Saya berpikir, tiba-tiba darah saya terasa dingin dan
jantung saya serasa tercekat dan membeku memikirkan ini. Tapi ini hanya dugaan
saya saja sih.



 Apakah ini jangan-jangan adalah salah satu strategi dari
pemerintah daerah Singkawang sendiri ? menarik ulur kegiatan konstruksi dan
dekonstruksi problematika patung yang akan menjadi legenda ini, membuat
prosesinya menjadi serba tidak jelas dan komplikatif sehingga atensi kepadanya
membludak dan informasi yang menyimpan benih promosi menyebar hingga ke 
mana-mana.
Saya teringat beberapa waktu lalu beberapa situs, thread, dan topik tentang
Singkawang di ranah online dibanjiri oleh orang-orang dari berbagai lokasi
untuk mencari tahu tentang fenomena ini. Luar biasa. Rate dari beberapa situs
bahkan mencapai peak point seumur-umur. Dan beberapa rekor bahkan tercetak pada
rentang waktu itu.



 Bayangkan saja. Tidakkah kita menyadari perhatian terhadap
Singkawang akhir-akhir ini menjadi meningkat dikarenakan terjadi demo, aksi dan
kerumunan/keramaian massa yang cukup dramatis? mungkin baru ini kali pertama di
era modern pasca rezim orde baru ada lonjakan gairah massa yang seperti ini di
Singkawang. Bahkan beberapa kenalan saya yang non-Singkawang pun mempertanyakan
patung naga ini. Mereka ingin membaca beritanya, ingin melihat gambarnya,
bahkan berencana ke Singkawang buat melihat naganya. Gila. Tanpa disadari,
masyarakat “dituntun” ambil bagian, baik yang pro maupun yang kontra. Termasuk
yang sedang berada di dunia maya seperti ini. Orang-orang mulai berprilaku
seperti badut (maaf) sibuk memberi komentar, dukungan, penolakan, kritik,
bahkan hinaan dan ejekan. Hasilnya apa ? PROMOSI GRATIS !



 Seperti kata Peter Bynum, deskripsi dan dramatisasi dari
sebuah keadaan yang disajikan dengan bumbu emosionalitas terkadang lebih menarik
daripada fakta dan prediksi yang dinyatakan secara lugas, indeksial, dan
statistikal. Terkadang tingkat penerimaan dan rasionalitas masyarakat terhadap
sebuah fenomena juga dipengaruhi oleh pengetahuan/kapasitas kontekstual mereka
untuk menganalisa / mengolah informasi, sehingga tak bisa selalu dihitung
secara empiris dan indeksentris. Dan itu terbukti di sini. Sejujurnya saya
seperti sedang menonton film saja. Memang sih secara makro belum terlalu 
signifikan efek yang
terasakan di Singkawang, tapi terus terang, strategi seperti ini cerdik. Bahkan
kalau diperhatikan, hampir semua point strategi dari Sun Tzu mengajarkan
tentang penciptaan ilusi dan paradoks seperti ini. Apa mungkin saya terlalu
banyak menonton film perang ?



 Jika memang ini adalah salah satu strategi introduktif dan
promosi dari pemerintah, saya acungkan 4 jempol untuk mereka (bahkan 5 kalau
saya punya). Hebat. Kalau bukan, maka kita harus berterima kasih pada semua
pihak yang telah begitu baik hati mengambil peran dalam sebuah film epik
kolosal yang seperti sedang diarahkan oleh John Woo saja. Nanti kalau sudah tua
kita bisa bercerita kepada anak cucu kita bahwa dulu di kampung kita sempat
terjadi banjir 2 kali dalam sebulan, lalu ada keramaian dan aksi massa
serta  “bentrokan” dikarenakan hanya
oleh sebuah patung naga yang melegenda itu. Norak ya. Tapi biarpun norak, tetap
heroik kok ^^.



 Jadi apakah saya pro atau kontra ? apa arti patung ini ?
apa guna/manfaat patung ini ke depan ? apa efek keberadaan patung ini ke depan
? apa dampak negatif atau positif dari keberadaan patung ini ? jika modus ini
benar, saya rasa pada akhirnya semuanya hanya omong kosong saja.



 Lalu berbicara terlepas dari pro dan kontra serta ada atau
tidaknya manfaat patung naga itu. Saya pikir, layaknya sebuah struktur, apapun
itu, sebaiknya ada garis sempadan yang bisa memisahkan struktur itu dengan
jalur kendaraan. Layaknya halaman depan dari sebuah gedung, atau arkade ataupun
kaki lima pada ruko-ruko. Begitu seharusnya zoning patung ini diperhatikan.
Apakah ada ? dari overview yang terlihat sepertinya area persimpangan ini tidak
menyediakan tempat yang cukup luas untuk kebutuhan/program ruang seperti itu. 
Jadi,
apakah mungkin penempatan patung ini yang mungkin saja sudah berada pada site
yang tepat karena berada di tengah-tengah kota, namun sebenarnya tidak didukung 
oleh
kapasitas ruang yang memadai ? ini hanya dugaan saja.



 Saya khawatir pembangunan struktur seperti ini awalnya
sama sekali tidak didasari dengan konsep yang kuat yang bisa menjadi nilai
lebih / nilai jual di masa depan, baik dari segi etika maupun estetika tata
ruang kota, kecuali alasan memperindah kota dan mendukung pariwisata yang
terkesan masih absurd dan bayangan saya tidaklah terlalu kentara. Dengan 
demikian bisa saja patung ini hanya terepresentasi
sebagai sebuah realisasi prestisi dan ego yang eksesif dari para kapitalis
Singkawang. Kata Peter Eisenman, sebuah struktur tanpa konsep yang kuat, hanya 
akan
menjadi sebuah bentukan yang tak punya makna. Semoga saja bukan.









 PS : Orang Singkawang, jangan norak dong.
Regards.


_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke