Nonton Barongsai dan Ular Naga di PTC
/
Selasa, 10 Februari 2009 | 11:31 WIB
Oleh: SUSI IVVATYDari
tradisi China kuno berabad lalu, barongsai sampai ke Indonesia dan
terus memperluas dirinya hingga kini menjadi seni pertunjukan yang bisa
ditampilkan kapan pun. Barongsai yang dulu jadi simbol gengsi
perguruan, yang kalau beraksi bisa sampai bertempur beneran, kini
menjadi kian lucu.Atraksi barongsai dan liong, menurut sejumlah
sumber, sejatinya memiliki makna dan nilai yang sangat dalam. Karta
Lugina (81), sesepuh warga Tionghoa dan Persatuan Gerak Badan (PGB)
Bangau Putih (perguruan silat di Bogor), mengatakan, barongsai adalah
simbol gengsi sebuah perguruan silat.Menurut Oscar Kam Hok An
(58), pemilik klub barongsai Belpas (belakang pasar Jatinegara),
barongsai adalah ritual untuk mendatangkan kemakmuran dan kemaslahatan.
Adapun menurut Wakil Ketua Kelompok Barongsai Bio Hok Tek Tjeng Sin
Kebayoran Lama Teguh Atmadja, barongsai adalah kendaraan pada dewa.”Dasar
gerakan barongsai adalah jurus-jurus kungfu. Dulu orang harus punya
dasar kemampuan kungfu sebelum bermain barongsai. Masing-masing
perguruan lalu mengembangkan gaya,” kenang Karta.Keunggulan
sebuah perguruan silat ditunjukkan dari seberapa mahir mereka memainkan
barongsai. Karta ingat pada tahun 1950-an, Bangau Putih kerap diundang
ke acara Cap Go Meh di Kota, Jakarta. ”Kami bertemu dengan barongsai
dari perguruan lain. Kalau itu perguruan ’musuh’, kami harus siap
beradu kungfu,” terang Karta yang hingga tahun 1960-an masih aktif main
barongsai.Masa pelaranganSeperti kita
tahu, kesenian barongsai dan liong sempat ”hilang” selama masa Orde
Baru, 33 tahun mati suri. Waktu itu barongsai dimainkan secara
sembunyi-sembunyi, seperti kelompok Belpas yang hanya berani
mengelilingi pasar Jatinegara. ”Latihan pun sembunyi,” ujar Guntur
Santoso (50), pengurus Yayasan Vihara Dhanagun dan pemimpin kelompok
barongsai Naga Merah Putih Bogor.Kelompok liong-barongsai di
Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pada tahun 80-an juga pernah
menyembunyikan barongsai di rumah warga. ”Saat itu, papan nama Boen Tek
Bio diturunkan tentara,” kata Oey Cin Eng (70), sesepuh masyarakat
Tionghoa di Tangerang.Pelarangan ini sebenarnya terjadi juga di
China. ”Kalau di China karena ada revolusi kebudayaan, dan diizinkan
lagi hampir bersamaan dengan Indonesia,” ungkap Amin Kiat Harianto,
Ketua Harian Persatuan Liong Barongsai Bogor yang juga pemimpin
kelompok barongsai Grup Atraksi Seni Indonesia.Barongsai riuh
semenjak Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden
Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden No 14/1967 tentang
Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.Hingga kini,
kelompok barongsai makin banyak. Bahkan ada istilah barongsai ngamen,
yakni kelompok yang bermain hanya demi angpau.Jenis-jenisDari
asal-usulnya di daratan China, ada tiga jenis barongsai berdasarkan
wilayah, yakni Barongsai Utara, Barongsai Selatan, dan Barongsai
Peking. Karena di wilayah utara dingin, barongsainya penuh bulu. Daerah
selatan yang lebih panas didominasi oleh motif kain, sedangkan
Barongsai Peking kaya akan pernik hiasan. Barongsai Utara, menurut
Teguh dari Bio Hok Tek Tjeng Sin, berbentuk seram dengan mulut
melengkung seperti kucing, sedangkan Barongsai Selatan lebih lucu,
mulutnya lurus seperti bebek.Ada varian lain, yakni Kie Lin,
yang agak berbeda dari barongsai. Kie Lin memiliki sepasang tanduk
bercabang seperti rusa, bersisik seperti ikan, dan matanya seperti mata
kepiting. Kie Lin dikenal pula sebagai tunggangan dewa. ”Kie Lin hanya
ada satu ini di Indonesia,” kata Gunawan Rahardja, Ketua PGB Bangau
Putih Bogor.Jenis barongsai kini makin beragam, menyesuaikan
budaya setempat. Di Malaysia ada barongsai dengan kepala mirip kepala
naga dan bergerak meloncat-loncat di patok-patok besi. Di Semarang ada
barong yang bentuknya seperti topeng.Di Bali, dikenal Barong
Landung, yang menurut Pemimpin Sanggar Saraswati I Gusti Kompiang Raka,
karakternya mirip Barongsai Utara tetapi berjalan seperti ondel-ondel.
Barong Landung perempuan dinamai Jero Luh, berwarna putih dan bermata
sipit.Ada pula Barong Keket mirip singa, Barong Bangkung
menyerupai babi, Barong Kedingkling mirip kera, dan Barong Klutuk
dengan bulu dari daun pisang.”Percampuran Bali-China sangat kuat
di Bali, termasuk dalam barong,” kata Kompiang. Dan, untuk pertama
kali, atraksi Barong Landung tampil berbaur dengan barongsai pada
Festival Peranakan di Grand Indonesia, hingga 1 Februari 2009.Bagaimana
kisah Barong Landung? Dulu kala di utara Kintamani terdapatlah kerajaan
Panarojan. Sang Raja, Jaka Pangus, jatuh cinta kepada putri Tionghoa
bernama Kang Ching Wi. Ia ingin mengawini sang putri, tetapi aturan
melarang. Jaka Pangus dan sang putri pun melarikan diri ke Gunung Batur.Untuk
mengenang, masyarakat membikin patung Jaka Pangus dan putri Kang Ching
Wi. Konon, merekalah sang Barong Landung itu. (Dahono Fitrianto,
Lusiana Indriasari, FX Puniman)
sumber:http://oase.kompas.com/read/xml/2009/02/10/11312666/Barongsai.Memperluas.Diri