Jika boleh dikatakan secara vulgar, terlepas dari
korelasinya dengan agama ini atau agama itu, ritus-ritus kepercayaan seperti apa
yang dilihat di festival capgomeh itu pada dasarnya lebih mengarah ke tradisi
animisme
atau paganisme. Mau diakui atau tidak. Sebuah kepercayaan yang sebenarnya oleh
sebagian kalangan dianggap sebagai kepercayaan yang memang sudah ketinggalan
zaman atau tidak kontekstual lagi dengan konsep teologi modern. Dan inti
dari perdebatan tradisi capgomeh selama ini sepertinya adalah 2 hal ini. Antara
modernitas dan tradisionalitas.Kepercayaan seperti ini dulunya ada di seluruh
dunia.
Salah satu contoh yang cukup ekstrem diantaranya yaitu adanya jejak suku Maya,
Hopi, atau Aztec di pedalaman Amerika yang gemar memotong manusia untuk
dipersembahkan organ-organ tubuhnya pada dewa-dewa kepercayaan mereka, seperti
dewa matahari, dsb. Begitu juga tradisi suku Mesir Kuno, Masai dan Pygmy di
pedalaman Afrika yang hobi memasak, memasung dan menggantung manusia untuk
dipersembahkan pada leluhurnya. Dan itulah yang terjadi pada suku asli di
pedalaman Borneo sana. Hal ini bisa dibuktikan melalui beberapa kenyataan pahit
yang pernah terjadi beberapa waktu lalu ketika terjadi konflik primordialis dan
rasis di sana. Sudah bukan rahasia bahwa suku asli Borneo sudah biasa memancung
kepala musuhnya untuk dipersembahkan pada leluhurnya yang masih berimplikasi
dengan kerangka dan sistem kepercayaan mereka.Tradisi pagan di Borneo itu jika
dilihat secara wajar,
sebenarnya sudah cukup banyak terkikis oleh sapuan erosif dari modernitas yang
cukup revolusioner seiring dengan semakin berkembangnya peradaban manusia di
sana. Seiring masuknya pendatang, tradisi itu mulai ditinggalkan oleh sebagian
penduduk asli yang beralih ke agama Kristen dsb, sisa-sisanya akhirnya
berakulturasi
dengan budaya dan tradisi pendatang sambil terus bermutasi/hybrid sampai
menjadi kondisi yang sekarang kita lihat.Lalu apakah semua itu masih
kontekstual dengan dunia
kontemporer ? jika dilihat dari kaca mata para modernis, tentu sudah jauh
sekali.
Immanuel Kant pernah mengatakan, bahwa cara manusia memperlakukan binatang bisa
menjadi deskripsi tentang bagaimana mereka memperlakukan sesamanya. Saya yakin
Kant berkata begitu dalam konteks modern, modernism ala Eropa, yang telah
menjadi begitu modern dan terbuka untuk bisa meninggalkan
kepercayaan-kepercayaan kuno seperti itu. Lalu apakah kita bisa membandingkan
kata-kata Kant dengan tradisi animisme itu ? tentu tidak bisa juga. Akhirnya
kita nanti malah akan kembali lagi pada perdebatan antara tradisionalitas dan
modernitas
yang tak kunjung usai.Menurut saya, kampung kita Singkawang, sekarang tengah
berhadapan dengan buah simalakama yang penuh dengan aroma ironis, saya rasa
analogi ini adalah yang paling tepat menjadi gambaran ketika melihat Singkawang
dengan atraktifitasnya ini. Nilai jual dari festival capgomeh selama ini salah
satunya mungkin memang berasal dari atraksi-atraksi pagan seperti itu, yang
jika ditilik dari konteks modernitas yang kontemporer, sama sekali tak lagi
relevan, bahkan bahayanya, bisa mengindikasikan atau menjadi refleksi dari
kondisi mental/psikologis dari penduduknya yang dianggap masih belum beradab,
dianggap tidak ikut maju seiring majunya peradaban, dan akhirnya bisa saja
menyebabkan pandangan sinis dan remeh dari dunia luar. Tapi ya ampun, justru
itu nilai jualnya.Festival capgomeh tidak bisa dipungkiri hingga saat ini
adalah komoditas pariwisata paling berharga yang dimiliki kampung kita
Singkawang. Dengan punahnya berbagai kepercayaan animisme di berbagai belahan
dunia hingga saat ini, sampai berapa lamakah tradisi animis / paganis capgomeh
itu akan terus bertahan ? Saya juga tidak tahu. Bagaimana kita akan menjaganya ?
mungkin memang harus terus bertahan, bertahan sampai suatu saat nanti ada
komoditas penggantinya yang lebih manusiawi, lebih etis, lebih kontemporer,
lebih
kontekstual.Quo vadis ? apakah dari sini kita menginginkan suatu
perubahan ? bagaimana kita akan melakukan perubahan itu ? Apakah mereka yang
harus
berubah, atau justru kita yang harus berubah ? saya rasa perubahan selalu
identik
dengan pengorbanan. Seperti kata Niccolo Machiavelli, tak ada yang lebih susah,
lebih rumit, lebih komplikatif daripada memulai sebuah perubahan. Dan di
sanalah pengorbanan diperlukan. Tidak tahu apakah dogmanya yang harus
dikorbankan, atau roh-roh / spiritualitasnya yang perlu dikorbankan, atau
manusia-manusianya yang perlu berkorban, atau paradigma para modernis yang
perlu dikorbankan. Yang pasti harus ada yang berkorban. Namun tidaklah terlalu
penting tentang siapa yang akan berkorban.
Yang terpenting, saya rasa, adalah bagaimana kita akan menjaganya, menjaga
tradisi itu, agar tetap bertahan, sampai waktunya nanti. Sampai kapan, tidak
tahu.
Best Regards.
_________________________________________________________________
What can you do with the new Windows Live? Find out
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx