia yang berminat mengunjungi
Taman Nasional ini. Kami berpisah di dermaga dengan janji
akan bertemu lagi di Camp Leakey.
 
Perjalanan menuju Camp Leakey dengan speed boat ditempuh
selama satu jam lamanya. Bila menggunakan klotok akan memakan 
waktu 2 jam. Semakin jauh kita menyusuri Sungai Sekonyer
yang berkelok-kelok, kita akan menemukan keindahan alam lainnya.
Pemandangan di sepanjang perjalanan, sungguh membuat decak kagum.
Begitu indahnya alam yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada bangsa
ini. Tanpa terasa kami sudah sampai di dermaga Camp Leakey. 
Kedatangan kami disambut oleh Unyuk dan anaknya yang sedang duduk
santai di tangga dermaga. Melihat Unyuk, Pak Bowo bercanda, 
lihat tuch orang desanya sedang memasak di atas klotok, 
orang kotanya baru saja datang  dan disambut oleh orangutan.
ha...ha....ha. .. 
 
Camp Leakey selain berfungsi sebagai tempat untuk penelitian,
juga merupakan tempat rehabilitasi orangutan untuk dikembalikan
kehabitatnya di rimba raya Kalimantan. Dr. Birute Galdikas, 
peneliti orangutan berkebangsaan Canada yang meneliti hewan ini
sejak tahun 1971 yang mengangkat Orangutan Tanjung Puting dikenal
hingga manca negara. 
 
Dari dermaga, kami harus melewati hutan rawa sepanjang 200 meter
sebelum mencapai permukaan tanah. Kemudian kami melanjutkan
perjalanan menuju Information Center. Di tempat ini, kami menerima
penjelasan tentang Taman Nasional Tanjung Puting serta upaya 
perlindungan dan pelestarian Orangutan serta satwa dan tumbuhan
yang dilindungi di kawasan ini. Di salah satu ruangan terdapat 
foto-foto serta informasi mengenai satwa dan tumbuhan yang dilindungi.
Siang itu kami sempat menonton video yang berisi berbagai aktivitas
yang dilakukan di Taman Nasional Tanjung Puting. Di video ini 
terdapat rekaman saat Julia Roberts berkunjung ke TNTP. Tampak dia
begitu menikmati suasana di TNTP. Dalam salah satu tayangan, terlihat
bagaimana Julia Roberts begitu kaget ketika Kosasih yang pada saat itu
menjabat sebagai "Sang Raja Camp Leakey" mencoba untuk memeluknya.
Kabar terakhir, jabatan "raja" telah berpindah ke Tom yang telah 
berhasil mengalahkan Kosasih dalam berbagai pertarungan. Terlihat 
pula adegan Julia Roberts bersampan bersama Princess dimana yang 
mendayung sampan adalah sang orangutan. Princess termasuk orangutan
yang paling cerdas diantara orangutan lainnya, imbuh pak Bowo.
 
Waktu pemberian makan di Camp Leakey baru akan dilakukan pada
pukul 2 siang, sedangkan perut sudah keroncongan, akhirnya kami 
kembali ke speed boat untuk makan siang. Pengunjung dilarang makan
di dalam kawasan Camp Leakey karena bau-bauan tertentu bisa memancing 
orangutan untuk berbuat sesuatu, misalnya penyerangan. 
Sesampainya di dermaga, kami tidak mendapati speed boat yang kami
sewa disana. Untung kami bertemu lagi dengan Collin, Mike dan Andrew 
turis asal Canada yang kami temui di Camp Tanggui tadi pagi. Akhirnya
kami makan siang di perahu klotok mereka. Tampaknya mereka menikmati
hidangan masakan Indonesia yang disediakan oleh pemilik perahu klotok.
Dari mereka kami mendapat informasi mereka mengambil paket kunjungan
ke TNTP selama 4 hari termasuk sewa perahu, ijin masuk kawasan TNP
dan makan selama berada di kawasan ini. Bekal yang kami bawa dari
Pangkalanbun berupa nasi kuning dan lauk pauknya akhirnya kami nikmati
bersama mereka. Kalian beruntung datang hari ini, cuaca
hari ini cerah dibandingkan dengan hari kemarin dimana hujan
turun dengan derasnya ucap Mike. Kami jawab sebelum pergi ke tempat
ini kami berdo'a terlebih dahulu, makanya hari ini cuaca cerah. 
Setelah selesai makan siang dan kami akan beranjak menuju tempat
pemberian makan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Waduh koq
jadi begini ya, keluh Ery. Kami berhenti di salah satu shelter tidak
jauh dari dermaga, sambil menunggu hujan berhenti. 
(salam:yati/ besambung)
  
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

Kirim email ke