Selasa, 24 Februari 2009 , 08:28:00
Wisata Malam Singsel Diganti
Tak Ada Efek 
Negatif<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=15379#>

SINGKAWANG – Wali Kota Singkawang Hasan Karman mengatakan, wisata malam di
kawasan Kecamatan Singkawang Selatan tidak akan ditutup. Akan tetapi,
sambung dia, namanya saja yang akan diganti. Hal ini terkuak dalam rapat
Forum Struktur Kerja Perangkat Daerah Kota Singkawang di aula kantor Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Singkawang kemarin. Saat jeda
rapat forum SKPD tersebut, Hasan Karman dikonfirmasi wartawan menjelaskan,
papan nama wisata malam itu masih sulit untuk ditafsirkan, dan masih belum
pasti definisinya.

“Itu bukan ditutup, tapi papan nama yang ada tulisan wisata malam itu susah
mau menafsirkan wisata malam itu definisinya apa. Wisata malam dalam arti
sempit, ada warung-warung untuk minum (ngopi). Itukan tempatnya terbuka dan
ada pengawasan. Jadi itu wajar-wajar saja,” katanya kepada wartawan
didampingi Wakil Wali Kota Edy R Yacoub, Kepala Bappeda Singkawang Sumastro
dan Kabag Humas Protokol Setda Pemkot Singkawang Martinus Missa.  “Memang
harus ada pengawasan, tidak perlu di sweeping dengan cara anarkis, kan
terbuka dipinggir jalan. Masyarakat umum juga bisa melihat. Kecuali dia
terselubung, orang tidak tahu dan gelap itu mungkin negatif, sejauh ini kan
masih terbuka,” tambahnya.

Ia mengungkapkan lagi, sejauh masih terbuka dan memenuhi persyaratan dan
tidak menimbulkan efek negatif, hal itu dinilainya masih wajar-wajar saja.
Soal ekses dari tempat-tempat di lokasi wisata malam tersebut, jelas dia,
itu bisa saja terjadi di luar kendali dan pengawasan. Menurutnya, hal-hal
negatif, bisa saja terjadi dimana-mana, dan tidak hanya di tempat-tempat
seperti itu saja.  “Soal ekses, efek negatif, itu dalam apapun juga bisa
terjadi. Selingkuh itu ada ngga di lingkungan birokrasi, ada. Selingkuh ada
ngga dilingkungan lembaga keagamaan, ada. Bukan masalah tempat atau apa,
kalau saya bilang, itu usulnya papan nama, takut ditafsirkan negatif,”
katanya.

Menurut dia, konotasi wisata malam harus yang positif. Ia mencontohkan,
diskotik dan hotel-hotel berbintang sekalipun sama sekali tidak mengizinkan
adanya praktek-praktek negatif. Katanya, setiap pengelola misalnya untuk di
diskotik, tidak mengizinkan untuk penggunaan narkoba dan semacamnya dan
hotel tidak pernah melegalkan prositusi. Akan tetapi, sambung dia, jika
tetap ada excessnya, misalnya terjadi transaksi yang tidak ketahuan, ekses
itu diluar kendali.


“Tapi yang kita mau itu positif, papan untuk wisata malam itu diinformasikan
untuk daerah Sedau, positifnya saja seperti warung kopi, jangan ada hal-hal
yang negatif,” katanya.  Sumastro menambahkan, kebijakan pemberian papan
nama wisata malam saat itu, ingin membangun citra Singkawang sebagai kota
wisata. Hal itu, sambung dia, memberikan kemudahan akses informasi yang
cukup kepada para pengunjung kota Singkawang, khususnya dari luar daerah
maupun luar negeri.


 “Kita melihat ada satu fenomena, katakanlah ketika orang luar datang sore
hari, masuk hotel, terus nanya kalau malam aktifitasnya apa, bisa ndak saya
(turis) mendapatkan suasana duduk minum kopi, sentranya dimana. Seperti itu
jadi ide dasarnya itu memang diarahkan untuk ke hal yang positif, seperti
apa yang disampaikan oleh wali kota tadi,” katanya.

Ia menambahkan,  pemberian papan nama tersebut, tidak ada arahnya untuk
melegalisir sesuatu yang salah. Jadi, kata dia, format kebijakan pemkot
untuk membangun kota wisata itu terutama mengarahkan aktifitas malam hari
untuk wisatawan.  “Ketimbang begitu datang ke Singkawang masuk ke hotel,
check in  langsung tidur, lebih baik ke tempat yang tadi untuk santai
ataupun minum kopi. Secara terbuka (tempatnya) rasanya tidak melanggar
ketentuan,” jelas dia.


Menurut Hasan Karman lagi, nama wisata malam itu mungkin hanya untuk sekedar
daya tarik. Apalagi, kata dia, tempat itu terbuka dan tidak menyediakan
kamar-kamar untuk tamu dan para wanita. “Kuncinya itu, tempat hiburan,
tempat santai, tidak disediakan kamar.  “Mungkin itu hanya dibutuhkan
pengawasan saja. Turis kesini tidak langsung menghabiskan waktu untuk tidur
saja. Exces negatif bukan hanya disitu, dimana-mana bisa. Tergantung
masing-masing orang. Tidak semua orang datang untuk hal-hal yang negatif,”
katanya. (ody)

Kirim email ke